photo fgr_zpsa263fa65.gif

Headlines News :

 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
Marilah Berjuang Dengan Sunguh-Sunguh Dan Serius, Setia, Jujur, Bijaksana, Aktif Serta Kontinuitas. Diberdayakan oleh Blogger.
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    ★★★Berita Duka ★★★

     photo Banner2_zps5035c662.jpg

    ★★★Radar Malang★★★

    Tampilkan postingan dengan label mahasiswa papua. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label mahasiswa papua. Tampilkan semua postingan

    Novelis Muda Papua, Aprilia RA Wayar, Diundang di UWRF

    Novelis Muda Papua, Aprilia RA Wayar, Diundang di UWRF
    Aprilia RA Wayar @Ist
    Jayapura, MAJALAH  SELANGKAH – Novelis muda Papua,  Aprilia RA Wayar diundang mengikuti Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) pada 3-7 Oktober 2012  mendatang di Ubud, Bali. Ia akan ikut UWRF bersama 15 penulis muda Indonesia dari berbagai daerah di Indonesia.
    Alumna Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta ini mengatakan, dewan kurator memberi komposisi penulis terpilih terdiri dari lima penyair, lima cerpenis, empat novelis, dan satu esais. “Kami terdiri dari empat perempuan dan sebelas pria,”kata  Aprilia kepada media ini, Rabu, (26/9).
    Wartawan Tabloid Jubi ini mengatakan, novelnya yang berjudul “Mawar Hitam Tanpa Akar” yang lolos seleksi itu menceritakan tentang sebuah kisah keluarga muda kelas menengah Jayapura dengan segala dinamika kehidupan, mulai dari percintaan sampai kaitan-kaitan dengan persoalan-persoalan politik yang dialami masyarakat Papua.
    Ia mengatakan, pada Vestifal itu, ia dan teman-temannya akan mempresentasikan karyanya. “Kami akan berbicara pada panel diskusi bersama sastrawan-sastrawan asing dari sekitar 20 negara. Saya dapat jadwal presentasi pada, Sabtu 6 Oktober 2012 dan Minggu, 7 Oktober 2012,” kata mantan Aktivis FNPP itu.

    Novelis perempuan Papua pertama di era tahun 2000-an  menjelaskan, karyanya bersama teman-temannya akan dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi dwi-bahasa UWRF. Keseluruhan program Indonesia UWRF didanai bersama oleh Hivos, sebuah lembaga nirlaba Belanda, dan UWRF sendiri. (Ge/MS)
    Situs ini adalah situs online aktivis suara papua merdeka yang dikembangkan oleh Biro Media dan Propaganda Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Malang-Surabaya. Anda diperkenankan untuk BERBAGI (menyalin dan menyebarluaskan kembali materi ini dalam bentuk atau format apapun) dan ADAPTASI (menggubah, mengubah, dan membuat turunan dari materi ini untuk kepentingan apapun, termasuk kepentingan komersial). Informasi dalam situs ini masih harus dikonfirmasi kepada pengelola situs di melanesiapost@gmail.com (Activis Independence of Papua/Pengembang Situs)

    Perekrutan 40 Pilot Papua Diminta Jangan Dipolitisir


    Pilot Nalio Jangkup saat berada di ruang cockpit siap terbang menuju Intan Jaya. Foto: Sudadi
    Jakarta, MAJALAH  SELANGKAH -- Presiden Republik Indonesia (SBY) diberitakan telah perintahkan kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Badan Pendidikan Sumber Daya Manusia (BPSDM) untuk mencari 40 orang anak asli Papua untuk disekolahkan sebagai polot. 
      Recana itu disampaikan sekretaris BPSDM Kemenhub, Wahyu Utomo pada lokakarya Forwahub di Novotel, Solo seperti dikuti bisnis.liputan 6.com, Jumat (14/6/13) lalu. Kepala Pusat Pengembangan SDM Perhubungan Udara, Yudhi Sari Sitompul juga mengatakan hal serupa. 

    Kata Yudhi, 40 putra-putri Papua dan Papua Barat itu akan dididik menjadi pilot profesioanal. Perekrutan akan dimulai Oktober 2013 melalui kabupaten masing-masing. Dikabarkan, tahap I akan dididik di ATKP Surabaya sebanyak 24 dan 16 lainnya di STPI Curug, Tangerang. Mereka akan  dibina selama 18 bulan. 

    Rencana itu dinilai sebuah upaya yang harus diberi apresiasi. Tetapi, di sisi lain perekrutan ini baru dilakukan saat situasi politik Papua memanas. Upaya ini tidak dilakukan selama 50 tahun Papua bersama Indoensia. Maka, diharapkan, pemerintah jangan politisasi perekrutan ini terkait isu politik Papua. 

    Ketua Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Kota Yogjakarta, Roy Karoba misalnya mengatakan, "Dari sisi kebutuhan memang di Papua dan Papua Barat butuh pilot. Namun, menjadi pertanyaan buat saya adalah mengapa Indonesia baru memikirkan soal pengembangan SDM. Saya rasa ini sengaja dilakukan pemerintah Indonesia untuk mencari muka di hadapan dunia  internasional. Karena, keberadaan Indonesia di tanah Papua sedang dikrisrisi," katanya. 

    "Kami tetap akan menganggap upaya-upaya yang dijalankan oleh Indonesia di tanah Papua hanya untuk meredam tuntutan rakyat Papua untuk memisahkan diri dari Indonesia. Perjuangan rakyat Papua yang sudah menelan 50-an tahun ini bukan persoalan kesejahteraan dan pembangunan SDM tapi soal harga diri," katanya. 

    Sementara itu, seorang pemerhati masalah sosial di Jayapura, Naftali Edoway mengatakan, tawaran SBY ini peluang bagus untuk anak Papua. 

    "Ini peluang bagus. Namun, pemerintah pusat harus serius. Jangan hanya janji di atas janji atau momen ini dimanfaatkan untuk kampanye di luar negeri bahwa Indonesia sudah berhasil membangun SDM di tanah Papua," kata Edoway. (MS)
    Situs ini adalah situs online aktivis suara papua merdeka yang dikembangkan oleh Biro Media dan Propaganda Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Malang-Surabaya. Anda diperkenankan untuk BERBAGI (menyalin dan menyebarluaskan kembali materi ini dalam bentuk atau format apapun) dan ADAPTASI (menggubah, mengubah, dan membuat turunan dari materi ini untuk kepentingan apapun, termasuk kepentingan komersial). Informasi dalam situs ini masih harus dikonfirmasi kepada pengelola situs di melanesiapost@gmail.com (Activis Independence of Papua/Pengembang Situs)

    Mahasiswa dan Rakyat Papua STOP Menjadi Agen Kolonial NKRI

    "HIMBAUAN KEPADA SELURUH MAHASISWA MAUPUN RAKYAT PAPUA YANG BERADA DI LUAR PAPUA "
    Foto Belinus Michael Kilungga.
    Spanduk Sosialisasi UP4B Di Bakar.
    Saat Tim Sosialisasi UP4B Mau Melakukan Sosialisasi di Jakarta Beberapa Waktu Lalu Tentu kita semua telah dan sudah mengetahui bagaimana Pemerintah Indonessia dengan menggunakan kaki tangan mereka yang ada di Papua maupun Jakarta berupaya menggunakan berbagai macam cara dan upaya guna meloloskan agenda mereka yang kita kenal dengan Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat ( UP4B ), namun semua upaya yang mereka lakukan dengan mensosialisasikan agenda mereka itu selalu mendapat perlawanan dan penolakan dari seluruh Rakyat Papua di seluruh tanah Papua.


    Perlawanan dan Penolakan Rakyat Papua terhadap UP4B ini sendiri terlihat dengan sering dilakukannya Aksi Penolakan dan Pembubaran Sosialisasi UP4B yang dilakukan oleh kaki tangan Pemerintah Indonesia yang ada di Papua Maupun Jakarta, namun pemerintah Indonesia tidak memperdulikan aksi - aksi Penolakan yang dilakukan oleh Rakyat Papua, Pemerintah Indonesia justru menggunakan kaki tangan mereka yang berada di biokrasi pemerintahan untuk menjalankan Program UP4B tersrbut.

    Selain memanfaatkan kaki tangan mereka yang ada di birokrasi pemerintahan di Papua, Pemerintah Indonesia melalui tim UP4B yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia ini mulai mecari jalan lain untuk meloloskan agenda mereka dengan melakukan Sosialisasi UP4B di tingkatan Mahasiswa - Mahasiswi Papua yang berada di luar Papua ( Sulawesi, Jawa dan Bali ), upaya sosialisasi UP4B di Tingkatan Mahasiswa Papua yan berada di Luar Papua ini sudah beberapa kali dilakukan di beberapa kota studi namun mendapat Penolakan dan Pembubaran Oleh Mahasiswa Papua.

    Dan dari hasil pmbacaan yang kami lakukan, dapat kami simpulkan bahwa Pemerintah Indonesia melalui tim yang mereka bentuk akan terus melakukan upaya sosialisasi UP4B ini di kalangan Mahasiswa - Mahasiswi Papua yang berada di luar Papua dengan memanfaat beberapa Mahasiswa Papua yang " Menamakan diri mereka sebagai Senioritas Mahasiswa Papua " dari beberapa informasi yang telah kami dapatkan bahwa orang - orang ini telah menerima sejumlah Dana yang Besar dari Pemerintah Indonesia untuk meloloskan agenda sosialisasi UP4B tersebut, dengan sejumlah Dana yang telah diberikan oleh pemerintah Indonesia ini maka segalah macam cara akan mereka lakukan untuk meloloskan agenda tersebut di kalangan Mahasiswa - Mahasiswi Papua yang berada di Luar Papua. Hal ini dilakukan karena upaya sosialisasi yang mereka lakukan di Papua telah mendapat Penolakan dari seluruh rakyat Papua.

    Oleh karena itu kami himbau kepada seluruh Mahasiswa - Mahasiswi Papua yang berada di Luar Papua agar jangan sekali - kali menghadiri atau mengikuti segalah Seminar ataupun Diskusi - Diskusi Publik yang berkaitan dengan UP4B ataupun dengan masalah Pembangunan, Karena jika ada Mahasiswa - Mahasiswi Papua yang mengikuti kegiatan ini maka mereka ( Pemerintah Indonesia ) akan menyatakan / mengklaim bahwa Mahasiswa Papua telah menerima UP4B untuk dijalankan di Papua, sebab satu - satunya jalan yang tersisa untuk meloloskan agenda mereka ini untuk dijalankan di Papua adalah dengan memanfaatkan Mahasiswa Papua yang berada di luar Papua.

    " Jika Kamu Tidak Ingin Di Sebut Sebagai Seorang Penghianat dan Penjilat, Maka Janganlah Sekali - Kali Kamu Mengikuti Ataupun Menghadiri Segalah Macam Seminar / Diskusi - Diskusi Publik Yang Berkaitan Dengan UP4B dan Masalah Pembangunan Di Papua "

    " BAGI KAWAN - KAWAN YANG SUDAH MENDAPATKAN / MENGETAHUI INFORMASI INI SEGERA BERITAHUKAN KEPADA KAWAN - KAWAN YANG BELUM MENGETAHUI HAL INI "
    Situs ini adalah situs online aktivis suara papua merdeka yang dikembangkan oleh Biro Media dan Propaganda Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Malang. Anda diperkenankan untuk BERBAGI (menyalin dan menyebarluaskan kembali materi ini dalam bentuk atau format apapun) dan ADAPTASI (menggubah, mengubah, dan membuat turunan dari materi ini untuk kepentingan apapun, termasuk kepentingan komersial). Informasi dalam situs ini masih harus dikonfirmasi kepada pengelola situs di melanesiapost@gmail.com (Activis Independence of Papua/Pengembang Situs)

    Aser Wissel Gobay: Wahai Mahasiswa Papua, Bersatulah!

     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg

    Wahai Mahasiswa Papua, Bersatulah!

    Aser Wissel Gobay*)

    Komitmen pelajar dan mahasiswa Papua untuk menggali makna persatuan dan membina persatuan dirasa sangat penting. Karena akhir-akhir ini, persatuan mahasiswa Papua sebagai satu rumpun melanesia sudah mulai remuk redam. Sementara itu, bangsa Papua terus dihantui berbagai persoalan. Apa jadinya bangsa Papua, kalau mahasiswa tidak bersatu untuk menyikapi berbagai persoalan ditanah Papua. Persatuan dan kesatuan selayaknya terus kita tingkatkan tanpa melihat perbedaan suku, kabupaten, agama, jenis kelamin, dan umur atau pendidikanya, karena kita adalah satu rumpun melanesia. Minimal bersatu secara emosional”

    Bersatu!

    Bersatu adalah sebuah kata yang mengandung arti yang jika mau dikaji, dibahas dan dibicarakan secara gramatikal tetap mengandung arti ‘satu’. Bukan dua. Kata satu dibubuhi awalan ber, maka terbentuk kata ‘bersatu’. Bersatu berarti menjadikan satu. Kata ‘bersatu’ memang mudah diucapkan tetapi sungguh sulit diwujudnyatakan. Karena memang manusia mempunyai cara pandang, cara berpikir dan cara melakukan sesuatu yang berbeda. Selain itu, suku, agama, kepentingan dan segala macam adalah hal-hal membedakan manusia yang satu dengan manusia lain. Perbedaan itu itu secara alamiah ada pada setiap manusia, sekalipun mereka itu kembar. 

    Kata bersatu dalam hal ini tidak mengandung makna semunya harus menjadi satu (sama). Manusia yang satu dengan manusia yang lain tidak harus sama. Tidak boleh dipaksakan untuk menjadi sama. Yang mau ditekankan di sini adalah lebih pada bersatu secara ideologi. Berkumpul bergabung menjadi satu, sepakat, seia sekata mengarahkan kepada satu tujuan. Tujuan yang besar, yakni berserikat untuk melihat kembali tanah air Papua. Ada apa di tanah kita. Mahasiswa Papua sebagai satu ras melainesia harus berani saling mengakui, saling menerima, saling terbuka dan yang lenbih penting adalah kita adalah agen perubah yang akan merubah bangsa Papua ke depan. 

    Kamu dari Papua pantai, kamu dari Papua pengunungan, kamu dari Papua lembah. Ah… saya ini senior kok, kamu itu ade-ade. Kabupaten kita berbeda, dan tetek bengek lainnya adalah istilah kampungan. Ungkapan-ungkapan yang merusak akar persatuan. Mahasiswa menjadi terkotak-kotak. Tidak ada pengakuan secara ideologi bahwa kita adalah orang Papua. Kita bersatu melawan cara berpikir yang mencerai beraikan mahasiswa yang katanya agen perubah itu. Karena perubahan Papua tidak akan datang sendiri tanpa kita bersatu. Yang lebih penting adalah cukup berpikir “saya dari Papua” maka semua orang Papua adalah saudara sebangsaku. Mungkin yang lebih konkret dan sederhana adalah saling menyapa sebagai orang Papua. 

    Bersatu yang ingin disampaikan dalam tulisan ini adalah lebih ke arah bersatu secara sosial, pentingnya persatuan masyarakat Papua dalam satu kerangka pikiran yang sangat positif untuk kepentingan dan kebaikan semuanya.
    Kenapa Harus Bersatu?
    Setelah adanya Pemekaran Kabupaten/Kota dan Provinsi di tanah Papua, persatuan sudah mulai tidak ada lagi dalam masyarakat Papua, khususnya mahasiswa Papua. Ada kotak-kotak. Pemecahan secara administratif berpengaruh pada pemecahan emosional orang Papua sebagai satu ras. Persatuan walaupun tidak mutlak, tetapi sampai saat ini terbukti lebih bermanfaat dan bernilai positif ketimbang perpecahan jika dipandang dalam batas-batas yang terukur dan jelas. Penulis sempat bertanya-tanya dan bingung, kenapa negara-negara Eropa yang sudah sedemikian maju, makmur dan kuat secara peradaban, ekonomi dan teknologinya masih mau bersatu dalam sebuah bentuk persatuan yang lebih besar lagi yang disebut Uni Eropa.
    Setelah mempelajari sekilas ternyata dengan menyatukan diri dalam persatuan yang lebih besar itu, mereka masing-masing bisa mendapatkan sangat banyak manfaat dan penguatan terhadap negara masing-masing demi pencapaian cita-cita kehidupan kemanusiaannya yang lebih tinggi. Selain itu merupakan salah satu upaya antisipasi menghadapi persaingan globalisasi. Di sisi dunia yang lain kita juga bisa melihat adanya proses perpecahan yang terjadi seperti contohnya bekas negara Uni Soviet yang terpecah-belah sehingga tidak mempunyai kemampuan dan kekuatan seperti dulunya lagi.

    Dari kedua contoh di atas (dalam skala negara dan dunia) yang berlawanan, saya mencoba untuk memberikan alasan dengan memberikan wawasan yang ada untuk membuktikan bahwa masalah persatuan adalah begitu penting dan berpengaruhnya baik terhadap sebuah komunitas maupun individunya masing-masing, yang efeknya tentu bisa sangat relatif luas dan berdampak langsung terhadap kehidupan sosial.

    Setelah merenung dan memikirkan masalah ini, pada akhirnya penulis hanya mendapatkan satu kesimpulan yang sederhana di mana kunci persoalannya memang ada pada masing-masing individu orang Papua (mahasiswa). Ialah ada atau tidaknya “semangat bersatu”dalam jiwa kita masing-masing. Semangat bersatu yang dimaksud di sinipun terus terang tidak mungkin dijelaskan secara detail dan terperinci dalam tulisan ini karena sifatnya luas. Secara singkat penulis hanya dapat memberikan sedikit pandangan bahwa semangat bersatu yang dimaksudkan ini harus ditangkap dan ditafsirkan seluas-luasnya secara sangat positif dalam kerangka segala belajar untuk menatap masa depan Papua yang baru. 

    Membangun Semangat Bersatu

    Jika semangat bersatu adalah modal untuk bersatu maka sekarang tinggal bagaimana kita membangun dan mengembangkan semangat bersatu ini dalam diri kita (mahasiswa Papua) masing-masing. Dalam hal ini penulis hanya berusaha memberikan alasan yang bersifat mendukung ke arah pengembangan dan membangun semangat kita untuk bersatu. Pertama, kekuatan untuk mencapai tujuan yang lebih besar/tinggi akan mengumpul dan lebih solid sehingga tujuan akan lebih mudah tercapai. Secara individu akan sulit tercapai. Kedua, menyatukan dan menyamakan visi dan tujuan agar tidak terjadi pergesekan dan konflik yang bisa menyebabkan perpecahan dan pertikaian. Ketiga, membentuk jaringan komunikasi dan interaksi serta saluran informasi di antara seluruh individu sehingga mendorong perkembangan masing-masing individu ke arah positif.
    Ada peribahasa atau ungkapan “Lidi sebatang mudah dipatahkan, tetapi segenggam lidi tidak terpatahkan”, ungkapan tersebut mengibaratkan bahwa timbulnya suatu kekuatan yang besar adalah berasal dari berkumpul dan berintegrasinya kekuatan-kekuatan kecil yang membentuk satu kekuatan besar yang terkadang tidak berbanding lurus (kekuatan yang dihasilkan bisa lebih besar atau lebih kecil dari penjumlahan secara matematis). Jika persatuan dapat menghasilkan kekuatan berlipat maka inilah yang dimaksudkan dengan ” Sinergi “.

    Tentunya dengan kekuatan berlipat dari sinergi ini akan dapat mendorong membawa persatuan tersebut lebih mudah dan cepat mencapai cita-cita dan tujuannya, yang pada akhirnya akan membawa dampak positif dan manfaat langsung pada individu-individunya juga. Apabila kita mau menang dari perjuangan kita, harapan kita, kita harus bersatu lalu melawan musuh. Kita harus membanguan ideologi pembangunan Papua dalam kerangka satu keluarga melainesia. 

    Sangat memprihatinkan, di Papua hingga saat tidak ada tokoh yang dapat dicontoh. Karena ketika salah satu orang menjadi pejabat (pemimpin) jarang ada dukungan moril. Lawan politik akan mencari kesalahan untk menjatuhkan. Tidak ada dorong-mendorong untuk membangun Papua bersama. Kapan majunya kalau ada di Papua masih ada istilah kami dari pantai, kamu dari pengunungan, kamu dari lembah, dan tetek bengek lainnya. Kamu islam, kamu Kristen protestan, dan kamu kristen katolik juga akar perpecahan. Lebih aneh cara berpikir itu, masih sering terlihat dikalangan mahasiswa Jawa dan Bali. Katanya mahasiswa?. 

    Mari wahai mahasiswa Papua di mana saja, kita lihat masalah persatuan ini dengan kekinian zaman. Zaman sudah berubah, kita Mahasiswa harus berubah. Kita bersatu melawan perpecahan sejak dini seraya menyatukan persepsi. Mari kita bersatu minimal secara emosional untuk menatap hari baru Papua Barat. Mari bersatu padu untuk mengancurkan tembok-tembok yang menghancurkan kita di daerah supaya di antara masyarakat kita, tidak terjadi tuntuk-menuntut, ancam-mengancam serta saling menyalahkan satu kelompok dan kelompok lainnya. Mari kita bersatu! 

    Aktivis Aliansi Mahasiswa Papua (AMP)

    *) Alumnus Universitas Dirgantara Indonesia, Fakultas Teknik Jurusan Teknik Mesin. 

    Situs ini milik Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komute Kota Surabaya-Malang, copyright@SPM News Group Online Services dan dikelolah oleh Biro Pendidikan dan Propaganda.

    Memoria Pasionis di Papua: Sebuah Perspektif Filsafat ke-Tuhan-an

     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg

    Memoria Pasionis di Papua: Sebuah Perspektif Filsafat ke-Tuhan-an

    Oleh Ernest Pugiye*)

    Sejak Papua dianeksasi dalam Indonesia melalui Trikora, rakyat Papua tidak pernah hidup dalam suasana damai. Trikora menjadi awal penderitaan orang Papua. Rakya Papua dari ke hari hidup dalam dunia kegelapan, penderitaan dan kemelaratan. Ingatan akan penderitaan (memoria pasionis) ini memacu rakyat Papua untuk melahirkan perlawanan. Ada banyak aksi yang dilakukan orang Papua untuk menarik perhatian Indonesia dan Internasional.

    Ada dua pertanyaan mendasar. Mengapa rakyat Papua masih hidup tidak damai dan rasa asing dari negara Indonesia? Bagaimana membangun budaya damai di Papua?

    Paradigma Negatif

    Pemerintah Indonesia memandang rakyat Papua sebagai separatis, makar dan manusia tidak beradap serta manusia kelas nol. Pemerintah Indonesia dalam membangun rakyat tidak melihat sebagai warga komunitas Indonesia. Padahal rakyat Papua telah dipersatukan oleh Indonesia sendiri melalui Pepera 1961. “Pancasila” pada sila ketiga telah menegaskan juga “Persatuan Indonesia”. Rakyat Papua telah mengakui diri sebagai warga Indonesia dan kini sudah berumur 50 tahun.

    Keberadaan Rakyat Papua bersama NKRI selama 50 tahun merupakan hal amat penting dan lama. Selama 50 tahun itu, rakyat Papua menilai kemanusiaan dan manusia Papua ini tidak dihargai oleh Indonesia. Lebih banyak adalah paradigma negatif. Negara justru melahirkan berbagai kebijakan yang menindas. Program penindasan yang paling baru adalah UP4B (Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat).
    Harus diakui, Indonesia gagal meng-Indonesia-kan orang Papua. Akibatnya nilai kesatuaan sebagai warga Indonesia telah merosot. Rasa tidak senang, ketidakpercayaan dan saling mencugai di antara rakyat Papua dan Indonesia menjadi sebuah budaya sekular yang tak mudah untuk dituntaskan.

    Pembungkaman Nilai Kemanusian

    Hampir semua orang Papua tahu bahwa nilai kemanusiaan mereka dibumkam. Sepanjang sejarahnya, rakyat Papua tidak pernah dihargai sebagai manusia sejati, seperti sesama lain. Keluhuran dirinya sebagai manusia yang secitra dengan Allah tidak pernah dihormati dan diperhitungkan dalam berbagai aspek kehidupan.
    Hal itu terbukti dengan berbagai pelanggaran HAM yang terjadi sejak Pepera 1 November 1961, Operasi Sadar (1965-1967), Operasi Brathayudha (1967-1977), Operasi Sapu Bersih I dan II (1981), Operasi Galang I dan II (1982), Operasi Tumpas (1983-1984), dan Operasi Sapu Bersih III (1985) sampai kini masih diperaktekkan oleh TNI dan Polri atas nama negara (baca: Memoria Pasionis).

    Hingga saat ini, berbagai tindakan kejahatan kemanusia yang paling berat, kompleks dan memakan proses yang amat panjang untuk dituntaskan secara komprehensif dan menyeluruh. Ketika terjadi masalah kemanusiaan, maka lahir pula masalah kemanusiaan baru yang lain. Dan peristiwa tragis semacam ini menjadi kegiatan rutin di kalangan rakyat Papua. Masalahnya menjadi berbelit-belit di antara rakyat Papua dan Indonesia. Nilai kemanusiaan itu menjadi terpenjara dalam berbagai kompleksitas masalah baik masalah yang terjadi secara sadar atau tidak sadar, baik yang horizontal maupun vertical di Papua.
    Berbagai pelanggaran HAM secara fisik dan psikis di Papua belum banyak terpublikasi. Pers lokal dan nasional seakan tutup mata. Negara melarang pers luar asing masuk ke Papua. persoalan semakin rumit dan tertutup.

    Pemekaran Wilayah dan Manusia

    Otonomi Khusus tidak bicara soal pemekaran. Namun, selama 10 tahun Otsus, tanah Papua dibagi menjadi dua provinsi dan menjadi 38 kabupaten. Pemekaran merupakan lahan konflik dan kebunnya para migrasi. Daerah dimekar, manusia dikotak-kotak. Semua aspk dikuasai kaum pendatang tanpa proteksi secara resmi dari pemerintah.

    Seluruh eksistensi orang Papua sebagai satu ras (Melanesia) terluluhlantakan. Tubuh dan jiwa tercabit-cabit ulah pemekaran. Keretakan keluarga tumbuh subur. Kondisi ini semakin membuat orang tidak memiliki kesadaran sebagai warga Indonesia. Nilai-nilai Pancasilais yang merupakan indentitas negara tidak dihayati di Papua. Rakyat Papua mengalami kehilangan harapan dan kepercayaan. Karena, jiwa telah dimekarkan dari tubuh.  Semua orang tampak tidak memunyai rasa prikemanusiaan terhadap diri dan sesamanya sebagai warga komunitas Indonesia. Pandangan Genosida bukan saja pembunuhan fisik menjadi jelas dan nyata.

    Filisofi “Harga Mati”

    Filosofi yang dibangun oleh Indonesia dan pejuang Pembebasan Papua Barat adalah “NKRI Harga Mati” dan “Papua Harga Mati”. Setiap pihak bersikukuh dan mengklaim pihaknya di posisi paling benar. Ungkapan yang menggerogoti keluhuran martabat manusia: “Koo….Epenkah?” menjadi sebuah jiwa di antara setiap mereka dalam pengalaman hidup praksis.

    Mereka dua adalah manusia penting, “Epen”. Yang tidak penting adalah konsepnya yang keliru yakni konsep “Harga Mati”. Konsepnya dinilai keliru dan tidak penting karena ada potensi yang mengamcam kehidupan. Ancaman kehidupan di antara kedua pihak yang bertikai selama ini yakni rakyat Papua dan pemerintah Indonesia justru terjadi karena didorong oleh filosofi ‘Harga Mati”.

    Dalam konteks hidup semacam ini perlu dicarikan alternatif, jalan tengah. Lebih jauh, kedua pihak mesti bebas dari dirinya sendiri, filosofi “Harga Mati” dan ketertutupan hatinya. Mereka mesti menstransensikan diri dari dunia imitasi yang paling massif dan tidak hidup ini.

    Merajut Kebebasan dan Berdialog Damai

    Merajut kebebasan dan dialog damai merupakan sebentuk upaya pemulihan Papua sebagai tanah damai. Hal ini sangat penting bahkan menjadi sebuah unsur yang paling ensensial karena tanpa pembebasan dan berdialog damai mereka akan dibuai dan dimakan oleh kedangkalan konsep, filosofi dan kegelapan hidupnya masing-masing.

    Upaya kebebasan dan dialog damai menjadi sarana atau mendia untuk menganalisa, mengindetifikasi dan mencari solusi atas semua konsep yang keliru dan berbagai konflik kemanusia lain yang terjadi secara konkret di Papua. Saya percaya, mereka dapat memepertanggungjawabkan semua realitas penderitaan manusia Papua berdasarkan argumentasi-argumentasi yang mengutamakan kebaikan bersama (bonum comune) sambil mencari solusi yang memuaskan antara kedua bela pihak yang bertikai (rakyat Papua dan pemerintah Indonesia).

    Nilai fundamental dan universal seperti keadilan, kedamaian, kebebasan dan cinta kasih dan mengangkat martabat manusia menjadi inspirasi utama dalam mengembangkan karya kebebasan dan dialog damai dengan melibatkan pemerintah luar negeri sebagai pihak netral. Rakyat Papua dan pemerintah Indonesia mesti menolak pihak-pihak yang mau menuntaskan masalah Papua dengan kekerasan. Langkah ini adalah jalan menuju Papua tanah damai yang sesungguhnya.

    *)  Mahasiswa STFT “Fajar Timur” Abepura, Jayapura Papua
    Situs ini milik Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komute Kota Surabaya-Malang, copyright@SPM News Group Online Services dan dikelolah oleh Biro Pendidikan dan Propaganda.

    Untukmu Mahasiswa, Bebaskan Kampus Papua!

     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg

    Untukmu Mahasiswa, Bebaskan Kampus Papua!

    Tidak terciptanya demokratisasi kampus adalah bukti bahwa kaum borjuis kampus menjadi predator kolonialisme yang tidak mampu memberikan jaminan kebebasan berekspresi, berorganisasi dan berpendapat dimuka umum, apalagi memenuhi hak pendidikan yang layak bagi Mahasiswa -Realitas Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih (UNCEN) adalah bukti yang mengharukan diatas negeri yang (katanya) beredar dana triliunan rupiah.




    Akar persoalan yang harus dipahami Mahasiswa adalah para borjuis kampus yang mengendalikan institusi pendidikan telah tunduk pada ide-ide kolonialisme Indonesia. Para borjuis ini memaksa pendidikan di Kampus untuk terus melanggengkan kekuatan kolonialisme. Kita harus sadar bahwa para borjuis kampus ini adalah produk kolonialisme. Mereka dilahirkan melalui Pendidikan sejarah, ekonomi, politik, tehnologi, dsb., sejak pendudukan kolonialisme, dan diorientasikan untuk mendukung praktek kolonialisme dan aktivitas produksi para kapitalis diatas tanah West Papua. 



    Kita harus sadari bahwa Institusi pendidikan Indonesia di Papua adalah bagian dari aparatus penjajah yang berbentuk non-fisik, yakni represi ideologi. Dibawa penjajah Indonesia, institusi pendidikan di Papua telah berperan menyebarkankan ideologi kolonial dan kapitalis;ikut membenarkan dan melegitimasi sistem kolonialisme Indonesia. 

    Institusi pendidikan Indonesia juga memproduksi sikap (attitude) dan tingkah laku (behavior); mempersiapkan para peserta didik—mulai dari SD hingga universitas—agar kelak siap menjadi pekerja-pekerja yang memperkuat sistem kolonial dan industri-industri kapitalis. Mereka mengajarkan agar menerima dan taat pada praktek penjajahan dan eksploitasi; menyiapkan lulusan perguruan tinggi untuk menjadi agen kolonial dan kapitalis: menjadi borjuis birokrat Indonesia, Politisi, manajer, administrator; mengajari mereka bagaimana mempergunakan keahlian dan daya kerjanya sebagai agen kolonial dan kapitalis.
    Upaya radikal Yason Ngelia, Samuel Womsiwor, dan kawan-kawannya melalui BEM Uncen merupakan gagasan dan gerakan melawan campur tangan penguasa kolonial, dan menyelamatkan pendidikan dan institusi kampus dari pengaruh penguasa kolonial. Para borjuis kolonial yang secara struktural beranak-pinak dalam institusi Kampus Uncen harus dibersihkan dengan kesadaran gerakan Mahasiswa itu sendiri. Gerekan dan gerakan! Yakni mengorganisir dan berorganisasi untuk melawan realita yang bobrok dalam institusi dan sistem pendidikan kolonial.

    Mahasiswa Papua harus sadar dan berdiri bersama untuk merubah watak borjuis kampus yang menindas menjadi kampus yang membebaskan. Jangan mau dibelenggu oleh ide-ide hegemoni kolonial yang cenderung malas, oportunis, individual, sombong, reaktif dan anti-kritik. Lawan dunia kampus yang gagal melahirkan generasi revolusioner. Lawan dunia kampus yang hanya menjadikan mahasiswa sebagai lahan kapitalisasi dan bandar penguasa kolonial.
    Victor Yeimo 
    Penjara Abepura
    Situs ini milik Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komute Kota Surabaya-Malang, copyright@SPM News Group Online Services dan dikelolah oleh Biro Pendidikan dan Propaganda.ring when initialized






    AMP : Kiki Kurnia Stop Mencaplokan Tanah Papua Menjadi Kekuasaan Kolonial NKRI

     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg

    Pembubaran paksa yang dilakukan polisi terhadap aksi Mahasiswa dan KABESMA Uncen di Jayapura.

    Jayapura, Pernyataan "Kiki Kurnia" seperti yang di rilis oleh MAJALAH SELANGKAH "Jangan berani-berani demo kemerdekaan Papua di atas tanah kekuasaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," Senin (16/03/2015) KLIK SISINI

    Aliansi Mahasiswa Papua (AMP)  menilai pernyataan Wakapolres adalah basi dan konyol. "Pernyataan ini konyol, kalaupun perjuangan Papua Merdeka sedang terjadi itu pun dengan kehendak dan rencana Tuhan,"
    Kami rakyat papua bangsa melanesia berhak merdeka tanpa indonesia.

    Penyataan Wakapolres Kiki Kurnia sudah tidak masuk akan dan tidak ada dasar hukum yang jelas, Kiki Kurnia dan kaum pemerintah kolonial indonesia yang ada di papua sangat amat tidak mengerti dengan  dasar hukumnya sendiri yakni UUD 1945 bait pertama "Bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, oleh sebab itu penjajaan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan pri keadilan".

    Bapak Wakapolres Kiki Kurnia harus belajar kembali sejarah perjuangan bangsa indonesia (Melayu), Pernakah orang papua (melanesia) berjuang untuk indonesia merdeka ? Kalau memang ada tolong bapak jawab siapa, dimana, dan  kapan ?

    Indonesia dalam hal ini pernyataan Wakapolres Kiki Kurnia stop mencaplokkan wilayah west papua kedalam wilayah NKRI. West Papua dan Indonesia tidak punya keterkaitan sejarah perjuangan di masa lalu dan memiliki sejarah berbeda pula.(admin/MP.AMP)
    Situs ini milik Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komute Kota Surabaya-Malang, copyright@SPM News Group Online Services dan dikelolah oleh Biro Pendidikan dan Propaganda.

    Mahasiswa Papua untuk Papua Merdeka !

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta SPM Group Online

    Mahasiswa Papua untuk Papua Merdeka!

    Ditulis Oleh : Patrick Yakobus
    Editor           : B.M.K.Tabuni
    Ilustrasi.(Dok majalahselangkah.com)

    Petius Tabuni. Tubuhnya teriris-iris. Daging dan comotan ototnya keluar. Leher tergorok, kapala kena bacok. Belasan bacokan di sekujur tubuhnya. Indonesia telah menghilangkan salah satu potensi sumber daya manusia Papua begitu saja, layaknya membunuh binatang. 
    Mahasiswa Papua di Manado, Makassar, Kalimantan, Sumatera, Surabaya, Malang, Bandung, Semarang, Solo, Salatiga, Bali, Yogyakarta, Jakarta, kau paham ini: Indonesia tak hargai kau sebagai manusia!

    Saya sebagai anak bangsa tidak menerima mahasiswa kami diperlakukan seperti binatang oleh keluarga besar negara Indonesia dari Sabang sampai Ambonia minus Maluku (Republik Maluku Selatan), Aceh (Gerakan Aceh Merdeka) dan Kalimantan (Borneo Bebas). 

    Anda mahasiswa, benarlah ini, bahwa anda mulai susah mencari kos dan kontrakan sebagai tempat tinggal? Apakah kata-kata anda, tingkah laku anda sering ditertawakan di kampus dan di lingkungan sekitarmu? 

    Apakah kau sering dinamai monyet dan hitam? Bila anda membeli barang, apakah kadang harga menjadi lebih mahal untuk anda yang dari Papua? Apakah anda merasa dipersulit di kampus dan di luar kampus? Apakah anda merasa didiskriminasi? Misalnya, di dalam kampus, seringkah dosen menggunakan bahasa mereka dalam mengajar? 

    Apakah anda merasa tidak diperlakukan dengan semestinya sebagai manusia? Ketahuilah, itu semua hanya karena padamu melekat status ini: kau orang Papua, pemilik tanah air Papua. Kau sebagai orang Papua yang punya kulit gelap, rambut keriting, tentu punya kebudayaan dan berdampak pada cara kita bersosialisasi yang berbeda. Dan itulah yang tidak dihargai keluarga besar Indonesia.

    Petius Tabuni dibunuh dengan sadis di Tataaran, Tondano, Sulawesi Utara. Hingga kini tak ada kabar penyelesaian. Jesicca Elisabeth Isir dibunuh dan dibuang di rel kereta api di Yogyakarta tahun 2010. Kasus diambil alih oleh Polda Yogyakarta. Hingga umur kasus yang menjelang 5 tahun ini, tak ada kabar pengusutan penyelesaian. Kasus Kematian Paulus Petege di pusat kota Yogyakarta, tak ada kabarnya. Kasus kematian mahasiswa Papua lainnya di kota-kota studi lainnya juga bernasib sama.

    Maka ini pertanyaan bagimu, mahasiswa Papua di seluruh Indonesia di luar Papua: Ingin terus menderita batin diperbudak di tanah air penjajah, atau kembali ke Papua, masuk ke Unipa dan Uncen, ke kampus-kampus di Tanah Papua dan memperkuat barisan perlawanan menuju kemerdekaan Bangsa Papua yang sejati?

    Kau mahasiswa Papua di Semarang yang seribuan itu, marilah pulang. Mau yang di Yogyakarta, aku menantimu di Manakwari dan Jayapura. Kau yang di Surabaya, Bandung, Jakarta, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi selatan dan tengah, aku menanti kau pulang. Kita bersama tegakkan kemerdekaan ini. 

    Sudah cukup kita dijajah. Sudah cukup tanah kita dijarah. Dan ketahuilah yang akan terjadi bila kau mengikuti jejak saudara-saudaramu di Manado, Sulaesi Utara untuk eksodus, pulang ke kampung halaman dan tanah air Papuamu tercinta. Media-media masa dan dunia internasional akan besar-besar menulis kalimat-kalimat ini: 

    Mahasiswa Papua dari Sorong hingga Merauke di seluruh tanah air negara Indonesia telah pulang ke tanah air mereka, Papua. Mereka kini menjadi aktor-aktor penggerak kemerdekaan. Sungguh, kemerdekaan Papua tinggal menunggu waktu, karena estafet perjuangan telah beralih ke gerakan sipil di kota yang dikendalikan intelektual muda Papua yang penuh keberanian dan rela mati bagi bangsa dan negara Papua yang mereka idamkan, terus bergerak tanpa mampu dihentikan oleh peluru, sangkur, popor senjata, dan penjara penjajah.

    Pulangkan Orang Luar Papua dari Papua

    Ini bukan pernyataan rasial. Ini demi keamanan. Ketika kalian semua pulang kembali ke tanah air Papua, maka tahap berikutnya adalah kita pulangkan orang Jawa, Bugis, Buton, Makassar, Sumatera, Kalimantan, Ambon dari tanah Papua. Ini bukan karena kita rasial. Bukan. Tapi karena kita tidak ingin mereka jadi korban dari apa yang kita perjuangkan: Papua Merdeka!

    Musuh kita adalah Indonesia dan semua orang yang menjadi kaki tangannya di tanah Papua. Merekalah yang menciptakan sistem yang menjajah dari pusat, dan menjalankannya untuk menjajah dan menjarah tanah kita. 

    Karena perlawanan kita akan merugikan mereka, warga sipil dari Jawa, Makassar, Bugis, Butoon, Toraja, Ambon, Bali, NTT, dan yang lain-lain, maka kita pulangkan mereka. 

    Tapi bila mereka ingin berjuang bersama kita orang asli Papua, itu lebih baik. Dan bila mereka tetap mengambil posisi netral  dan siap menanggung segala resiko, baiklah mereka tetap tinggal di tanah Papua dan tidak menyalahkan orang asli Papua, apalagi menyalahkan perjuangan orang Papua untuk merdeka.

    Tapi bila mereka, para pendatang di tanah air kita itu ingin memihak sistem penjajahan, negara Indonesia dan orang-orangnya yang menjalankan sistem yang menjajah, maka mereka telah menjadi bagian dari penjajah. Dan orang asli Papua tahu apa yang harus mereka buat pada penjajah: usir mereka dan tegakkan Papua Merdeka!

    Kuliah untuk Papua Merdeka


    Penutup dari tulisan ini. Kau mahasiswa, kau sadar bahwa orang Indonesia, negara Indonesia menganggap kau dan harga diri masing-masing dari kita rendah di mata mereka. 

    Maka jangan sekali-kali dengan sadar diri, merendahkan derajat dan harga dirimu sendiri dengan bekerja sebagai PNS, dimana negara dapat menghargai kemampuanmu dengan sejumlah rupiah yang bila dibandingkan dengan para pimpinanmu yang notabene orang Indonesia, terlampau sedikit.

    Jangan sekali-kali kau rendahkan ketrampilan, kemampuan yang kau miliki dengan hanya dihargai rupiah penjajah. Jadilah gerilyawan Papua Merdeka. 

    Maksud saya dari gerilyawan: jadilah guru, jadilah agitator, orator di jalan-jalan, tukang rakit senjata, perakit bom, ahli strategi dan taktik, jadilah pemasok amunisi, pemanggul sejata di belantara Papua, jadilah pemimpin dan anggota milisi kota, informen dan agen dan bagian dari intelijen organisasi perjuangan. 

    Jadi, apa pun pekerjaanmu, tekunilah. Asal: satu, jangan jadi PNS dan menghambakan diri jadi kaki tangan penjajah. Kedua: turun jalan setiap aksi. Ketiga: minimal 12 jam dalam sehari semalam habiskan untuk  berpikir dan bergerak mewujudkan Papua merdeka. Dan Keempat: pekerjaanmu menunjang tujuan umum bangsa Papua, Papua Merdeka secara nyata.

    Mahasiswa Papua, kembalilah ke tanah air Papua. Kita berkumpul dalam satu kesatuan di Manokwari dan di Jayapura. Kita akan jadi satu padu di Papua. Dan bersama kita dendangkan lagu perang kemerdekaan dan kobarkan api revolusi tegakkan kemerdekaan Papua milik kita bersama. 

    Terakhir, terlambat tapi, selamat rayakan hari KNPB ke-6, 19 November 2014. Kita bersama maknai sebagai momentum kebangkitan kekuatan rakyat Papua menuju pembebasan.

    Kita generasi penderita, penentu kemerdekaan. Mari bersatu mewujudkannya. Kitalah yang harus mengakhiri sejarah derita ini.

    Patrick Yakobus adalah aktivis Papua.


    Sumber : http://majalahselangkah.com 

    Oknum Polisi di Makassar Membunuh Mahasiswa Papua

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta SPM Group Online


    PEDULI MAHASISWA PAPUA DI MAKASSAR,
    Peduli  Mahasiswa Papua di minta Kronologis Kejadian secara Akurat sesuai di Tempat Kejadian, dan  Kembali melakukan Pengecekan dan meminta keterajan terjadinya masalah ternyata Media-media yang dikeluarkan ternyata tidak sesuai dengan Fakta Kejadian Di Asrama Papua Di Makassar yang terletak di Jalan Mappala, Kecamatan Rappocini.

    Ada media New.Okezone.com dan New.liputan6.comdikeluarkan berita bahwa diserang oleh sejumlah orang tak dikenal itu tidak sesuai beritanya sehingga Kami kembali melakukan pembenahan berita.
    Akibatnya, satu penghuni bernama Carles Sihumbi terkena tikaman di bagian perut Oleh Oknum Polisi dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Faisal untuk mendapat perawatan medis.

    Sudarah yang bernama Charles Enombi telah menghembuskan napas terakhir Pada Rabu 25 November 2014, pukul 19:20 Wita  di rumah sakit Faisal jl.petterani makassar, Pelaku yang ditikam Almarhum Charles Enombi adalah oleh OKNUM POLISI, pada malam sabtu lalu. Kejadian tersebut,pada malam sabtu preman bersenggongol dengan polisi kemudian datang serang dikontrakan Kabupaten Nduga terletak di jln.petterani depan rumah sakit Faisal,pukul 03:45 ada beberapa polisi sengaja berpura-pura panggil keluar dan menanyakan kejadian lalu ada oknum polisi datang dari belakang dan menikam korban tersebut dibagian tangan tembus ke bagian Perut. Kemudian setelah kena tikaman oleh polisi Kemudian Alma. Charles Enombi sendiri langsung larikan ke rumah sakit tanpa diberitahu teman-temannya diasrama karena sudah tidak bisa dikendalikan diri.
    Berobat selama dua hari dua malam Namun sayangnya tidak tertolong dan  pada akhirnya menghembuskan napas terakhir.  karena kena racun badik yang menggunakanya. Sampai hari ini seluruh mahasiswa papua kumpul dan memintah bertanggung jawab dari pihak Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan Dan Polda Sulawesi Selatan, dan Mahasiswa Papua yang ada di kota Studi Makassar dari Sorong Sampai Samarai Menilai pembunuhan ini sangat tidak wajar karena datang serang tanpa ada Penyebab yang jelas. (Mahasiswa Papua Di Makassar Dan Frans E)
    Laporan : P.  Lokon
     
     photo bendera-bintang-kejora-dan-cewek-bule-jpg1_zps4a30c64f.jpg
     photo SALAMPEMBEBASANDANREVOLUSI_zpsbdffla8q.gif