photo fgr_zpsa263fa65.gif

Headlines News :

 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
Marilah Berjuang Dengan Sunguh-Sunguh Dan Serius, Setia, Jujur, Bijaksana, Aktif Serta Kontinuitas. Diberdayakan oleh Blogger.
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    ★★★Berita Duka ★★★

     photo Banner2_zps5035c662.jpg

    ★★★Radar Malang★★★

    Tampilkan postingan dengan label Papuan Students Alliance. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Papuan Students Alliance. Tampilkan semua postingan

    Welcome to visit weblog Papuan Students Alliance (AMP) Commitee Malang East Java

    Selamat datang !, Wa, Wa, Wa !, Salam Jumpa !


    Ini adalah blog resmi dari Organisasi Papua Merdeka (OPM - Organisasi Papua Merdeka), sayap politik untuk Papua Barat yang bebas dan mandiri sebagai negara dan orang-orang. 



    Ini adalah Papua Press Agency, Gratis Documents Papua Barat dan Pusat Informasi 



    Semua komunitas makhluk di Papua Barat menyambut Anda ke situs ini. Situs ini sangat disajikan kepada Anda oleh Diary of OPM (Online Juru Bicara Papua), dikelola secara kolektif oleh Dewan Editorial Kolektif, langsung dari hutan-hutan Papua.




    Silahkan ikuti link di sebelah kiri Sidebar dan membaca dokumen dan informasi yang tersedia di sini. Beberapa dokumen dan informasi yang terintegrasi ke dalam CMS ini tetapi yang lain terkait dengan URL eksternal.


    Kami melakukan mengakui bahwa bahasa Inggris kami tidak begitu sempurna seperti yang Anda harapkan, tapi kami berharap bahwa apa yang kami sajikan di sini akan memberikan beberapa gambar: 



         Mengapa Papua menuntut kemerdekaan dari Indonesia? atau Apa alasan untuk permintaan kemerdekaan? 



         Apakah mungkin untuk akhirnya menjinakkan Papua dan menerima 'win-win solution' yang ditawarkan oleh Indonesia dalam Paket Otonomi Khusus? 



         Apakah ini menyebabkan politik, demokratis, moral dan hukum dibenarkan ?; 

         Akan Bebas dan Independen Papua Barat menjadi sama seperti Bebas dan Independen Indonesia? Atau apa manfaat untuk semua commmunities makhluk: dalam perspektif global, terutama lingkungan, sosial-budaya dan perdamaian di Pasifik Selatan? 

    PS: 

         Jika Anda memiliki pertanyaan dan / atau saran, dan terutama jika Anda ingin membantu kami mengelola beberapa blog dan website kami, silahkan hubungi kami di :

    <koteka@papuapost.com>,
    <koteka@melanesianews.org>, atau
    <koteka @ melanesiapost.com>
     <melanesiapost@gmail.com>


         Situs ini pertama kali diluncurkan pada 11 November 1999 di Oxford, Inggris, sebagai badan Papua Tekan sebagai proyek pertama dari Aliansi Mahasiswa Papua (Aliansi Mahasiswa Papua - AMP). Ini pada awalnya dirancang untuk siaran langsung acara bersejarah Papua Kongres Nasional II 2000 (26 Mei - 4 Juni 2000) di Port Numbay, ibukota Papua Barat.


         Kami melakukan menyadari bahwa ada beberapa situs hosting yang berbagai berita dan informasi yang sama dengan yang Anda browsing di sini. Namun, perbedaan utama di sini adalah bahwa dokumen-dokumen dan informasi di situs ini disajikan oleh orang Papua sendiri, menurut apa yang kita pahami tentang gerakan dan kampanye kami.



         Situs ini terutama dikelola dalam bahasa Inggris, namun, sebagian besar dokumen, terutama buku-buku yang tersedia dalam versi Melayu. Tujuan dari situs ini adalah untuk mendidik masyarakat internasional pada penyebab dan kasus gerakan Barat Independence Papua, karena itu kami menekankan penggunaan bahasa Inggris. Beberapa bagian tertentu seperti manual yang ditulis dalam bahasa Melayu karena memang ditujukan untuk orang-orang Papua. 



    Atau, Anda juga dapat mengunjungi documens kami untuk melihat versi yang lebih tua dari dokumen di sini 

    Kami mengundang Anda untuk melihat profil dari Bebas dan Independen Papua Barat di bagian Basah Negara Papua. Terima kasih. 


    Mahasiswa Papua untuk Papua Merdeka !

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta SPM Group Online

    Mahasiswa Papua untuk Papua Merdeka!

    Ditulis Oleh : Patrick Yakobus
    Editor           : B.M.K.Tabuni
    Ilustrasi.(Dok majalahselangkah.com)

    Petius Tabuni. Tubuhnya teriris-iris. Daging dan comotan ototnya keluar. Leher tergorok, kapala kena bacok. Belasan bacokan di sekujur tubuhnya. Indonesia telah menghilangkan salah satu potensi sumber daya manusia Papua begitu saja, layaknya membunuh binatang. 
    Mahasiswa Papua di Manado, Makassar, Kalimantan, Sumatera, Surabaya, Malang, Bandung, Semarang, Solo, Salatiga, Bali, Yogyakarta, Jakarta, kau paham ini: Indonesia tak hargai kau sebagai manusia!

    Saya sebagai anak bangsa tidak menerima mahasiswa kami diperlakukan seperti binatang oleh keluarga besar negara Indonesia dari Sabang sampai Ambonia minus Maluku (Republik Maluku Selatan), Aceh (Gerakan Aceh Merdeka) dan Kalimantan (Borneo Bebas). 

    Anda mahasiswa, benarlah ini, bahwa anda mulai susah mencari kos dan kontrakan sebagai tempat tinggal? Apakah kata-kata anda, tingkah laku anda sering ditertawakan di kampus dan di lingkungan sekitarmu? 

    Apakah kau sering dinamai monyet dan hitam? Bila anda membeli barang, apakah kadang harga menjadi lebih mahal untuk anda yang dari Papua? Apakah anda merasa dipersulit di kampus dan di luar kampus? Apakah anda merasa didiskriminasi? Misalnya, di dalam kampus, seringkah dosen menggunakan bahasa mereka dalam mengajar? 

    Apakah anda merasa tidak diperlakukan dengan semestinya sebagai manusia? Ketahuilah, itu semua hanya karena padamu melekat status ini: kau orang Papua, pemilik tanah air Papua. Kau sebagai orang Papua yang punya kulit gelap, rambut keriting, tentu punya kebudayaan dan berdampak pada cara kita bersosialisasi yang berbeda. Dan itulah yang tidak dihargai keluarga besar Indonesia.

    Petius Tabuni dibunuh dengan sadis di Tataaran, Tondano, Sulawesi Utara. Hingga kini tak ada kabar penyelesaian. Jesicca Elisabeth Isir dibunuh dan dibuang di rel kereta api di Yogyakarta tahun 2010. Kasus diambil alih oleh Polda Yogyakarta. Hingga umur kasus yang menjelang 5 tahun ini, tak ada kabar pengusutan penyelesaian. Kasus Kematian Paulus Petege di pusat kota Yogyakarta, tak ada kabarnya. Kasus kematian mahasiswa Papua lainnya di kota-kota studi lainnya juga bernasib sama.

    Maka ini pertanyaan bagimu, mahasiswa Papua di seluruh Indonesia di luar Papua: Ingin terus menderita batin diperbudak di tanah air penjajah, atau kembali ke Papua, masuk ke Unipa dan Uncen, ke kampus-kampus di Tanah Papua dan memperkuat barisan perlawanan menuju kemerdekaan Bangsa Papua yang sejati?

    Kau mahasiswa Papua di Semarang yang seribuan itu, marilah pulang. Mau yang di Yogyakarta, aku menantimu di Manakwari dan Jayapura. Kau yang di Surabaya, Bandung, Jakarta, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi selatan dan tengah, aku menanti kau pulang. Kita bersama tegakkan kemerdekaan ini. 

    Sudah cukup kita dijajah. Sudah cukup tanah kita dijarah. Dan ketahuilah yang akan terjadi bila kau mengikuti jejak saudara-saudaramu di Manado, Sulaesi Utara untuk eksodus, pulang ke kampung halaman dan tanah air Papuamu tercinta. Media-media masa dan dunia internasional akan besar-besar menulis kalimat-kalimat ini: 

    Mahasiswa Papua dari Sorong hingga Merauke di seluruh tanah air negara Indonesia telah pulang ke tanah air mereka, Papua. Mereka kini menjadi aktor-aktor penggerak kemerdekaan. Sungguh, kemerdekaan Papua tinggal menunggu waktu, karena estafet perjuangan telah beralih ke gerakan sipil di kota yang dikendalikan intelektual muda Papua yang penuh keberanian dan rela mati bagi bangsa dan negara Papua yang mereka idamkan, terus bergerak tanpa mampu dihentikan oleh peluru, sangkur, popor senjata, dan penjara penjajah.

    Pulangkan Orang Luar Papua dari Papua

    Ini bukan pernyataan rasial. Ini demi keamanan. Ketika kalian semua pulang kembali ke tanah air Papua, maka tahap berikutnya adalah kita pulangkan orang Jawa, Bugis, Buton, Makassar, Sumatera, Kalimantan, Ambon dari tanah Papua. Ini bukan karena kita rasial. Bukan. Tapi karena kita tidak ingin mereka jadi korban dari apa yang kita perjuangkan: Papua Merdeka!

    Musuh kita adalah Indonesia dan semua orang yang menjadi kaki tangannya di tanah Papua. Merekalah yang menciptakan sistem yang menjajah dari pusat, dan menjalankannya untuk menjajah dan menjarah tanah kita. 

    Karena perlawanan kita akan merugikan mereka, warga sipil dari Jawa, Makassar, Bugis, Butoon, Toraja, Ambon, Bali, NTT, dan yang lain-lain, maka kita pulangkan mereka. 

    Tapi bila mereka ingin berjuang bersama kita orang asli Papua, itu lebih baik. Dan bila mereka tetap mengambil posisi netral  dan siap menanggung segala resiko, baiklah mereka tetap tinggal di tanah Papua dan tidak menyalahkan orang asli Papua, apalagi menyalahkan perjuangan orang Papua untuk merdeka.

    Tapi bila mereka, para pendatang di tanah air kita itu ingin memihak sistem penjajahan, negara Indonesia dan orang-orangnya yang menjalankan sistem yang menjajah, maka mereka telah menjadi bagian dari penjajah. Dan orang asli Papua tahu apa yang harus mereka buat pada penjajah: usir mereka dan tegakkan Papua Merdeka!

    Kuliah untuk Papua Merdeka


    Penutup dari tulisan ini. Kau mahasiswa, kau sadar bahwa orang Indonesia, negara Indonesia menganggap kau dan harga diri masing-masing dari kita rendah di mata mereka. 

    Maka jangan sekali-kali dengan sadar diri, merendahkan derajat dan harga dirimu sendiri dengan bekerja sebagai PNS, dimana negara dapat menghargai kemampuanmu dengan sejumlah rupiah yang bila dibandingkan dengan para pimpinanmu yang notabene orang Indonesia, terlampau sedikit.

    Jangan sekali-kali kau rendahkan ketrampilan, kemampuan yang kau miliki dengan hanya dihargai rupiah penjajah. Jadilah gerilyawan Papua Merdeka. 

    Maksud saya dari gerilyawan: jadilah guru, jadilah agitator, orator di jalan-jalan, tukang rakit senjata, perakit bom, ahli strategi dan taktik, jadilah pemasok amunisi, pemanggul sejata di belantara Papua, jadilah pemimpin dan anggota milisi kota, informen dan agen dan bagian dari intelijen organisasi perjuangan. 

    Jadi, apa pun pekerjaanmu, tekunilah. Asal: satu, jangan jadi PNS dan menghambakan diri jadi kaki tangan penjajah. Kedua: turun jalan setiap aksi. Ketiga: minimal 12 jam dalam sehari semalam habiskan untuk  berpikir dan bergerak mewujudkan Papua merdeka. Dan Keempat: pekerjaanmu menunjang tujuan umum bangsa Papua, Papua Merdeka secara nyata.

    Mahasiswa Papua, kembalilah ke tanah air Papua. Kita berkumpul dalam satu kesatuan di Manokwari dan di Jayapura. Kita akan jadi satu padu di Papua. Dan bersama kita dendangkan lagu perang kemerdekaan dan kobarkan api revolusi tegakkan kemerdekaan Papua milik kita bersama. 

    Terakhir, terlambat tapi, selamat rayakan hari KNPB ke-6, 19 November 2014. Kita bersama maknai sebagai momentum kebangkitan kekuatan rakyat Papua menuju pembebasan.

    Kita generasi penderita, penentu kemerdekaan. Mari bersatu mewujudkannya. Kitalah yang harus mengakhiri sejarah derita ini.

    Patrick Yakobus adalah aktivis Papua.


    Sumber : http://majalahselangkah.com 

    Tidak ada kata 'Setia' kepada NKRI yang ada adalah setia kepada perjuangan Kemerdekaan Bangsa Papua Barat.

    Tidak ada kata 'Setia' kepada NKRI yang ada adalah setia kepada perjuangan Kemerdekaan Bangsa Papua Barat.          
    Isi seruan yg sempat disebarkan di Yogyakarta. Foto: Roka


    Yogyakarta, MAJALAH SELANGKAH -- Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) mengklarifikasi seruan gelap berjudul SERUAN DAN PENYESALAN yang beredar beberapa waktu yang lalu di Yogyakarta.

    Dalam siaran pers yang diterima majalahselangkah.com AMP menilai selebaran yang berisi seruan tersebut dilakukan oleh pihak yang ingin mencemarkan nama baik organisasi serta mematikan gerakan untuk perjuangan Papua merdeka.

    Sebelumnya, mantan ketua AMP komite kota Yogyakarta, Roy Karoba mengatakan cara yang digunakan oknum-oknum tertentu tidak akan mematahkan semangat perjuangan mahasiswa.

    "Saya heran, di sini tidak ada AMP Jawa-Bali, yang ada hanya AMP Pusat dan komite kota. Permainan oknum tertentu ini yang jelas tidak akan mematikan semangat perjuangan kawan-kawan untuk berjuang kemerdekaan bangsa Papua sebagai sebuah negara merdeka, bebas dari cengkeraman kolonialisme Indonesia," ungkapnya kepada majalahselangkah.com belum lama ini.

    Seruan tersebut langsung ditanggapi AMP pusat dan atas nama ketua komite pusat, Rinto Kogoya, memberikan klarifikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara mahasiswa serta organisasi perjuangan lain. Berikut kutipannya:

    Pertama: seruan tersebut adalah seruan gelap yang bertujuan merusak citra perjuangan yang diemban AMP selama ini bagi Kemerdekaan Sejati Rakyat dan Bangsa Papua.

    Kedua: Kawan Roy Karoba adalah mantan Ketua Kota AMP Yogyakarta dan saat ini aktif sebagai anggota biasa, sehingga jelas bahwa seruan tersebut dibuat oleh Aparat Indonesia (TNI/Polri) yang tidak mengetahui keadaan organisasi AMP di Yogyakarta maupun secara Nasional Papua.

    Ketiga: AMP akan selalu memperjuangkan Kemerdekaan bagi Bangsa Papua Barat hingga Kemerdekaan itu terwujud.

    Keempat: tidak ada kata 'Setia' kepada NKRI yang ada adalah setia kepada perjuangan Kemerdekaan Bangsa Papua Barat.

    Kelima: kepada Kawan-kawan mahasiswa Papua di Yogyakarta maupun yang ada di pulau Jawa dan Bali untuk tidak terprovokasi oleh seruan maupun isu-isu yang menyesatkan. Tetap solid di barisan dan jalankan tugas sebagai mahasiswa untuk mempersiapkan diri membangun Bangsa dan Negara Papua Barat.

    Keenam: AMP akan tetap berjuang untuk kemerdekaan bangsa Papua sebagai negara merdeka bebas dari cengkeraman kolonialisme Indonesia. (M2/003/MS)

    West Papua News Online Network

    WPNews Online



    INFO PAPUA : West Papua News
    Port Moresby - Free West Papua Campaign-PNG Coordinator, Mr Fred Mambrasar rallies Melanesian solidarity for West Papua as he gives an impassioned speech to the thousands of people gathered at the Melanesian Festival of Arts & Culture in Port Moresby, Papua New Guinea this month.




    PORT MORESBY – This month there is meeting to support West Papua struggle for independence and discussing issues of West Papua in the Melanesian region. In fact that, very good news has emerged from Papua New Guinea as some of the Free West Papua Campaign PNG team met with Melanesian leaders, including the new Prime Minister of Vanuatu, Joe Natuman during their recent visit to Port Moresby.



    INFO PAPUA : Editorial/ Opinion

    Indonesia’s military crackdown on the West Papuan independence movement
    Home to 3.5 million people, daily life in West Papua is characterised by widespread violence, intimidation and political suppression. On July 9, a boycott against the Indonesian presidential election was organised by activists – 14 of whom were reportedly tortured by the military and now reside in prison. Visit Website ]


    INFO PAPUA : Editorial/ Opinion : Media Opinion
    West Papuan political prisoners freed but vow to keep lobbying for independence
    Earlier this month, six activists from the National Committee for West Papua were reportedly arrested and beaten for distributing leaflets calling on the West Papuan people to boycott the presidential election. Visit Website ]



    INFO PAPUA

    Benny meeting UN representative Michael Møller, the Acting Head of the Economic Commission for Europe and the United Nations Office at Geneva.




    Nobel Peace Prize Nominee and Free West Papua Campaign founder Benny Wenda meets with United Nations Representatives and staff and speaks at the ‘Just Governance’ conference organised by the Initiative of Change IofC in Caux, Switzerland.



    INFO PAPUA : West Papua News

    Netherlands consul in Vanuatu welcomed

    The West Papua National Coalition for Liberation has welcomed the nomination of the Netherlands' Honourary Consul to Vanuatu, Elizabeth Van Vliet.




    INFO PAPUA : West Papua News

    Vanuatu to host West Papua groups
    Vanuatu is to host a major conference of West Papuan representative groups towards arranging a unified bid for membership in the Melanesian Spearhead Group. Visit Website ]



    INFO PAPUA : West Papua News

    Timika, KNPBNews - The Indonesian military and police continue to close and prohibit the democratic space to KNPB to express their opinions and freedom for speech in the public with peacefully in Timika. While the Parliament and the Government of Indonesia recognizes and Indonesian constitutions law allowed to the people to have right to assembly and freedom of speech in the public, but that law only applied to other part of the Indonesia province. It is not apply for West Papua.



    INFO PAPUA : West Papua News

    LONDON – Free West Papua Campaign solidarities with British Friends, Papua New Guinean, and New Caledonia join demonstration to Boycotting Indonesian colonial presidential election in outside of Indonesian Embassy London. The Free West Papua Campaign take action solidarity with their brothers and sisters in West Papua who is refused Indonesian presidential election on Wednesday 09/07/2014) two days ago in London.



    INFO PAPUA : West Papua News

    NETHERLANDS – Free West Papua Campaign Netherlands with Dutch citizens join demonstration outside of the Indonesian embassy to Boycotting Indonesian colonial presidential election. They solidarity with their brothers and sisters in West Papua who is refused Indonesian presidential election on Wednesday 09/07/2014) Den Hag, Netherlands.



    INFO PAPUA : West Papua News

    PERTH – Australia take action boycotting Indonesian criminal presidential election. Also this action was in memory of the Biak Massacre in 1998 and to end the brutality and human rights abuses against West Papuan people under Indonesian military regime who has been denied self-determination for over 51 years.



    INFO PAPUA : West Papua News

    DARWIN – Australian citizens demonstration outside of the Indonesian consulate in Darwin whereas many Indonesian people cast their vote today in Darwin in an election, while West Papua will boycott - not vote in spite of the violent threats made by the Indonesian Military on Wednesday 09/07/2014) Darwin, Australia.



    INFO PAPUA : West Papua News

    SYDNEY- Australian citizens’ demonstration outside of Indonesian embassy boycotting Indonesia colonial presidential election, but Indonesian embassy staff terrorised and intimidated Australian citizen who was taking part of demonstration. Indonesian embassy staff action increased their behaviours when tried to intimidate Australians who support West Papuan people’s struggle for free on (09/07/2014) Sydney, Australia.



    INFO PAPUA : West Papua News

    The “Bleed Black and Read Campaign”, base in Fiji and Vanuatu. This organisation strongly support their brothers and sisters who is living under Indonesia illegal occupation.

     
     photo bendera-bintang-kejora-dan-cewek-bule-jpg1_zps4a30c64f.jpg
     photo SALAMPEMBEBASANDANREVOLUSI_zpsbdffla8q.gif