photo fgr_zpsa263fa65.gif

Headlines News :

 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
Marilah Berjuang Dengan Sunguh-Sunguh Dan Serius, Setia, Jujur, Bijaksana, Aktif Serta Kontinuitas. Diberdayakan oleh Blogger.
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    ★★★Berita Duka ★★★

     photo Banner2_zps5035c662.jpg

    ★★★Radar Malang★★★

    Tampilkan postingan dengan label aksi siswa papua. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label aksi siswa papua. Tampilkan semua postingan

    Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Protes Perpanjangan Kontrak PT.Freeport

    Aliansi Mahasiswa Papua Protes Perpanjangan Kontrak Freeport

    Senin, 02 Februari 2015 12:00:55
    Reporter : Hanum Oktavia
    Aliansi Mahasiswa Papua Protes Perpanjangan Kontrak Freeport


    Malang - Perpanjangan kontrak PT Freeport oleh Pemerintahan Jokowi menuai protes dari Aliansi Mahasiswa Papua di Malang. Bahkan mereka menggelar aksi demo di depan Balaikota Malang, Senin (2/2/2015).

    Menurut Yustus Yekusamon, juru bicara aksi, pihaknya kecewa dengan sikap pemerintah yang memperpanjang kontrak dengan PT Freeport. Pasalnyan Freeport dinilai sebagai dalang kejahatan di Papua. "Sejak awal berdiri PT Freeport selalu berulah dengan menciptakan chaos," tuturnya di sela aksi.

    Untuk itu, para mahasiswa menuntut agar pemerintah menutup usaha PT Freeport di tanah Papua. Apalagi, sejak PT Freeport berdiri, masyarakat Papua belum pernah mendapatkan kontribusi positif. "Belum ada kontribusi positif yang dirasakan langsung oleh masyarakat Papua," tegasnya.

    Yustus menambahkan, PT Freeport juga ditengarai telah melakukan intimidasi terhadap rakyat Papua dengan menggunakan senjata militer. "Kami meminta militer Indonesia ditarik baik yang organik maupun non organik. Jangan sampai tanah Papua dieksploitasi," tandas Yustus. [num/kun]
    Situs ini adalah situs online aktivis suara papua merdeka yang dikembangkan oleh Biro Media dan Propaganda Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Malang-Surabaya. Anda diperkenankan untuk BERBAGI (menyalin dan menyebarluaskan kembali materi ini dalam bentuk atau format apapun) dan ADAPTASI (menggubah, mengubah, dan membuat turunan dari materi ini untuk kepentingan apapun, termasuk kepentingan komersial). Informasi dalam situs ini masih harus dikonfirmasi kepada pengelola situs di melanesiapost@gmail.com (Activis Independence of Papua/Pengembang Situs)

    Pemekaran dan Eksistensi Orang Asli Papua (OAP)

     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg

    Pemekaran dan Eksistensi Orang Asli Papua (OAP)

    Oleh Topilus B. Tebai*)

    Sejak Otonomi Khusus diberikan oleh Negara Indonesia kepada Papua, melalui UU No.21 tahun 2001, pemekaran wilayah semakin banyak terjadi di Papua. Ibarat koin yang memunyai dua sisi, pemekaran wilayah banyak dikumandangkan pada era Otsus. Oleh para aktivis pemekaran, masalah kesejahteran, keterbelakangan dan terisolirnya daerah yang dimekarkan, disebut sebut sebagai beberapa dari segudang alasan mereka memperjuangkan pemekaran wilayah. Kini, kita dikagetkan lagi dengan adanya isu pemekaran, seperti yang dibahas pada Kamis 12 Juli oleh DPRP di Gedung DPRP Jalan Samratulangi Jayapura. Lantas kita mestinya bertanya, sejauh mana keberhasilan pemekaran wilayah-wilayah terdahulu, sehingga kita menjadi sedemikian bernafsu untuk kembali memekarkan wilayah?

    Fenomena Sosial terhadap OAP di daerah Pemekaran

    Bila kita melihat perkembangan manusia Papua di daerah pemekaran dalam berbagai bidang, mestinya membuat para aktivis pemekaran dan para pengambil kebijakan serta seluruh masyarakat Papua mengevaluasi diri. Karena bila kita ingin Jujur, secara psikologis, Orang Asli Papua (OAP) seperti dikagetkan dengan datangnya pemekaran. Mereka tidak tahu, harus berbuat apa menyongsong pemekaran. Sementara, Pemekaran menjadi pintu bagi ribuan imigran dari luar Papua yang datang dengan tujuannya masing-masing yang hendak diperjuangkan dan dicapai.

    Di wilayah pemekaran baru pada umumnya, inilah yang terjadi; Banyak pemuda Papua jadi malas bekerja, ke kebun, dan hanya tinggal seharian di depan kios kios milik pendatang. Banyak orang Papua menjadi pemabuk, pemalang jalan, peminta-minta di jalanan dengan memalang jalan, karena mereka tidak tahu harus berbuat apa di tengah desakan arus globalisasi lewat pemekaran yang datang itu. Etos kerja menurun, Karena uang Otsus memanjakan orang Papua, dan membuat orang Papua tidak berpikir lagi tentang kebun dan ladang mereka, tetapi pikirannya lambat laun beralih ke masalah uang Otsus dan pilkada.

    Prostitusi, mabuk dan miras semakin berkembang di daerah pemekaran. Judi Togel dan sejenisnya pun mulai membuka pos-posnya di daerah pemekaran. Bahkan ironisnya, para penegak hukum seperti Polisilah yang membuka Bandar togel, seperti di Dogiyai, yang menyebabkan tragedi Dogiyai berdarah. Semuanya itu membuat manusia Papua mengalami degradasi nilai-nilai hidup dan moral.
    Ijasah palsu banyak beredar, membuat banyak orang Papua, juga pendatang yang berlomba-lomba untuk menjadi PNS dengan ijazah palsu.

    Dan banyak yang diangkat menjadi PNS. Tetapi bagaimana mereka bekerja nanti, bila tidak memunyai latar belakang pendidikan yang memadai? Lebih parah lagi, banyak orang yang mengikuti tes PNS lulus dan ditugaskan menjadi guru. Bila mereka menjadi guru, maka bayangkan saja, disana akan terjadi pembunuhan structural masa depan anak didik dan bangsa Papua. Inilah bukti ketidaksiapan potensi SDM. Sungguh, penggunaan ijazah palsu ini hanya akan menghambat pembangunan, dan membuyarkan harapan akan masa depan Papua yang lebih baik.

    Banyak juga guru yang berusaha untuk menduduki jabatan dalam eksekutif atau legislative dalam pemerintahan daerah, meninggalkan tugas mereka. Mereka ingin mencari penghidupan yang lebih baik, karena selama itu nasib mereka tidak pernah secara serius diperhatikan, apalagi di daerah pegunungan tengah Papua. Sementara itu, dengan dalih pemekaran baru, maka tidak sedikit pihak juga yang berusaha untuk meluluskan para anak didik dari SD sampai SMA, dengan memberi kunci jawaban (KJ). Padahal, pemberian KJ adalah pembunuhan masa depan anak dan pembunuhan masa depan bangsa. Sementara pemerintah dan masyarakat disibukkan oleh Pilkada ayang berlarut-larut, karena berjalan tidak semestinya, sehingga pembangunan terbengkalai. Kehidupan pemerintahan dan ekonomi tidak terkontrol dan terkendali.
    Sementara di tengah semua kecarut marutan kehidupan social, ekonomi, dan pilitik di daerah pemekaran, para pendatang datang dan mengendalikan kehidupan ekonomi, karena hampir semua para pendatang yang datang ke wilayah pemekaran berprofesi sebagai pedagang. Harga pasar dikendalikan oleh mereka. Dan akibatnya, harga melambung tinggi. Pemerintah daerah pemekaran tidak dapat mengontrol semua itu, karena sering disibukkan oleh masalah kepentingan dan kedudukan yang membuat suasana menjadi makin kabur. Dan yang lebih parah, Orang Asli Papua hanya menjadi perantara abadi, dan dikondisikan oleh system yang dibina itu untuk terus menjadi perantara daripada uang otsus dan konsumen abadi dari produk luar. Karena ketika mereka menerima uang, hanya dalam sekejab uang itu akan berpindah tangan kepada abang-abang kita dari luar Papua. Bukan sebuah kalimat basa basi, bila seorang kaka pernah berkata; “Uang otsus itu membesarkan Pendatang dorang di Papua, dan tong orang Papua jadi dong pu perantara uang Otsus abadi. Tong terima uang, lalu tong kasi mereka lagi”.

    Bila dilihat perbandingannya, setelah adanya pemekaran, malah dalam hal ekonomi dan populasi penduduk di Papua, eksistensi manusia Papua yang harusnya terlihat, sebagai pemilik pulau surga ini tidak terlihat, malah pemekaran seperti mendorong secara tidak langsung, proses mati dan tidak terlihatnya eksistensi manusia Papua, khususnya dalam hal polulasi, dan ekonomi.
    Ketidaksiapan OAP Menerima Pemekaran

    Selain karena ketidak siapan secara psikologis, dan mental, paradigma berpikir masyarakat belum dibentuk sedemikian rupa, melalui sosialisasi dan pelatihan sebelum pemekaran, agar mampu menerima pemekaran, dan menjadikan pemekaran menjadi batu loncatan untuk maju berkembang. Selain itu, belum memadainya potensi sumber daya Manusia yang akan menopang pembangunan di daerah pemekaran juga menjadi salah satu problem yang diabaikan para pengambil kebijakan. Dan dampak dari semua itu, pembangunan dan eksistensi manusia Papua tidak terlihat di wilayah pemekaran.

    Semua ketidaksiapan ini, pada akhirnya hanya akan membuat Orang Asli Papua lambat laun akan semakin tersingkir dari percaturan ekonomi pasar karena kalah bersaing, tidak memunyai modal yang cukup, juga kurang adanya perhatian dari pemerintah, membuat mereka cepat menggulung tikar dan mundur. Apa dampaknya? Pasar dimonopoli dan dikendalikan oleh pedagang dari luar Papua. Aspek kehidupan lain pun demikian.

    Orang Asli Papua akan semakin termarginalkan, dan akibatnya muncullah kecemburuan social. Dan kita harus tahu, bahwa hal ini pada waktunya nanti akan menjadi potensi konflik harisontal. Mengapa semuanya jadi begini? Jawabannya jelas; Otsus bukan harapan OAP, Pemekaran dipaksakan untuk kepentingan segelintir orang dan OAP dijadikan obyek kepentingan, bukan subyek pembangunan dan pemekaran, OAP belum siap terima pemekaran, dan ketidakberpihakan kebijakan dari para pengambil kebijakan kepada OAP.

    Upaya Penegakan Eksistensi OAP di Papua

    Jelaslah bagi kita, bahwa pemekaran wilayah yang tidak disipkan dengan betul dan baik, dan yang hanya sarat dengan kepentingan dan ambisi semata, akan melahirkan pembangunan yang jauh dari adanya eksistensi manusia Papua, yang harusnya terlihat dalam pembangunan di tanah Papua. Hal itu terjadi di hampir semua wilayah di Papua.

    Maka, selayaknyalah para pengambil kebijakan segera melakukan upaya-upaya perbaikan atas fenomena di atas. Yang saya tawarkan disini, mengakhiri tulisan ini adalah; Pertama, segera menata kembali roda pemerintahan dan roda ekonomi di daerah masing-masing agar berjalan baik, dan berpihak kepada Orang Asli Papua, karena untuk itulah Otsus dan pemekaran hadir. Sekali lagi, pembangunan harus berpihak kepada Orang Papua, dan disanalah eksistensi manusia Papua harus terlihat. Dan harus ada peraturan daerah yang mengatur dan melindunginya.

    Kedua, Segera menghentikan upaya-upaya pemekaran wilayah, baik provinsi maupun kabupaten untuk sementara waktu. Mari kita sebagai orang Papua, sesuai dengan profesi kita, kita siapkan dulu kualitas sumber daya manusia yang memadai di tanah Papua. Mari kita siapkan dulu masyarakat kita, dalam segala bidang, agar betul siap menerima pemekaran. Agar masyarakat Papua siap, dan menjadikan pemekaran sebagai batu loncatan untuk maju melangkah, dari segala keterbelakangan, bukannya pemekaran membuat masyarakat menjadi tersingkir dan malah termarginalkan, menjadi konsumen sejati seperti yang terjadi sementara ini.

    Kepada para aktivis pemekaran, mari kita melihat dan meninjau kembali keinginan kita untuk mekarkan wilayah di Papua. Sudah cukup kita dikotak-kotakkan. Sudah cukup Papua dikacaubalaukan dan dikaburkan oleh banyaknya pemekaran dan permainan kepentingan disana, yang membuat orang Papua menjadi semakin tidak jelas nasibnya. Mari Kita benahi dulu masalah– masalah yang sementara ini terjadi dan menjadi keprihatinan kita bersama di atas, barulah nanti, setelah OAP sebagai subjek pemekaran dirasa cukup siap, baru kita berpikir tentang pemekaran. Semoga Papua menjadi tanah Damai.

    *) Penulis adalah Calon Mahasiswa Baru di Yogyakarta,  Tamat  SMA Tahun 2012
    Situs ini milik Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komute Kota Surabaya-Malang, copyright@SPM News Group Online Services dan dikelolah oleh Biro Pendidikan dan Propaganda.

    Kami Adik-adik yang Duduk di Bangku Sekolah Suadah Siap Bangkit untuk Melawan Kolonial Indonesia

    LULUS SMA, KAMPANYE PAPUA Kami Adik-adik yang Duduk di Bangku sekolah (SMA) Suadah Siap Bangkit untuk Melawan Kolonial Indonesia. Bagaimana dengan kakak-kakak yang duduk di bangku kuliah (Mahasiswa) ?MERDEKA “BOIKOT PILPRES 2014”

    Para siswi ini rayakan kelulusannya dgn sikap nasionalis yg gagah.Tidak sangka, pakaian putih sekejap berubah warna.  Bintang Kejora menjadi pilihan utama dalam menggores pakaiannya. Ini sikap berbalik dr rekan-rekan yg lainnya di seantero nusantara.
    Kelulusan kami dari SMA ini sebagai ilustrasi bagi kami dan kesenangan sesaat bagi kami karena kami merasa bawah kami masih dijajah oleh bangsa lain di tanah kami papua barat. Kami tidak merasa kelulusan ini membawah kesenanagn mulia dalam hidup ini, kelulusan ini hanya kesenangan sesak maka kami kemarin Kampanye papua merdeka di jalan dan menyerukan Boikot Pilpres 2014 yang dilakukan oleh bangsa penjajah diatas tanah papua barat.

    Bagi mereka yang tidak mengenal akan penjajahan diatas tanah kami, mereka bersenang-senang namun mereka tidak mengerti bawah saat ini mereka sedang di injar untuk bunuh mereka oleh bangsa penjajah Indonesia, pembunuhan secara lansung maupun tidak lansung. Secara lansung seperti dapat tembak. Secara tidak lansung seperti membunuh kami lewat makanan, minuman, HIV/AIDS.
    Kami kampanye papua merdeka bukan senang karena kami Lulus, kelulusan hanya sebuah ilustrasi bagi kami karena kami masih di jajah oleh negara kolonial indonesia di atas tanah kami papua barat yang sebagai suatu negara yang pernah merdeka. Kami juga menyerukan boikot pemilihan presiden 2014 yang di lakukan bangsa penjajah, pemeras, pembunuh Indonesia.
    Orang tua kami pun berkata kami punya Negara tersendiri yaitu West papua, kami bukan bangsa Indonesia, Indonesia di tanah papua hanya sebagai pembunuh dan pemeras. Kami  tidak pernah mengkui kami bagian dari Indonesia.
    Ketika kami tau kami pun mengatakan untuk apa ikut semua kagiatan bangsa penjajah Indonesia yang penuh dengan kepentinan-kepentingan, membunuh dan membantai rakyat, menguras sumber daya alam kami. (DeGoo)
    Oleh : Anipa Pigai.
    Penulis adalah Pelajar Papua Di Nabire.

    Foto-foto pelajar papua anti indonesia











    PERINGATAN HUT KEMERDEKAAN PAPUA BARAT KE-53 DI JAKARTA

    Rekam Peristiwa Aksi Nasional (Doc.AMP)
    Tanah%2BAbang-20141201-00204
    Hari ini dikenal sebagai hari peringatan Kemerdekaan Papua yang ke-53. Hampir di seluruh belahan dunia, orang Papua dan bahkan para simpatisan kemerdekaan Papua Melakukan Aksi serentak, peringatan HUT PAPUA yang ke-53 tahun.
    Di Papua, diinformasikan, banyak orang ditangkap hanya karena berkumpul untuk melakukan peringatan Kemerdekaan. Sebelum dilakukan penangkapan pada 1 Desember 2014, pada malam hari, Aparat Gabungan melakukan swiping ketata di beberapa kota di Papua. Di Jayapura, diinformasikan, swiping dilakukan di Sentani, Skyland, Jayapura-Kota, Kampung Harapan dan Expo serta Tanah Hitam.
     
    Isu yang dikembangkan, warga membawa Bintang Kejora. Alasan BK, aparat melakukan swiping hingga sampai pada tas-tas warga yang kebetulan melintasi tempat swiping tersebut. Isu BK kemudian dihebohkan kalau akan dikibarkan di Makam Theys H Eluay. Aparat yang melakukan swiping di sentani, fokus mereka. Entah berapa jumlah “DANA” yang dikeluarkan untuk alasan pengamanan, apalagi lebih dari 5.000 pasukan yang dikirim ke Papua, belum lagi Pasukan BIN, BAIS, KOPASUS, dan Intel diluar dari Militer?
     
    Bintang Kejora Pun Berkibar di beberapa tampat pagi tadi, di hampir seluruh Papua. Di Enarotali, Bintan Kejora Berkibar sekitar 30 Menit. Siapa yang menaikan BK, sampai saat ini belum diketahui.
    Aksi di Jakarta
    Tanah%2BAbang-20141201-00205
    Mahasiswa Papua yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) melakukan aksi peringatan HUT Kemerdekaan Papua di Jakarta. Aksi tersebut direncanakan akan dilakukan di depan Istanah. Massa aksi mulau melakukan aksi awal di depan Bundaran Hotel Indonesia (HI). Aksi tersebut dilakukan pada pukul 08.00. Jumah massa yang lebih dari 500 orang.
     
    Saat Massa aksi melakukan aksi damai, Massa aksi memberikan ruang pada kendaraan yang melintasi Bundaran HI. Aksi berjalan dengan damai. Saat massa aksi diarahkan untuk menuju Istanah, Polisi mulai memblokade jalan, dan tidak mengijinkan massa aksi untuk melakukan longmars ke arah Istanah. Polisi memblok jalan massa.
    Asli%2B1
    Melihat Polisi melarang massa aksi untuk longmars ke Istana, massa aksi kemudian berusaha untuk menerobos pertahanan Polisi. Saling dorong mendorong pun terjadi. Sementara itu, Intel lainnya menarik satu massa aksi untuk menculik-nya, namun karena dilihat oleh massa aksi yang lain, seorang massa aksi yang ditarik untuk diculik berhasil ditarik kembali oleh massa aksi lainnya. Kondisi seorang massa aksi yang mau diculik itu dalam bercakan darah karena sempat diinjak dan diseret, kemudian pakaiannya sobek.
    Polisi melakukan tindakan kriminal dengan menyiksa seorang massa aksi, kemudian mencuri bensi milik mobil komando dan memutuskan semua kabel-kabel pada Mobil komando tersebut. Ban dari kendaraan itu juga dibuat kempes.
    Asli%2B3
    Sementara, Komandan Polisi yang memimpin Polisi di lapangan, mengeluarkan bahasa propokasi yang memicuh amarah baik massa aksi dan memaksa Polisi untuk tetap memblokade. Proses dorong mendorong kemudian berhenti saat massa aksi diperintahkan oleh Pemimpin aksi untuk duduk di tempat.
    Polisi berusaha untuk membubarkan massa aksi, namun mereka agak kesulitan karena massa aksi memilih untuk duduk.
    Asli%2B2
    Massa kemudian berdiri dan melakukan aksi untuk berusaha menerobos pertahanan kepolisian, namun Polisi tetap memblokade jalan-nya massa aksi. Proses dorong mendorong pun terjadi lagi, namun tetap sama, Polisi tetap melarang aksi mahasiswa Papua terjadi. Setelah massa aksi duduk kembali, massa aksi diarahkan untuk tetap semangat dan kemudian membubarkan diri, setelah pembacaan pernyataan Sikap bersama. Aksi kemudian berakhir pada pukul 12.05.
     
    Massa Aksi yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) menuntut:
    • 1.     Pemerintah Indonesia mengakui Kemerdekaan Indonesia dan melakukan Penentuan Pendapat Rakyat Ulang;
    • 2.     Tarik Militer dari tanah Papua;
    • 3.  Pemerintah menutup perusahaan-perusahaan asing di Papua seperti Freeport.
    • 4.     Pemerintah Hapus otonomi khusus, UP4B dan pemekaran wilayah di Papua.

    Setelah aksi berakhir, massa aksi melakukan tarian adat sambil menunggu kendaraan jemputan. Massa aksi meninggalkan Bundaran HI pada pukul 13.02.
     
    Tindakan Aparat Dalam Aksi:
    11)      Melarang Massa Aksi untuk aksi ke Istanah dan memblokade massa di Bundaran HI;
    22)      Dorong mendorong dilakukan oleh aparat sebagai upaya mengkriminalkan aksi damai;
    33) Melakukan penyiksaan terhadap seorang massa aksi dengan menyeret dan menginjaknya kemudian pakaiannya disobek dan berkeinginan untuk menculiknya;
    44)      Bahasa Komandan Polisi mengandung Unsur Provokasi meliputi:
    a)      Kami minta massa aksi tidak membuat macet jalan, sementara Polisi memalang jalan agar masa aksi tidak aksi ke Istanah, walau aksi damai dan massa aksi memberikan jalan bagi kendaraan;
    b)      Kami perna bertugas di Papua. Pernyataan ini tentu menunjukan bahwa pelarangan aksi terhadap orang Papua yang selalu diterapkan di Papua sedamg di terapkan juga di Ibu Kota Negara Indonesia Khusu untuk orang asli Papua. Tentu ini tindakan rasis
    55)      Membuat Kempes Ban Mobil Komando;
    66)      Polisi mencuri bensi milik Mobil Komando;
    77)      Polisi memutuskan semua kabel di Mobil komando;
    88)      Polisi berharap massa aksi untuk segera membubarkan diri-nya dan tidak melakukan aksi;
    99)   Polisi memakai 4 mobil bus, 2 mobil gas air mata.


    Tanah%2BAbang-20141201-00207
    Tanah%2BAbang-20141201-00206

    DOC.AMP

    MAHASISWA PAPUA ADALAH MOTOR PENGGERAK KEMERDEKAAN BANGSA DAN NEGARA

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta WPNews - SPMNews Group Online

    MAHASISWA PAPUA ADALAH MOTOR PENGGERAK KEMERDEKAAN BANGSA DAN NEGARA

    Oleh: *Frans Pigai(**
    Foto Frans Pigai (FB)**
    Mahasiswa menjadi sub bagian dari solusi permasalahan jika terjadi masalah di negara ini. Karena Mahasiswa diartikan sebagai Maha adalah kebesaran, siswa adalah orang yang menuntut ilmu dalam sebuah pendidikan. Maka Mahasiswa merupakan orang yang benar-benar menuntut ilmu dan tekun dalam proses pembelajarannya, karena dianggap sebagai diri pribadi seseorang adalah Mahasiswa.
    Dunia pendidikan juga merupakan dunia pertarungan dalam kemampuan, di bidang-bidang dalam berbagai ilmu yang di pelajari oleh Mahasiswa.
     
    Dunia membutuhkan orang-orang yang bisa menyelesaikan persoalan dan bisa mengatur keseimbngan persoalannya, karena bukan dilihat dari gelarnya. Tetapi, orang-orang yang bertanggungjawab dan mengorbankan tenaga untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada dan terjadi dalam suatu proses perjuangan, berupa karya, tugas dan persoalan atau masalah terutama masalah yang terjadi antara masyarakat dengan pemerintahan, namun dengan cara untuk menyelesaikan mahasiswa sebagai pertanggung jawaban dalam persoalan tersebut, bertujuan untuk meraih keberhasilan dengan cara menyelesaikan permasalah yang terjadi di kalangan masyarakat dengan pemerintahan, bahkan dalam karya dan tugasnya. 

    Memetahkan persoalan menjadi kewajiban hidup bagi mahasiswa karena mahasiwalah yang mempunyai kewajiban untuk meluruskan jalur permasalahan yang terjadi dalah kehgidupan masyarakat dan pemerintahan.
    Sebagai mestinya juga mahasiswa adalah salah satu bagian dari komponen-komponen masyarakat, untuk menjalankan kewajiban sebagai mahasiswa yang benar-benar bertanggungjawab dalam kariernya. 

    Persoalan akan muncul jika manusia tidak menciptakan suasana yang aman. Maka untuk menciptakan kenyamanan manusia perlu sadari apa yang dilakukan itu benar atau baik karena kadang manusia selalu memunculkan persoalan-persoalan yang tidak diinginkan oleh orang lain, maka kita sebagai manusia yang berpendidikan, bagaimana cara untuk memetahkan ataupun menyelesaikan, bahkan mempelajari nilai kebaikan dan keburukan yang terjadi dalam kehidupan manusia.

    Kita sebagai Mahasiswa, kita harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, karena waktu tidak akan kembali kedua kalinya, artinya bahwa waktu sangat berharga bagi kita sebagai manusia. Kadangkala manusia selalu menyia-nyiakan waktu dengan sebaik-baiknya, baik dalam karya dan tugasnya, bahkan dalam persoalannya, karena manusia tidak menggunakan waktu dengan sebaik mungkin bahjkan di sia-siakan waktu dalam karya dan tugasnya. 

    Maka, kita sebagai mahasiswa terpelajar marilah kita mempergunakan bahkan meluangkan waktu dalam karya dan tugas kewajiban hidup mahasiswa. Waktu juga menentukan dalam tindakan yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari untuk mencari nafkah atau kebutuhan hidup manusia. Waktu juga menetukan dalam proses perjuangan kemerdekaan bagi bangsa dan Negara. 

    Tingkat kapasitas dalam berkarya dan dalam tugasnya menentukan sebagai mahasiswa yang berguna bagi bangsa dan Negara ini. Kapasitas hidup bagi kehidupan mahasiswa papua menunjukkan bahwa mahasiswa mempunyai nilai pertanggung jawaban dalam persoalan yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Aktifis atau cara merebut peluang menunjukkan bahwa seseorang yang aktifis bisa menyelesaikan masalah yang akan terjadi di kalangan masyarakat maupun di kalangan pemerintahan. Setiap permasalahan Mahasiswa menjadi pokok bagian untuk merebut dalam artinya untuk menyelesaikan persoalan atau permasalahan yang terjadi di kalangan masyarakat dan pemerintahan. Entah itu, salah satunya permasalahan mengenai kemajuan bangsa dan Negara ini. 

    Pesoalan mengenai kemerdekaan, Mahasiswa menjadi penggerak dan solusi permasalahan utama dalam memperebutkan hak untuk menentukan keberhasilan dalam suatu persoalan, terutama dalam permasalahan kemerdekaan bangsa dan Negara. 

    Maka, kita sebagai mahasiswa papua marilah kita akan mempertahankan nilai-nilai kemajuan bagi bangsa dan Negara. Namun, dengan mewujudkan impiannya, kita sebagai manusia terpelajar mari kita memaknai arti penting proses perjuangan bagi diri pribadi seseorang dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan Negara. 
    Penulis adalah Frans Pigai Mahasiswa Surabaya
     
     photo bendera-bintang-kejora-dan-cewek-bule-jpg1_zps4a30c64f.jpg
     photo SALAMPEMBEBASANDANREVOLUSI_zpsbdffla8q.gif