photo fgr_zpsa263fa65.gif

Headlines News :

 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
Marilah Berjuang Dengan Sunguh-Sunguh Dan Serius, Setia, Jujur, Bijaksana, Aktif Serta Kontinuitas. Diberdayakan oleh Blogger.
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    ★★★Berita Duka ★★★

     photo Banner2_zps5035c662.jpg

    ★★★Radar Malang★★★

    Tampilkan postingan dengan label Suara Bangsa Melanesia. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Suara Bangsa Melanesia. Tampilkan semua postingan

    Fanny Quinea Kogoya: Problematika Perempuan Papua dalam Bermasyarakat

     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg

    Problematika Perempuan Papua dalam Bermasyarakat

    Sejarah Papua menceriterakan, perempuan Papua sesungguhnya adalah
    “roh” yang memberikan kehidupan bagi bangsa Papua.
     
    Oleh Fanny Quinea Kogoya*)

    Sebagaimana kehidupan yang berlaku di sejumlah komunitas suku-bangsa di dunia, di mana sistem kekerabatan patrineal juga dikenal dalam kalangan masyarakat Papua.  Sistem patrineal yang dipahami umum adalah dominasi peran para kaum lelaki di dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Pandangan yang memengaruhi sistem ini adalah paternalisme. Paternalisme menempatkan posisi kaum Hawa tidak lebih dari sekedar pelengkap kaum Adam.

    Contoh yang paling jelas terlihat dalam sistem perkawinan di Papua. Marga sang istri dilebur ke dalam marga suami. Tidak hanya itu. Posisi perempuan sendiri di mata laki-laki Papua secara turun-temurun, telah menjadi sebuah sistem yang baku. Hal itu sulit terhapus begitu saja tanpa melalui proses perkembangan kebudayaan.
    Pandangan ini diyakini masyarakat tradisional sebagai takdir, sehingga tidak diakuinya sebagai sebuah penindasan. Sementara dalam masyarakat modern, sistem seperti itu dilihat sebagai bentuk kekerasan dan penindasan terhadap kaum perempuan. Dengan demikian, banyak organisasi pemerintah maupun non pemerintah melakukan upaya penghapusan dominasi peran laki-laki terhadap perempuan dalam berbagai aspek di setiap negara.

    Simone de Beauvoir, seorang perempuan Perancis, dalam bukunya “The Second Sex“ menegaskan, bahwa ”sejak masa patriakal, perempuan secara umum telah ditempatkan pada posisi kelas kedua di dunia yang ada kaitannya dengan laki-laki”.

    Kondisi itu lebih didasarkan pada kekuatan lingkungan pendidikan dan budaya yang secara sengaja dikontrol dan dikuasai oleh laki-laki. Keberadaan ini mengakibatkan kegagalan perempuan dalam upaya menempati kedudukan terhormat sebagai manusia yang bebas dan merdeka sebagai relasinya dengan kaum laki-laki.

    Teori di atas bila dikaitkan dengan relasi perempuan dan laki-laki Papua, maka keberadaan laki-laki Papua masih dominan dalam mengatur nilai-nilai yang menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. Kondisi ini diperkuat dengan adanya realita di dalam kehidupan masyarakat tradisional di Papua yang menempatkan laki-laki sebagai penopang keluarga. Seorang laki-laki bertanggungjawab dalam menyediakan kebutuhan hidup keluarga.

    Pandangan kehidupan masyarakat tradisional Papua terhadap laki-laki sebagai superpower dapat dilihat dari kekuatan fisik dan kemampuan laki-laki dalam menghadapi musuh (pada saat perang antar suku). Padahal, dalam realita kehidupan masyarakat tradisional Papua, laki-laki bukanlah segalanya dalam menghidupi keluarga.

    Contohnya, seperti beberapa hal yang terjadi dalam kehidupan perempuan suku Dani di Wamena. Biasanya, perempuan memiliki waktu kerja lebih banyak dibandingkan kaum laki-laki. Mulai dari mengasuh anak, memelihara ternak (babi), menggelola dan menyediakan bahan makanan dikerjakan perempuan.

    Sementara itu, hak kebebasan perempuan untuk melakukan segala-sesuatu dibatasi oleh pihak keluarga (sang ayah), misalnya hak untuk sekolah dihentikan dengan alasan perempuan tidak wajar untuk sekolah. Perempuan dianggap lahir sebagai pekerja atau penyedia harta bagi keluarga. Termasuk juga dalam dalam pembagian warisan, laki-laki cenderung diberikan warisan dari sang ayah, sedangkan anak perempuan tidak punya hak mendapatkan warisan milik ayah atau warisan peninggalan nenek moyang.

    Kondisi kehidupan masyarakat Papua seperti di atas ini tentunya tidak wajar dipertahankan atau dilestarikan di zaman ini. Sebagai bahan renungan bagi laki-laki Papua: “Apalah arti laki-laki Papua tanpa perempuan Papua? Sungguh tidak berarti apa-apa! Ibarat kepala tanpa badan! Atau layak dikatakan: “Hidup tanpa bernafas”.

    Karena itu, dalam menghadapi zaman ini, tentunya akan mengharapkan persiapan sumber daya manusia (SDM) yang handal dan siap dipakai –dalam kondisi apa pun. Maka, untuk menghadapi tuntutan zaman seperti ini, SDM perempuan Papua harus menjadi perhatian utama oleh pemerintah maupun keluarga. Sebab, kesuksesan perempuan Papua di dunia globalisasi akan memengaruhi maju mundurnya kelangsungan hidup bagi masyarakat Papua dalam semua aspek kehidupan.

    Setelah melihat beberapa catatan di atas, perlu ada suatu agenda perjuangan dalam mengangkat posisi perempuan Papua yang setara dengan kaum laki-laki Papua. Tentunya dalam berbagai aspek kehidupan.
    Sebagaimana halnya yang dilakukan oleh aktivis perempuan Papua seperti Mama Yosepha Alomang di Timika. Dengan segala kesederhanaannya, Mama Yosepha bangkit dan mempertanyakan posisi perempuan Papua sebagai orang yang merdeka dan bebas, melalui perjuangannya melawan PT Freeport Indonesia. Ia melawan Freeport yang menghancurkan seluruh ekosistem kehidupan masyakat Papua yang hidup di areal pertambangan perusahaan raksasa itu.

    Karena itu, sudah saatnya kaum perempuan diberikan hak sepenuhnya untuk memperjuangkan harkat dan martabatnya sebagai ciptaan Tuhan. Mereka bukan lagi manusia kedua. Mereka bukan lagi selalu berada di dapur. Seberat apa pun sebuah pekerjaan yang dilakukan kaum laki-laki Papua, perempuan Papua pun sanggup melaksanakannya.

    Kehidupan kaum pria tanpa kaum perempuan jelas tidaklah lengkap. Dalam banyak hal, perempuan sangat dibutuhkan lelaki. Itu sebabnya, sejarah Papua menceritakan, perempuan Papua sesungguhnya adalah “roh” yang memberikan kehidupan bagi bangsa Papua.

    Oleh sebab itu, pandangan sempit dari kalangan laki-laki hendaknya diubah. Lantaran pandangan seperti itu membuat perempuan Papua selalu dianggap kaum lemah yang tugasnya melahirkan dan menyiapkan makanan di dapur. Intinya, mereka tidak boleh lebih dari laki-laki.

    Inilah gugatan perempuan Papua saat ini. Perempuan Papua menggugat terhadap cara pandang dan penempatan mereka dalam budaya Papua yang begitu menyiksa dan bahkan melanggar hak asasinya itu.

    *) Aktivis Perempuan Papua Barat.

    Situs ini milik Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komute Kota Surabaya-Malang, copyright@SPM News Group Online Services dan dikelolah oleh Biro Pendidikan dan Propaganda.

    Orang Papua Berjuang KARENA Kebenaran, Bukti dan Saksi Perjuangan Kemerdekaan Papua Barat

    Orang Papua mati karena persoalan ideologi perjuangan kemerdekaan papua barat. Dan rakyat papua masih mengalami penderitaan, pembantaian dan pembunuhan sadis dari negara sahabat penjajah selama ini juga menjadi perenungan bagi bangsa papua barat.

    Namun kaum penjajah mati karena akibat dari fenomena alam tanpa ada efek apapun yang menggangunya. oleh karenanya, jangan melakukan berbagai tindakan secara tidak manusiawi sesama masia didunia ini, karena setiap tindakan dan kekerasan tentu akan ada imbalan berupa fenomena alam maupun kehilangan asset tanpa ada jejak.

    Maka dapat katakan bahwa, Indonesia seharusnya mengakui penderitaan dan pembantaian yang dialami dan dirasakan oleh kami rakyat papua, diatas negeri Papua Barat. Karena sesuatu yang terjadi berupa bencana alam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara juga menjadi kutukan dari pencipta manusia. Jadi dalam kehidupan suatu bangsa yang masih dibawa penjajahan tentu akan ada imbalan sesuai perbuatan, tindakan dan kenafsuhan dari negara itu sendiri. 

    Fenomena alam berupa musiba dan hilang kontak asset pemerintah terjadi dimana-mana merupakan kutukan dari Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karenanya, dapat dikatakan bahwa pergumulan anak negeri dengan tangisan dan ratapan diatas negerinya merupakan proses menujuh penentuan nasib sendiri, dengan kekuatan dari Allah/Aula bagi bangsa papua barat. Dan Sang Revolusioner senantiasa memberikan kekuatan dan kemampuan untuk menentukan nasib sendiri diatas Tanah Air West Papua,.

    TNI Harus Berani Ubah Hasrat Membunuh dan Membatai Menjadi Hasrat Membangun Orang Papua

    TNI Harus Berani Ubah Hasrat Membunuh dan Membatai Menjadi Hasrat Membangun Orang Papua, 

    Tentara Nasional Indonesia (TNI) harus berani mengubah hasrat membunuh dan membantai orang Papua menjadi hasrat membangun orang Papua.

    “Sudah terlalu lama laras senjata aparat Indonesia mengarah ke rakyat papua. Sudah puluhan ribu nyawa melayang karena kejahatan internal ini. Panglima TNI harus berani alihkan hasrat bunuh orang Papua berubah menjadi hasrat membangun orang Papua,” 

    TNI agar lebih mengedepankan pendekatan terirorial daripada pendekatan militer dalam membangun Papua. “TNI harus kedepankan pendekatan teritorial. Berhenti dengan gaya film Rambo, siap tempur. Siap bantai rakyat,”

    TNI akan dicintai dan menjadi bagian integral yang sama menderita bersama rakyat, tersenyum dan bahagian bersama rakyat kalau lebih mengedepankan pendekatan membangun.

    “Itulah TNI yang reformis dan professional. Saya percaya TNI memiliki seluruh persyaratan untuk mengubah dirinya kearah itu,” kami meminta agar aparat tidak membunuh umat Tuhan di Tanah Papua.

    “Pemerintah dan aparat militer baik TNI mapun Polri, tolong jangan lakukan penembakan terhadap umat saya. Tidak lama ini aparat sudah menembak mati lima anak muda yang menjadi harapan bangsa ini. Itu terjadi di kampung saya. Saya minta jangan lagi melakukan penembakan terhadap umat bangsa melanesia papua,”

    "Berilah Kemerdekaan Kepada Suku-Bangsa Papua Barat sebagai Hadiah Millennium Baru"

    Kalau Jakarta mau menjadi pemain politik dan pemeran dalam politik internasional, tidak salah kalau saya secara jujur mau sarankan: "Berilah Kemerdekaan Kepada Suku-Bangsa Papua Barat sebagai Hadiah Millennium Baru" , daripada dirampas dari tanganmu, atau daripada orang asing todong Jakarta untuk lepas tangan atas Papua Barat." Itu kenyataan, dan itu secara politis, ekonomis, dan historis bermanfaat bagi Jakarta. Kalau itu tidak terjadi, marilah kita menghiningkan cipta, atas gugurnya Jakarta dan kejayaannya; - kalau bukan besok, ya lusa.
     
     photo bendera-bintang-kejora-dan-cewek-bule-jpg1_zps4a30c64f.jpg
     photo SALAMPEMBEBASANDANREVOLUSI_zpsbdffla8q.gif