Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta SPM Group Online
1 Desember 2014 AMP Akan Turun Jalan di Jakarta
Tampilkan postingan dengan label aktisvis papua merdeka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aktisvis papua merdeka. Tampilkan semua postingan
Menuntut Mahasiswa Terus Aktif Menulis
Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta SPM Group Online
Ini beberapa dialog yang saya ikuti.
ZAMAN INI MENUNTUT MAHASISWA MENULIS
![]() |
| Bastian Tebai (foto Pdibadi fb) |
Oleh Topilus B. Tebai #
Ini beberapa dialog yang saya ikuti.
“Ah, sob, sa trada bakat di bagian situ jadi, kamu lanjutkan saja,” kata Mikha (bukan nama sebenarnya).
“Tra menulis juga kita hidup moo. Jangan saling paksa untuk menulis. Semua mahasiswa to, jadi atur masing-masing,” begitu komentar Jack (bukan nama sebenarnya) dalam sebuah diskusi soal tulis menulis.
“Kita itu bukan butuh orang yang jago tulis-tulis di media massa. Kita itu butuh orang yang kerja di lapangan, turun ke jalan,” kata seorang aktivis ketika seorang rekan mengajak penjelasan lisannya dituliskan dalam bentuk tulisan untuk ditawarkan kepada media-media online agar dibaca publik.
“Mantap. Tingkatkan adik-adik.” Itu saja komentarnya ketika ditawari membeli sebuah majalah yang dibuat oleh anak-anak Papua di tanah rantau dua hari yang lalu. Kakak itu bahkan tidak punya gairah untuk membeli. Jangankan membeli, membuka lembar demi lembar, sekedar untuk melihat pun tidak. Cover luar mungkin sudah cukup baginya.
Potongan-potongan dialog di atas saya kira telah mewakili sebagian kecil dari gambaran realita hidup mahasiswa Papua ketika bersentuhan dengan kalimat ‘tulis menulis’.
***
Ketika membuka facebook, saya dapati banyak mahasiswa Papua cukup up to date dengan perkembangan tanah Papua saat ini, perkembangan Indonesia dan dunia. Hal ini tercermin dari artikel dan berita yang dibagikan melalui facebookdan twitter.
Ketika membuka facebook, saya dapati banyak mahasiswa Papua cukup up to date dengan perkembangan tanah Papua saat ini, perkembangan Indonesia dan dunia. Hal ini tercermin dari artikel dan berita yang dibagikan melalui facebookdan twitter.
Mahasiswa Papua cenderung lebih suka membagi masalah-masalah hak asasi manusia seperti pelanggaran HAM di Papua, mengenai Persipura dan sepakbola, dan mengenai kekayaan alam Papua dan eksploitasinya.
Banyak mahasiswa Papua yang memaki, marah atas kekeliruan penulisan dan perekayasaan fakta di media-media nasional atas peristiwa-peristiwa -terutama yang bersentuhan dengan hak orang Papua untuk menentukan nasib sendiri- yang terjadi di tanah Papua. Mahasiswa marah karena tahu, fakta yang terjadi tidak seperti yang ditulis sang penulis.
Di beberapa tulisan yang dibuat oleh anak muda Papua, banyak dari kita yang terlihat cukup pandai dengan memberi komentar mengenai apa yang ditulis.
Beberapa dari kita merasa ‘nyaman’ dengan cukup menunggu artikel dan berita yang dihasilkan beberapa media online untuk kemudian dicopy paste ke blog milik pribadi dengan atau tanpa menyertakan sumber. Dari blognya, kemudian artikel itu dibagikan kepada publik melalui facebook dan twitter.
Di majalahselangkah.com misalnya, beberapa mahasiswa Papua mengirim tulisan yang cukup ‘wah‘. Setelah dilacak melalui internet, banyak tulisan yang ternyata adalah hasil copy paste karya orang lain. Ini plagiat. Bisa kena hukuman karena melanggar hukum.
Beberapa dari kita sibuk mengambil potongan-potongan kalimat dari beberapa tokoh orang Papua dan dibagikannya kepada publik, tanpa menilai dahulu apakah kalimat yang terucap dari sang tokoh masih relevan untuk dikonsumsi publik, cenderung ambigu bila dipotong dan disendirikan, sehingga apakah bertentangan atau tidak dengan eksistensi dan pendirian sang tokoh di tengah gejolak sosial politik ekonomi di Papua. Ini sepele, tetapi dapat mengubah mindset publik soal elektabilitas tokoh.
Sementara yang lain bahkan fokus hanya untuk kuliah. Hidup selama minimal 4 tahun kuliah hanya diabdikan untuk ke kampus, belajar, tidur dan makan, sehingga akhirnya lupa diri dengan tugasnya sebagai mahasiswa, menjalankan aspek lainnya dari Tri Dharma Mahasiswa.
***
Kondisi sosial-politik-ekonomi dan budaya di Papua dengan cepat berganti rupa. Zaman sedang bergerak. Perubahan sedang terjadi. Tahukah Anda kemana arah gerakannya? Bagaimana bila perubahan itu mengarah kepada kehancuran?
Kondisi sosial-politik-ekonomi dan budaya di Papua dengan cepat berganti rupa. Zaman sedang bergerak. Perubahan sedang terjadi. Tahukah Anda kemana arah gerakannya? Bagaimana bila perubahan itu mengarah kepada kehancuran?
Tugas mahasiswa Papua adalah mengarahkan perubahan itu ke arah yang baik. Menentukan arah yang baik dan yang tidak baik yang harus dijauhi juga adalah tugas mahasiswa. Mahasiswa bertugas mengobarkan api demokrasi dengan menjadi corong suara rakyat.
Saluran untuk itu semua yang paling baik adalah menulis. Dengan menulis, ide-ide konstruktif kita akan dikonsumsi publik, kritik dan pendapat kita akan mengawal pembangunan, tulisan kita menjadi corong suara rakyat. Mahasiswa mesti mengkritisi sistem dan birokrat yang kapitalistik dan cenderung pro pusat dan pemodal- bila itu memang terjadi.
Mahasiswa harus bangun dan mulai mengisi ruang-ruang yang disediakan media-media milik orang Papua dengan menulis. Mahasiswa harus sadar diri dan meningkatkan minat baca dan tulis.
Dan satu lagi, mahasiswa dituntut untuk sadar bahwa menulis itu proses, bukan bakat. Meminjam kalimat Yermias Degey, “Tak ada seorang ibu di dunia ini yang melahirkan seorang penulis”.
Mahasiswa dituntut sadar diri dengan statusnya sebagai mahasiswa, untuk kegiatan copy paste berita dan atau artikel dan posting ke blog pribadi karena hanya akan menjadi pupuk penyubur budaya malas tulis dan instan. Mahasiswa Papua dituntut menulis sendiri, dan tidak plagiat.
Mahasiswa Papua sebagai kaum terdidik mesti bangkit mendidik rakyat dengan menganalisa kondisi terkini dan ramalan akan hari esok, dan menyampaikannya dalam bentuk penyampaian lisan dan tertulis yang enak diterima.
Ini semua tugas kita, karena kita mahasiswa Papua sebenarnya punya kewajiban menjalankan jawaban dari pertanyaan ini: “Ingin dibawa kemana Papua ini?”
***
Zaman yang sedang bergerak menuntut mahasiswa Papua untuk menulis. Menulis apa yang dilihat, dialami, dirasakan, didengar. Menulis itu kegiatan reflektif. Kita dituntut banyak membaca.
Zaman yang sedang bergerak menuntut mahasiswa Papua untuk menulis. Menulis apa yang dilihat, dialami, dirasakan, didengar. Menulis itu kegiatan reflektif. Kita dituntut banyak membaca.
Bagaimana menulis? Banyak buku dan sumber yang dapat menjadi rujukan mahasiswa. Yang dibutuhkan mahasiswa adalah kemauan dan tekad.
Sudah saatnya kita dengan tegas mengatakan akan menegur para penulis berita dan artikel di media nasional yang menulis berita yang kita pikir direkayasa itu dengan menyajikan yang sebenarnya terjadi, dan bukan lagi dengan mengomentari singkat dan memaki di facebook dan twitter.
Ingat kata-kata Pramoedya Ananta Toer, “Jika umurmu tidak sepanjang umur bumi, sambunglah dengan tulisan”. Sejarah bangsa harus lahir dan diukir dan ditulis oleh anak bangsa sendiri.
Ini kata-kata Adolf Hitler, pimpinan Nazi Jerman pada Perang Dunia II, “Saya tidak takut pada ujung senjata. Saya hanya takut pada ujung pena.”
Topilus B. Tebai, Mahasiswa Papua, Penulis di majalahselangkah.com.
SUMBER : La Pago
MAHASISWA PAPUA ADALAH MOTOR PENGGERAK KEMERDEKAAN BANGSA DAN NEGARA
Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta WPNews - SPMNews Group Online
MAHASISWA PAPUA ADALAH MOTOR PENGGERAK KEMERDEKAAN BANGSA DAN NEGARA
Oleh: *Frans Pigai(**
![]() |
| Foto Frans Pigai (FB)** |
Mahasiswa menjadi sub bagian dari solusi
permasalahan jika terjadi masalah di negara ini.
Karena Mahasiswa diartikan sebagai Maha adalah kebesaran, siswa adalah orang
yang menuntut ilmu dalam sebuah pendidikan. Maka Mahasiswa merupakan orang yang
benar-benar menuntut ilmu dan tekun dalam proses pembelajarannya, karena
dianggap sebagai diri pribadi seseorang adalah Mahasiswa.
Dunia
pendidikan juga merupakan dunia pertarungan dalam kemampuan, di bidang-bidang
dalam berbagai ilmu yang di pelajari oleh Mahasiswa.
Dunia membutuhkan orang-orang yang bisa menyelesaikan persoalan dan bisa mengatur keseimbngan persoalannya, karena bukan dilihat dari gelarnya. Tetapi, orang-orang yang bertanggungjawab dan mengorbankan tenaga untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada dan terjadi dalam suatu proses perjuangan, berupa karya, tugas dan persoalan atau masalah terutama masalah yang terjadi antara masyarakat dengan pemerintahan, namun dengan cara untuk menyelesaikan mahasiswa sebagai pertanggung jawaban dalam persoalan tersebut, bertujuan untuk meraih keberhasilan dengan cara menyelesaikan permasalah yang terjadi di kalangan masyarakat dengan pemerintahan, bahkan dalam karya dan tugasnya.
Memetahkan persoalan menjadi kewajiban hidup bagi mahasiswa karena mahasiwalah yang mempunyai kewajiban untuk meluruskan jalur permasalahan yang terjadi dalah kehgidupan masyarakat dan pemerintahan.
Sebagai
mestinya juga mahasiswa adalah salah satu bagian dari komponen-komponen
masyarakat, untuk menjalankan kewajiban sebagai mahasiswa yang benar-benar
bertanggungjawab dalam kariernya.
Persoalan akan muncul jika manusia tidak menciptakan suasana yang aman. Maka untuk menciptakan kenyamanan manusia perlu sadari apa yang dilakukan itu benar atau baik karena kadang manusia selalu memunculkan persoalan-persoalan yang tidak diinginkan oleh orang lain, maka kita sebagai manusia yang berpendidikan, bagaimana cara untuk memetahkan ataupun menyelesaikan, bahkan mempelajari nilai kebaikan dan keburukan yang terjadi dalam kehidupan manusia.
Kita sebagai Mahasiswa, kita harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, karena waktu tidak akan kembali kedua kalinya, artinya bahwa waktu sangat berharga bagi kita sebagai manusia. Kadangkala manusia selalu menyia-nyiakan waktu dengan sebaik-baiknya, baik dalam karya dan tugasnya, bahkan dalam persoalannya, karena manusia tidak menggunakan waktu dengan sebaik mungkin bahjkan di sia-siakan waktu dalam karya dan tugasnya.
Maka, kita sebagai mahasiswa terpelajar marilah kita mempergunakan bahkan meluangkan waktu dalam karya dan tugas kewajiban hidup mahasiswa. Waktu juga menentukan dalam tindakan yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari untuk mencari nafkah atau kebutuhan hidup manusia. Waktu juga menetukan dalam proses perjuangan kemerdekaan bagi bangsa dan Negara.
Tingkat kapasitas dalam berkarya dan dalam tugasnya menentukan sebagai mahasiswa yang berguna bagi bangsa dan Negara ini. Kapasitas hidup bagi kehidupan mahasiswa papua menunjukkan bahwa mahasiswa mempunyai nilai pertanggung jawaban dalam persoalan yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Aktifis atau cara merebut peluang menunjukkan bahwa seseorang yang aktifis bisa menyelesaikan masalah yang akan terjadi di kalangan masyarakat maupun di kalangan pemerintahan. Setiap permasalahan Mahasiswa menjadi pokok bagian untuk merebut dalam artinya untuk menyelesaikan persoalan atau permasalahan yang terjadi di kalangan masyarakat dan pemerintahan. Entah itu, salah satunya permasalahan mengenai kemajuan bangsa dan Negara ini.
Pesoalan mengenai kemerdekaan, Mahasiswa menjadi penggerak dan solusi permasalahan utama dalam memperebutkan hak untuk menentukan keberhasilan dalam suatu persoalan, terutama dalam permasalahan kemerdekaan bangsa dan Negara.
Maka, kita sebagai mahasiswa papua marilah kita akan mempertahankan nilai-nilai kemajuan bagi bangsa dan Negara. Namun, dengan mewujudkan impiannya, kita sebagai manusia terpelajar mari kita memaknai arti penting proses perjuangan bagi diri pribadi seseorang dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan Negara.
Mr Alm's Life Journey Okto Parianus Kudiai Employee Until Activist Pro Free Papua
Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta WPNews - SPMNews Group Online
Background as an employee of PT. Freeport in Papua, but it has always been actively involved become easy Demand orator "closing the gold mines. He considered that PT. Freeport is to extend and the beginning of the destruction of the West Papuan civilians.
This brings confidence he left a job as kulih PT. Freeport Indonesia and ran as the release of thousands of people suffering from activists on the ground in West Papua.
Whenever orator "Indonesia, and the United States (through PT. Freeport) is a perennial for civilians musah West Papua".
Wages which he could also greater than the other workers. Wages are not a measure of his life but chose to liberate the human race activists malanesia nation in West Papua.
Greetings grief of a Papuan Students Alliance of Java.
"For us, you are a true activist for national liberation of West Papua, with your contribution to serve the people of West Papua basic tasks that you provide during your life be important for the history of the people of West Papua movement.
Now you go but with one of its own upon the success you've given your life is a struggle you always entailed for the National Liberation of the people of West Papua and Papua People's Liberation Issue usher out internationally.
Indeed, today we feel lonely, when we feel the loss we feel sorrow that sangad in, and with the departure is too fast, but we are aware under your departure into water droplets that are ready to fall and crush the giant bendugan. Your departure is a process for us that you leave.
Goodbye my friend I hope you calm in Nature there. We leave you will continue to fight for the people of Papua Nation membebasakan apart from the shackles of colonization Colonial Indonesia ".
3. KNPB activists - MEEPAGO PRD region in Nabire.
In 2012, after the murder of Mr. Moses Mako Tabuni general leader of West Papua National Committee (KNPB), he chose to go home in the village of birth in Nabire - Papua to work for human rights - civil rights of the people.
Approximately two years he worked as a sala - a field organizer Meepago Region KNPB - Nabire. There he kept the spirit to strive and build consolidation period to move the local civilians.
Mr Alm's Life Journey Okto Parianus Kudiai Employee Until Activist Pro Free Papua
Background as an employee of PT. Freeport in Papua, but it has always been actively involved become easy Demand orator "closing the gold mines. He considered that PT. Freeport is to extend and the beginning of the destruction of the West Papuan civilians. This brings confidence he left a job as kulih PT. Freeport Indonesia and ran as the release of thousands of people suffering from activists on the ground in West Papua.
Whenever orator "Indonesia, and the United States (through PT. Freeport) is a perennial for civilians musah West Papua".
Wages which he could also greater than the other workers. Wages are not a measure of his life but chose to liberate the human race activists malanesia nation in West Papua.
Greetings grief of a Papuan Students Alliance of Java.
"For us, you are a true activist for national liberation of West Papua, with your contribution to serve the people of West Papua basic tasks that you provide during your life be important for the history of the people of West Papua movement.
Now you go but with one of its own upon the success you've given your life is a struggle you always entailed for the National Liberation of the people of West Papua and Papua People's Liberation Issue usher out internationally.
Indeed, today we feel lonely, when we feel the loss we feel sorrow that sangad in, and with the departure is too fast, but we are aware under your departure into water droplets that are ready to fall and crush the giant bendugan. Your departure is a process for us that you leave.
Goodbye my friend I hope you calm in Nature there. We leave you will continue to fight for the people of Papua Nation membebasakan apart from the shackles of colonization Colonial Indonesia ".
3. KNPB activists - MEEPAGO PRD region in Nabire.
In 2012, after the murder of Mr. Moses Mako Tabuni general leader of West Papua National Committee (KNPB), he chose to go home in the village of birth in Nabire - Papua to work for human rights - civil rights of the people.
Approximately two years he worked as a sala - a field organizer Meepago Region KNPB - Nabire. There he kept the spirit to strive and build consolidation period to move the local civilians.
Last activity: He was present at a prayer in the KNPB Secretariat ibada Center NATIONAL GRIEF kepergianya Free Papua fighters alm figures; Dr John Otto Ondowame. After one month he died of Siriwini Nabire hospital. Do not know the disease he suffered. Comrade departure does not taste why! Friend can go quickly, friends we have not finished this job. My heart ached friend. Goodbye! and goodbye my friend.
Funeral Speech From KNPB Center
Goodbye my friend we were not lupahkan arms, your spirit and soul militanmu stance in the fight. My friends that you struggle the rest of us will continue tingalkan to the death pengabisan, our true victory.
Our whole crew KNPB of territory, consulates, sectors and cells to express condolences center, and we will pray for the spirits hopefully you receive the right side of God the Creator of Papua.
Comrade not remain silent, we promise to continue the rest of the fight that you leave we will finish and reclaim the death samapai later. *****
Word - The word spirit and motivation Struggle
The two sentences below is an expression of the deceased since she lives in Yogyakarta. Every morning at 05.00 local time, he always warns the boarder students throughout Papua, Kamasan I Yogyakarta. Two words of encouragement at this young man as he turned on his motor engine with exhaust is very large.
"Free Papua fighters not you sleep ?. hours - hours in bed. Let's get up and we walked slowly".
"Here, instead of Java in Papua Land of our Birth, bangun..bangun ... up and up ..............
Goodbye "my friend.
www.melanesia.com
Funeral Speech From KNPB Center
Goodbye my friend we were not lupahkan arms, your spirit and soul militanmu stance in the fight. My friends that you struggle the rest of us will continue tingalkan to the death pengabisan, our true victory.
Our whole crew KNPB of territory, consulates, sectors and cells to express condolences center, and we will pray for the spirits hopefully you receive the right side of God the Creator of Papua.
Comrade not remain silent, we promise to continue the rest of the fight that you leave we will finish and reclaim the death samapai later. *****
Word - The word spirit and motivation Struggle
The two sentences below is an expression of the deceased since she lives in Yogyakarta. Every morning at 05.00 local time, he always warns the boarder students throughout Papua, Kamasan I Yogyakarta. Two words of encouragement at this young man as he turned on his motor engine with exhaust is very large.
"Free Papua fighters not you sleep ?. hours - hours in bed. Let's get up and we walked slowly".
"Here, instead of Java in Papua Land of our Birth, bangun..bangun ... up and up ..............
Goodbye "my friend.
www.melanesia.com
Finally Smiles with You
Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta WPNews - SPMNews Group Online
The afternoon sun seemed to burn sweet black body melangka go mengunjugimu already lying in the shelter of the oppressed.
the house was filled with anguish, Gated bed was full of the anguish. Menuji melangka foot lay a Friends of the Heart,
see it as a tear falls drop by drop until the patter.
mewargai charm rare smile to which is to my feet, as if encouraging bating sweet smile that broke ganjing.
shaking hands and hugging is a matter of course as the Companions line and Sehati. widow of laughter began eliminating kesensaraan spasms, temporary.
now the night has Tibah, melangka my friend went home leaving my heart, because there are still a family with him ..
morning came. HP ring tones vibrate. the sound of your departure. as if dripping tears. liver was carried away in the fire boils. just come thousands of questions in nadih ..? and hold the pain in Nadih.
now you're gone, went to the creator. leaving a beam of light for posterity. remembering the inner soul eternal companions friend also our nation.
soul, your struggle will be eternal in our hearts Comrade reeagle Bulldozer Oto, Oto Parianus Kudiai goodbye.
HAPPY STREET FRIENDS "KAWAN" HEART HEART.
Nabire 24 september 2014 ...
By Desederius_Goo Activists In STUDENT ALLIANCE OF PAPUA AND WEST PAPUA NATIONAL COMMITTEE MEE-PAGO wilaya.
Finally Smiles with You
the house was filled with anguish, Gated bed was full of the anguish. Menuji melangka foot lay a Friends of the Heart,
see it as a tear falls drop by drop until the patter.
mewargai charm rare smile to which is to my feet, as if encouraging bating sweet smile that broke ganjing.
shaking hands and hugging is a matter of course as the Companions line and Sehati. widow of laughter began eliminating kesensaraan spasms, temporary.
now the night has Tibah, melangka my friend went home leaving my heart, because there are still a family with him ..
morning came. HP ring tones vibrate. the sound of your departure. as if dripping tears. liver was carried away in the fire boils. just come thousands of questions in nadih ..? and hold the pain in Nadih.
now you're gone, went to the creator. leaving a beam of light for posterity. remembering the inner soul eternal companions friend also our nation.
soul, your struggle will be eternal in our hearts Comrade reeagle Bulldozer Oto, Oto Parianus Kudiai goodbye.
HAPPY STREET FRIENDS "KAWAN" HEART HEART.
Nabire 24 september 2014 ...
By Desederius_Goo Activists In STUDENT ALLIANCE OF PAPUA AND WEST PAPUA NATIONAL COMMITTEE MEE-PAGO wilaya.
BUCTHAR TABUNI: PAPUA NATION WILL NEVER BE PART OF INDONESIA
Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta WPNews - SPMNews Group Online
BUCTHAR TABUNI: PAPUA NATION WILL NEVER BE PART OF INDONESIA
Turut Berduka Cita sedalam-dalamnya atas terpanggil oleh Tuhan Allah Bangsa Papua Tn. Maklon Mayor
Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Malang Raya Turur Berduka Cita Sedalam-dalamnya atas terpanggil oleh Tuhan Allah Bangsa Papua Tn. Maklon Mayor, Salah satu Anggota Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Komisariat Milita
Dari
lubuk hati kami yang paling dalam, kami Aliansi Mahasiswa Papua (AMP)
Komite Kota Se-Malang Raya turut merasakan duka cita atas terpanggil oleh Tuhan Allah
Bangsa Papua Tn. Maklon Mayor, Salah satu Anggota Komite Nasional Papua Barat
(KNPB) Komisariat Militan Timika Kami Yang Kami Banggakan Yakni:
" Tn. MAKLON MAYOR "
Semoga
Tuhan mengampuni dosa Almarhum, ditempatkan diantara orang-orang yang
beriman, dan keluarga yang ditinggalkan selalu diberi ketabahan dalam
menerima cobaan ini. Amien
Dia telah mengarungi kehidupannya dengan penuh keindahan, serta
menyebarkan keindahan dalam kehidupan orang lain. Sekarang saatnya dia
merasakan keindahan yang jauh lebih besar.
Tidak mudah untuk merelakan kepergian orang yang kita cintai. Tapi jika
kita bisa melihat kebahagiaan mereka di sisi sang pencipta, maka kita
akan tersenyum bahagia.
Kronologis:
Berita duka atas terpanggil oleh Tuhan Allah
Bangsa Papua Tn. Maklon Mayor, Salah satu Anggota Komite Nasional Papua Barat
(KNPB) Komisariat Militan Timika menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Daerah Umum (RSUD) SP 1 Timika,
Pada rabu 06 agustus 2014 pukul 13:00 Wpb.
Tn. Maklon Mayor Umur
54 tahun adalah anggota tetap Militan Knpb Wilayah Timika sector Kapim,
beliau menghempus Nafas terakhir hari ini, sebelumnya beliau menderita penyakit
Ginjal dari bulan april 2014 sampai kini sudah empat bulan lamanya almarhum
menderita.
Almarhum Mayor, juga salah satu
anggota Tukan bangunan kantor Papua Merdeka (Free West Papua Office) dalam
negeri, Knpb & PRD Wilayah Bomberay.
“kata terakhir dari Almarhum Tn.
Maklon Mayor bahwa BIAR SAYA DI PANGGIL
TUHAN ALLAH BANGSA PAPUA SEMANGAT JUANG UNTUK PAPUA MERDEKA KU TINGGALKAN
SEBAGAI KENANGAN UNTUK SEMUA KAWAN-KAWAN PEJUANG SEJATI PAPUA MERDEKA”
Begitu ungkapan beliau saat dia masih dirumah sakit.
Ini identitas bio data Almarhum;
Nama : Maklon Mayor
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tempat Tanggal Lahir : Biak, 12 Desember 1959
Agama : Kristen Protestan
Jumlah Saudara : 03 orang
Suku bangsa :
Biak Papua Barat
Pekerjaan/Profesi : Aktivis Knpb (Militan KNPB Timika)
Alamat : Timika West Papua
Status Perkawinan : Kawin
Jumlah anak : 05 Orang
Keluarga besar Aktivis Papua
Merdeka AMP dan GP3PB Wilayah Malang Raya mengucapkan selamat berduka cita atas
Almarhum Tn. Maklon Mayor atas Perjuangan Pembebasan Nasional sehingga dipanggil
Tuhan yang maha Kuasa, semoga Arwamu diterima disisi Tuhan Allah Bangsa Papua.
Diposkan oleh : Amunggur Tabi Wandikbonak Kosili Nggembu
Orwell would recognise the logic of postcolonialism at play in West Papua
Orwell would recognise the logic of postcolonialism at play in West Papua
In many respects, the West Papuan struggle is the story of Indigenous peoples the world over: exploitation
Morgan Godfery
——————————————————————————————
Morgan Godfery
——————————————————————————————
Few people know that George Orwell, better known as the author of
the dystopian novel 1984, is one of the earlier founders of
postcolonial studies. Orwell’s best known contribution to the field is
Burmese Days, but his earliest contribution was How a Nation Is Exploited – The British Empire in Burma.
Published in the French journal Le Progrès civique, Orwell describes
how the land, labour and resources of one country – that is, Burma –
are used to finance the industrial development of another – in this
case, Britain.
One might think this is merely of historical interest. If only. There is a newly industrialised country on our doorstep and it is using a colony to finance its growth. Orwell would recognise the coloniser – Indonesia – and the logic of colonialism in the West Papua region.
Indonesia annexed West Papua in the 1960s. Thus began and thus continues the deadliest postcolonial struggle in Oceania. In the past half century the Indonesian security forces have killed as many as 500,000 West Papuans. Last year the Asian Human Rights Commission released The Neglected Genocide, a report on atrocities committed in 1977 and 1978. Survivors describe how they escaped the killing fields while others recount their run-ins with the torture squads. Violence wasn’t just something that happened in West Papua, it was a form of government.
One would hope that, some 40 years later, things have improved. It doesn’t seem so. According to the Free West Papua Movement a local independence leader was shot dead on his motorcycle in June. The UNPO reports that local democracy activists have been beaten and arrested for handing out leaflets encouraging West Papuans to boycott last week’s presidential election. In the run up to the election the security forces were put on full alert.
But why does Indonesia cling to West Papua? The basis of Indonesia’s claim to sovereignty is the farcical Act of Free Choice”in 1969. The act was a nominal referendum where a little over 1000 men – less than 1% of the eligible voting population – agreed to transfer sovereignty to Indonesia. The result was controlled – an act of forced choice – with the military carefully selecting and coercing the participants. The Indonesian government has exercised its claim to sovereignty at the end of an assault rifle ever since.
But that claim is only a convenience. West Papuans are ethnically Melanesian and geographically part of Oceania – Jakarta acknowledges this much – but, importantly, the West Papua region is home to the world’s largest goldmine, third largest copper mine and rich mineral deposits. Freeport-McMoRan, the American company that operates the Grasberg mine, is Indonesia’s largest taxpayer. The company has contributed more than $12 billion to Jakarta’s coffers since 1991. Rather than relying on private security at the mine, Freeport-McMoRan pays the Indonesian security forces. Jakarta is happy to oblige.
Orwell would recognise the logic of colonialism here. West Papua has largely missed the Indonesian industrial revolution, instead being compelled to finance it. In many respects the West Papuan struggle is the story of Indigenous peoples the world over: exploitation.
Former Australian prime minister Robert Menzies warned of as much in the 1960s when he said that Indonesian control of West Papua would merely substitute white colonialism for “brown colonialism”. We did not listen then, will we listen now?
“”Care is taken to avoid technical and industrial training [in Burma]. This rule, observed throughout India, aims to stop India from becoming an industrial country capable of competing with England.The role of the colony, then, is under-development for the sake of the coloniser’s development. This is the logic of colonialism.
One might think this is merely of historical interest. If only. There is a newly industrialised country on our doorstep and it is using a colony to finance its growth. Orwell would recognise the coloniser – Indonesia – and the logic of colonialism in the West Papua region.
Indonesia annexed West Papua in the 1960s. Thus began and thus continues the deadliest postcolonial struggle in Oceania. In the past half century the Indonesian security forces have killed as many as 500,000 West Papuans. Last year the Asian Human Rights Commission released The Neglected Genocide, a report on atrocities committed in 1977 and 1978. Survivors describe how they escaped the killing fields while others recount their run-ins with the torture squads. Violence wasn’t just something that happened in West Papua, it was a form of government.
One would hope that, some 40 years later, things have improved. It doesn’t seem so. According to the Free West Papua Movement a local independence leader was shot dead on his motorcycle in June. The UNPO reports that local democracy activists have been beaten and arrested for handing out leaflets encouraging West Papuans to boycott last week’s presidential election. In the run up to the election the security forces were put on full alert.
But why does Indonesia cling to West Papua? The basis of Indonesia’s claim to sovereignty is the farcical Act of Free Choice”in 1969. The act was a nominal referendum where a little over 1000 men – less than 1% of the eligible voting population – agreed to transfer sovereignty to Indonesia. The result was controlled – an act of forced choice – with the military carefully selecting and coercing the participants. The Indonesian government has exercised its claim to sovereignty at the end of an assault rifle ever since.
But that claim is only a convenience. West Papuans are ethnically Melanesian and geographically part of Oceania – Jakarta acknowledges this much – but, importantly, the West Papua region is home to the world’s largest goldmine, third largest copper mine and rich mineral deposits. Freeport-McMoRan, the American company that operates the Grasberg mine, is Indonesia’s largest taxpayer. The company has contributed more than $12 billion to Jakarta’s coffers since 1991. Rather than relying on private security at the mine, Freeport-McMoRan pays the Indonesian security forces. Jakarta is happy to oblige.
Orwell would recognise the logic of colonialism here. West Papua has largely missed the Indonesian industrial revolution, instead being compelled to finance it. In many respects the West Papuan struggle is the story of Indigenous peoples the world over: exploitation.
Former Australian prime minister Robert Menzies warned of as much in the 1960s when he said that Indonesian control of West Papua would merely substitute white colonialism for “brown colonialism”. We did not listen then, will we listen now?
Aliansi Mahasiswa Papua ( AMP ) Progresif, Militan, Patriotik
Gambaran Tentang Aliansi Mahasiswa Papua ( AMP )
Welcome to this visit website! Ini adalah yang sedang ramai dibicarakan secara langsung oleh orang orang yang berada di Internet (Online). Termasuk juga aktifitas yang sering dilakukan, dan ini selalu berubah setiap saat. Klik di kata manapun untuk melihat yang paling sering di tulis dibawah masing masing pengait katanya (tags) atau kategorinya. Ini Adalah Layanan Catan Harian Kami Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Malang-Surabaya Jawa Timur.
Orientasi Perjuangan Organisasi Gerakan merupakan turunan awal dari Ideologi yang menjadi giroh/semangat perjuangan dari setiap organisasi gerakan yang menginginkan sebuah perubahan sosial, ekonomi dan politik pada suatu tatanan masyarakat. Pada posisi perjuangan politik yang dilakukan oleh AMP, orientasi perjuangan organisasi mengarah pada tujuan-tujuan organisasi yang diturunkan dalam Strategi dan Taktik (Stratak) Perjuangan Politik AMP khususnya dalam Plat-Form dan Progam Politik AMP dalam perjuangan Pembebasan Nasional West Papua. Tujuan dari gerakan yang dilakukan oleh AMP adalah mencapai sebuah pengakuan hak Penentukan Nasib Sendiri atau Right to Self Determination bagi Bangsa Papua yang termanipulasi dari berbagai aspek oleh bangsa-bangsa lain yang memiliki kepentingan eksploitasi dan penjarahan hak-hak ulayat Masyarakat Adat (MADAT) di West Papua.
Sejarah organisasi Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) pertama kali dibentuk oleh
mahasiswa asal Papua yang berstudi di pulau Jawa yaitu kota Daerah
Istimewah Yogyakarta (Prambanan), selanjutnya secara organisasi
dideklarasikan dan atau didirikan pada tanggal 30 Mei 1998 di Jl. Guntur
Kawi, Manggarai, Jakarta Selatan. Dengan diketuai oleh Denianus Tari
Wanimbo, dan sekretaris Jenderal Hendrik Ronsumbre. Organisasi ini lahir
ditengah situasi represifitasnya Pemerintah Indonesia di West Papua,
khsusnya di Biak, yang kita kenal dengan Peristiwa Biak Berdarah.
Ditengah situasi politik Indonesia yang mulai goyah akibat
tekanan-tekanan politik dari gerakan prodemokrasi Indonesia terhadap
regime Soeharto dan mulai menguatnya tuntutan Reformasi Politik bagi
sebuah perubahan yang berkeadilan serta terbukanya ruang demokrasi yang
seluas-luasnya.
Aliansi
Mahasiswa Papua memiliki Orientasi Perjuangan yang dengan tegas telah
diatur untuk memperjuangkan Kemerdekaan West Papua. Perjuangan AMP
adalah bagian integral dari Gerakan Pembebasan Nasional West Papua,
tidak ada orientasi lain, selain orientasi tersebut yang harus
diperjuangkan dalam jangka waktu yang sangat cepat. Orientasi Perjuangan
selanjutnya setelah kemerdekaan West Papua diraih kembali, maka AMP
mempunyai tugas sejarah selanjutnya untuk berjuang bersama rakyat guna
membentuk tatanan masyarakat West Papua yang: Demokratis Secara Politik,
Adil Secara Sosial, Sejahtera Secara Ekonomi, Partisipatif Secara
Budaya.
Plaform AMP:“Melawan Neo-Kolonialisme Indonesia, Melawan Neo-Liberalisme/Imperialisme Ekonomi Global dan Melawan Militerisme Indonesia”
Visi: Membebaskan
Negeri West Papua dari Segala macam Bentuk Penindasan Penjajahan bagi
Umat Manusia dan Menciptakan Rakyat West Papua yang Berdaulat secara
Politik, dengan Pembentukan Negara West Papua yang Mandiri.
Nilai-Nilai Dasar: HAM (Hak Menentukan Nasib Sendiri), Demokratis, Solidaritas, Kesetaraan, Swadaya. Berikut adalah Landasan Strategi dan Taktik Perjuangan AMP: Landasan Strategi dan Taktik (Stratak) Perjuangan AMP diatur berdasarkan pembacaan situasi obyektif politik, baik situasi politik di Tanah .









