Awom: Kalimat itu Sudah Sering Didengar dari Petinggi Militer dan Polri
JAYAPURA—Pernyataan mantan Pendiri Organisasi
Papua Merdeka (OPM) Nickolas Jouwe yang menyebutkan tidak ada negara
yang mendukung kemerdekaan Papua, terus mendapat pertentangan
.
Jika
sebelumnya, Ketua Dewan Adat Papua (DAP) Forkorus Yaboisembut dan
Komando Besar Pasukan Koteka Zona Damai Perjuangan Papua Merdeka
Robert Takimai menyoroti pernyataan itu, kini giliran Presidium Dewan
Papua (PDP) yang menyanksikan pernyataan mantan petinggi OPM tersebut.
PDP curiga pernyataan semacam itu sengaja diseting oleh pihak-pihak
tertentu. “PDP sangat menghormati bahkan memahami posisi Nickolas
Jouwe, namun pernyataan tersebut sudah meresahkan Masyarakat Papua. PDP
hanya ingin mempertanyakan siapa aktor atau dalang di balik Nickolas
Jowe,” tegas Pdt. Herman Awom sesaat setelah rapat petinggi PDP di
Jayapura, Kamis (11/3) kemarin.
PDP, kata Herman, merasa bahwa pernyataan Nickolas Jouwe
tersebut bukanlah pernyataan yang baru di telinga PDP maupun masyarakat
Papua. Pasalnya sebelumnya pemerintah Indonesia melalui
petinggi-petinggi Militer dan Kepolisian sudah pernah mengungkapkan hal
yang sama. “Pernyataan bahwa tidak ada negara Yang Dukung Papua
Merdeka, ini bukan pernyataan yang baru didengar, kami hanya ingin
tanya saja siapa dalangnya, karena kalimat yang sama sudah pernah kami
dengar,” jelas Herman.
Herman mengakui, berdasarkan hasil rapat PDP ini telah memutuskan
beberapa hal diantaranya, yakni meminta masyarakat Papua untuk tetap
tenang dan tidak terpancing dengan pernyataan Nickolas Jouwe dan tetap
menunggu komitmen Presiden Susilo Bambang Yudoyo yang diutarakan pada 4
Agustus 2008 silam bahwa penyelesaian masalah Papua secara demokratis,
jujur, adil dan bermartabat.
Herman juga menyebutkan, Nickolas Jouwe dan Alm. Wonggor
Kaisiepo serta pejuang-pejuang yang mencetuskan Negara Papua Merdeka
pada Okotober 1961 saat Kongres Papua I secara resmi telah menyerahkan
kepemimpinan perjuangan negara Papua Merdeka setelah kongres II Papua
tahun 2000 lalu.“Sebagai para pendiri Negara Papua Merdeka, seratus
persen menyerahkan kepemimpinan ke dalam negeri,” kutip Awom menirukan
pernyataan Nickolas Jouwe kala itu kepada PDP di Negeri Belanda saat
PDP memberikan laporan hasil Kongres II.“Jadi pernyataan itu dari
pandangan PDP dari segi filosofi wayang yang kami maksudkan adalah
beliau menginginkan untuk pulang ke Papua dan siapa dalangnya, itu dari
hemat PDP,” sambungnya.
Oleh sebab itu PDP menghimbau kepada masyarakat Papua untuk
tidak kaget dengan pernyataan Nikolas Jouwe dan tetap menjaga kenyaman
untuk menyongsong dialog penyelesaian masalah Papua secara baik dan
jujur.
Awom yang dengan tenang sambil mengutip kata Is Kijne yang
menyebutkan bahwa “di atas batu ini saya meletakkan peradaban Orang
Papua, sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan
marifat tapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit
dan memimpin dirinya sendiri” serta juga mengutip tulisan dalam kitab
suci al-quran dalam surat Sura Arat yang dengan tegas menyebutkan
“Bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu bangsa sebelum mereka
sendiri bangkit dan berjuang merubah nasibnya,”katanya.
Oleh sebab itu, pernyataan Nikolas Jouwe sebagai pernyataan
orang tua, tapi dia sudah serahkan tongkat estafet perjuangan
kemerdekaan bangsa papua pada PDP ketikan kongres Papua ke dua tahun
2000, oleh seban itu masyarakat Papua jangan kaget dan gentar
menghadapi pernyataan Nikolas Jouwe, pernyataan itu harus dipahami dari
filosofi wayang,” ungkapnya.(hen)