photo fgr_zpsa263fa65.gif

Headlines News :

 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
Marilah Berjuang Dengan Sunguh-Sunguh Dan Serius, Setia, Jujur, Bijaksana, Aktif Serta Kontinuitas. Diberdayakan oleh Blogger.
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    ★★★Berita Duka ★★★

     photo Banner2_zps5035c662.jpg

    ★★★Radar Malang★★★

    Tampilkan postingan dengan label opm. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label opm. Tampilkan semua postingan

    AMP Turut Berdukacita Sedalam-Dalamnya atas Tertembaknya Panglima OPM dan TPN Paniai, Leonardus Magai Yogi

    Panglima OPM dan TPN Paniai, Leonardus Magai Yogi Tewas Ditembak di Nabire 
     
    Keluarga Besar Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) - Activi Independence Papua dengan ini menyatakan

    BERDUKACITA SEDALAM-DALAMNYA

    dan

    MENGUCAPKAN SELAMAT ATAS PERJUANGAN PAHLAWAN REVOLUSIONER SEJATI BANGSA PAPUA

    Atas Nama Panglima Leonardus Magai Yogi dan temannya. 
    yang telah gugur di medan pertempuran

    Semoga teladan yang kalian berikan akan ditiru oleh pemuda Papua lainnya, DEMI HARGA DIRI dan JATIDIRI, bukan demi perut dan kepentingan pribadi/keluarga seperti yang dilakukan kaum pendukung Otonomi/Papindo.

    ENGKALU PAHLAWAN KAMI,
    TELADANMU MENJADI LILIN KECIL DI TENGAH KEGELAPAN VISI/MISI KAMU MUDA DI TENGAH OMBAK OTONOMISASI NKRI

    Perjuangan yang telah ditinggalkan akan terus kami perjuangkan sampai cita-cita bersama tercapai;
    Akan terus mendorong mobilisasi Masyarakat Melanesia dalam memperjuangkan hargadiri, jatidiri dan kemerdekaan demi perdamaian kawasan Melanesia dan Pasifik Selatan;
    Mendorong dan mewujudkan lamaran West Papua untuk menajdi anggota MSG sebagai dengan langkah-langkah konkrit sesuai perjuangan Dr. Ondawame belakangan ini.

    Untuk sekalian bangsa Papua, diserukan untuk terus memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dengan komitmen dan konsistensi, sampai titik darah penghabisan seperti yang dibuktikan Almarhum, dan meninggalkan perbuatan penghianatan yang telah dicontohkan oleh tokoh Papua Merdeka lainnya yang kini bekerjasama dengan kolonial NKRI untuk mematikan perjuangan Papua Merdeka.

    Demikian pernyataan DUKA SEDALAM-DALAMNYA ini kami sampaikan di hadapan sekalian rakyat bangsa Papua di manapun Anda berada,
    Informasi dan Kronologis lebih lengkap bisa anda ikuti klik :Panglima TPN-OPM Paniai, Leonardus Magai Yogi Tewas Ditembak di Nabire

    Dikeluarkan di : Malang Jawa Timur
    Secretary-General
    Yabingga Togodly
    Situs ini adalah situs online aktivis suara papua merdeka yang dikembangkan oleh Biro Media dan Propaganda Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Malang-Surabaya. Anda diperkenankan untuk BERBAGI (menyalin dan menyebarluaskan kembali materi ini dalam bentuk atau format apapun) dan ADAPTASI (menggubah, mengubah, dan membuat turunan dari materi ini untuk kepentingan apapun, termasuk kepentingan komersial). Informasi dalam situs ini masih harus dikonfirmasi kepada pengelola situs di melanesiapost@gmail.com (Activis Independence of Papua/Pengembang Situs)

    Berita Duka: Kepada seluruh Pejuang dan Aktivis di seluruh Tanah Papua dan seluruh Korps Diplomat OPM dimana saja

    Kepada seluruh Pejuang dan Aktivis di seluruh Tanah Papua dan seluruh Korps Diplomat OPM dimana saja

    Seperti yang sudah kami sampaikan tentang meniggalnya Alm. Gen. Yulius Tabuni dan guna mengisi kekosongan maka Luit 2 Class. Albert Muli Tabuni di tunjuk untuk menggantikan Alm. Yulius Tabuni dan mulai aktif bertugas dari tanggal 11 Maret 2014.

    Harap Menjadi Maklum.
    RIWAJAT JENDERAL YULIUS TABUNI
    Bapak  Jenderal Yulius Tabuni Penanggung jawab Panglima Perang Pegunungan Tengah, dimana beliau telah terlibat sejak masa muda dalam perjuangan guna penegakan Kebenaran, Keadilan dan Pembebasan di Wilaja Pegunungan Tengah Papua Barat, dan terakhir Jenderal Yulis Tabuni selaku Panglima Komando Daerah Militer II Wamena jang juga selaku penanggung Jawab Perang TPN-PB pegunungan Tengah. Sejak tahun 1977 Jederal Yulius Tabuni jang memperjuangkan kemerdekaan dengan mengunakan kekuatan senjata secara gerilja namun pada tahun 2006 menjatahkan mendukung semuah upajah penjelesaian masalah Papua Barat secara damai setelah KKT TPN-PB pertama di Propinsi Madang PNG. Jenderal Yulius terus mendorong upajah-upajah perjuangan damai hingga pada tanggal 22/03/2014 Bapak Yulius Tabuni berpulang kerumah Bapa di kediamanja.
    Harap menjadi Maklum

    Pemangku Adat dan Alam Papua,                                                Ketua AMP Komite Kota Malang
    Sandi Operasi "AWAS! Papua"                                                              Jeckson Huby, M.Kom

    Memalukan Hukum NKRI Bisa Di Bayar Dengan Uang

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta SPM Group Online
    Ungkapan Gerakan Pembebasan Perempuan Papua Barat (GP3PB),  Penjajah indonesia TNI-POLRI BIN, BAISE, BMP, GMP, INTEL, ELITE-ELITE intelek politik LOCAL pemerintah Colonialis Indonesia Pusat Jakarta sampai Pegawai Desa yang sedang berusaha keras untuk menangkap kami orang papua bahwa apa salah kami, Kasus yang kalian sangkaan adalah jelas-jelas tidak benar, hingga sampai saat Ini Masih mencari kami dan di kejar-kejar. Mungkin kami mencuri, Merampok, Memperkosa istri kalian, atau kami Korupsi Kalian Punya uang…………….. TIDAK TAHU MALU KALIAN…. !!!!!!!!!
    Katanya NKRI SEBAGAI NEGARA HUKUM …… KASUS-Kasus di selesaikan secara hukum tetapi…………. Tidak benar……….
    memalukan…hukum NKRI bisa dibayar dengan uang………..
    yang benar disalahkan….. yang salah di benarkan…..itulah…. namanya…. Hukum Indoneia…….
    Sangat Memaluakan Negara Ini, APA KATA DUNIA ???

    AMP Malang Raya Menyampaiakn Selamat HUT West Papua Ke 53. 1 Desember 1961-1 desember 2014

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta SPM Group Online

    AMP Malang Raya Menyampaiakn Selamat HUT West Papua Ke 53. 1 Desember 1961-1 desember 2014 



    Berhasil melahirkan Manifesto Politik yang isinya:

    1. Menetukan nama Negara        : Papua Barat
    2. Menentukan lagu kebangsaan : Hai Tanahku Papua
    3. Menentukan bendera Negara  : Bintang Kejora
    4. Lambang Negara Papua Barat adalah: Burung Mambruk dengan semboyan “One People One Soul”.
    5. Menentukan bahwa bendera Bintang Kejora akan dikibarkan pada 1 November 1961.

    Rencana pengibaran bendera Bintang Kejora tanggal 1 November 1961 tidak jadi dilaksanakan karena belum mendapat persetujuan dari Pemerintah Belanda. Tetapi setelah persetujuan dari Komite Nasional, maka Bendera Bintang Kejora dikibarkan pada 1 Desember 1961 di Hollandia, sekaligus “Deklarasi Kemerdekaan Papua Barat”.

    Bendera Bintang Kejora dikibarkan di samping bendera Belanda, dan lagu kebangsaan “Hai Tanahku Papua”dinyanyikan setelah lagu kebangsaan Belanda “Wilhelmus”. Deklarasi kemerdekaan Papua Barat ini disiarkan oleh Radio Belanda dan Australia.

    Momen inilah yang menjadi Deklarasi Kemerdekaan Papua Barat secara de facto dan de jure sebagai sebuah negara yang merdeka dan berdaulat.
    By : Natoh Pigai 
    Editor : Wandikbonak

    West Papua rebel General reaches out for support in ousting Indonesian forces from his home island

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta SPM Group Online

    West Papua rebel General reaches out for support in ousting Indonesian forces from his home island

    (Casper, Wyo.) – Wyoming is not a likely place to garner support for a conflict that has been running for over 50 years, but for the commander of West Papua indigenous forces, Wyoming is a great jumping off point.
    141121_thegeneral2Thirty-four-year-old General John Anari of the West Papua Liberation Army and chairman of the West Papua Liberation organization came to the United States and Wyoming to seek aid in ousting Indonesian forces from his country. With help from Wyoming’s own self-described Soldier of Fortune, Thomas Bleming, General Anari hopes to educate the US in what he describes as genocide and enslavement of his people.
    “General Anari is exploring all options, but he is not going to wait forever,” said Bleming. “The revolution is going to march forward; it is going to be victorious in the end.”

    With the help of Bleming and the United Nations data experts, General Anari has been able to establish an office within the UN for the purpose of expanding education of the West Papuan struggle against Indonesia. The goal of all of their efforts is to create a sovereign West Papua, a place where the indigenous people can live and work without the threat of kidnapping or death, he said.

    “They don’t like to separate the island, my people in West Papua, they hope to be one nation,” said General Anari. “Today we fight and we fight for West Papua only.”
    General Anari will be speaking with representatives in the Governor’s office and media organizations throughout the country.

    AMP BANDUNG : SETIAP ORANG PAPUA,” DPO-NYA MILITER INDONESIA !

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta WPNews - SPMNews Group Online 



    FOTO: Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) 
    Komite Kota Bandung. Seusai aksi Papua Merdeka
    di Depan Asrama Papua, Bandung.
    BANDUNG, M A L A N E S I A - Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Bandang, gelar diskusi mengenai kekerasan di tanah Papua yang terus meningkat diakhir-akhir ini, Selasa, (23/9), di Asrama mahasiswa Timika, jalan Inofthen, Bandung Jawa Barat. 

    Disela-sela diskusi tersebut,  Wenas  Kobogau, menjelaskan  soal pembungkaman ruang demokrasi di tanah Papua dan juga di Jogyakarta.

    Menurutnya, masyarakat dan mahasiswa di Papua, mau demo soal Pendidikan, Kesehatan, dan Budaya bahkan kebijakan Pemerintah yang tidak memihak pada rakyat kecil, itu saja, aparat kepolisian selalu larang, apa lagi aksi Papua Merdeka, “Ujarnya.

    Bahkan, kawan-kawan kami di Jogyakarta pun, sedang hadapi nasib buruk yang dibikin kolonial Indonesia ini.

    Lanjut, Kobogau,  Ironisnya,  Pekerja HAM pun di ancam, dan di tikam. Contoh kasus, seperti Wamena pekan kemarin.

    “Saya harap, dalam kondisi begini, kami sebagai mahasiswa jangan berdiam tapi terus bangun diskusi dan terus lakukan aksi pelawan. 

    Sebab, tindakan aparat, ialah bagian dari upaya pemusnaan orang Papua (Genosida). Disisi lain, Kata Wenas, tindakan aparat kepolisian Indonesia telah melanggar Undang-undang HAM,  yang dimasudkan dalam Pasal 28.

    Sementara itu, Ketua Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Bandung, Risel, menjelaskan soal kondisi rakyat Papua.

    Kemarin, pada saat liburan, saya melihat kondisi disana, banyak rakyat kecil lebih berbincang soal Pemekaran. Dalam hal, saya berpikir bawah, ‘Elit Papua, selalu melakukan peralihan isu, untuk bungkam peristiwa yang sedang terjadi di sekitaran mereka,”Kata Risel, disela diskusi.

    Pada tempat yang sama, Methu membenarkan ungkapan Risel, terkait kondisi terkini di Papua. Lanju Methu, Di Papua, Orang asli Papua, takut beraktivitas. Sudah pukul enam sore, jatung kota sunyi. Misalanya, seperti di Nabire, orang sangat sunyi sekali, tidak seperti dulu, bahkan seluruh Kabupaten di tanah Papua hadapi nasib yang sama. Hal tersebut, saya amati saat liburan pada bulan Juli lalu, “Katanya.

    Kemudian, untuk selanjutnya, Jekikom.

    Jekikom menjelaskan soal dinamika Komunikasi Politik, di Papua. “Pemerintah Indonesia, diancam dengan "Papua merdeka" oleh elit Papua baru bisa memenuhi permintaan. Hal tersebut digunakan Lukas Enembe, guna meloloskan RUU, 14 Draf tersebut ketika di tolak Pemerintah Indonesia. Mestinya, tak pantas menyatakan demikian oleh seorang Gubernur Kolonial Indonesia.

    Upaya tersebut merupakan, bagian dari gaya komunikasi Politik yang tidak Demokratis. Mestinya, Lukas minta tanggapan atau aspirasi rakyat  lalu menyataan hal tersebut. Disisi lain, upaya mempertahan eksitensi diri, di kursi Gubernur.

    Namun. Lanjutnya, Danamika yang sekarang terjadi ialah, Pejabat Papua menipu pemerintah Pusat, begitu pun Pejabat Papua menipu Pemerintah pusat. Mereka tidak menyadari bawah, rakyat sedang korban terus, “Setiap hari, rakyat Papua di bunuh Militer Indonesia, akan tetapi Pemerintah Provinsi Papua, lebih mementingkan kepantingan diri mereka. 

    Selanjutnya, Persoalan Papua tidak akan usai, selagi rakyat Papua masih bersama Pemerintah Indonesia. Demikian, Kata  Jekikom.

    Kemudian, Cheko angkat bicara, Peraturan Daerah di Papua sangat lemah. Ibaratnya, “Sebuah Kebun tanpa Pakar”. Soal ini, merupakan perhatian bersama. Jika di bandingkan dengan, Kota Bandung “Sangan jahu beda sekali, di sini peraturan sangat kuat. Maka, kata cheko, Kami harap, “Agar Papua, juga bisa bikin Peraturan Daerah yang mampu perdayakan orang asli Papua diatas tanah Papua, “Kata, Sejend AMP itu.

    Akhir dari Diskusi ini. Menyimpulakn dua potong kesimpulan, sebagai berikut: 

    Kita perlu ketahui bersama bawah, sejak kami dilahirkan diatas tanah sudah di masukan dalam Daftar Pencarian orang (DPO) militer Indonesia. 

    Tidak terkecuali, Kata Dia, Orang Papua yang kerja di Pemerintahan  (Gubernur, Bupati), Bariasan Merah Putih, Informen, apa lagi rakyat kecil, “Yang namanya Orang Papua, sudah masuk dalam Daftar Pencarian Orang dari Militer Indonesia. 

    Jangan kita berpikir, bahwa, Saya kerja di Pemerintah  Indonesia jadi tra akan di ancam atau bebas.  Bagi yang bicara Papua merdeka ka, tidak bicara Papua Merdeka, Semua DPO-Nya Indonesia, juga kita semua bagian dari buruan Militer Indonesia. 

    Namun, Solusi yang harus ialah:

    “Menentukan Nasib Sendiri (Self Determination) adalah Solusi Demokratis bagi Rakyat Papua Barat”

    Rakyat Papua hidup bersama negara Indonesia, tak punya harap, sebab kita semua masuk dalam DPO Pemerintah Indonesia. Kesimpulan tersebut dibacakan, Cheko, seusai Diskusi, malam kemarin. Pukul 07.00 WIB. (MALANESIA/WIYAI)

    Potret politik stigma yang dimainkan di Papua

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta ampmalangraya.tk

    Potret politik stigma yang dimainkan di Papua


    Katanya negara Indonesi negara hukum. Katanya Negara Indonesia Negara demokrasi. Katanya Negara Indonesia bercita-cita menegakkan HAM. Katanya Negara Indonesia mau mencerdaskan bangsa.

    Dan banyak ‘katanya', saya sendiri tidak tahu, karena ternyata itu semua bukan untuk orang Papua. Bahkan, pada suatu titik saya malah bertanya "Adakah kehidupan untuk orang Papua di Negara Oligarki ini?" Hukum di negara ini telah dikebiri atas dasar kompromi kepentingan setiap pihak yang melibatkan penguasa dan kapitalis. Tidak ada hukum bagi Orang Papua, tidak ada demokrasi bagi orang Papua, tidak ada HAM bagi orang Papua, tidak ada pendidikan bagi orang Papua.

    Yang ada adalah stigma separatis bagi orang Papua di negeri ini. Bukankah justru Jakarta yang selalu mempermainkan Papua itulah yang sebenarnya separatis. Tanya kenapa? Saya tidak ragu untuk mengatakan bahwa perlakuan situasi masyarakat Papua saat ini adalah tantangan kemanusiaan kita, bukan saja dalam lingkup Indonesia, melainkan juga dunia. Sampai sekarang, secara tidak sadar, kita terseret pada potret politik stigma yang dimainkan di Papua.

    Papua hanya dilihat dengan mata curiga, atau lebih keras lagi, dilakukan dengan cara demonisasi cap dan tekanan psiko-sosial yang berulang-ulang. Begitu sistematisnya demonisasi ini sampai-sampai tidak sedikit orang yang menganggap adalah lumrah melakukan kekerasan terhadap masyarakat Papua: karena mereka "separatis" karena mereka ras melanesia.bukan ras melayu

    By : Wendakilungga on NAPAS

    AMP : Kami Akan Terus Berjuang Sampai Papua Merdeka

    Kami akan terus Berjuang Sampai Papua Merdeka


    Isu yang kini tidak asing lagi adalah  kalau rakyat Papua ingin menentukan nasibnya sendiri. Ini dapat kita lihat dari berbagai media-media yang memberitakan masalah Papua dari berbagai sisi, juga dari berbagai informasi yang sekarang sedang terjadi dan sedang memanas di seluru penjuru dunia.



    Tidak heran juga, masalah Papua sudah merupakan masalah global, masalah internasional, di dunia. Orang Papua selalu memperjuangkan hak-hak untuk merebut kemerdekaan penuh melalui forum-forum terbuka maupun tertutup. 
    Itu semua  usaha orang Papua: berjuang dan dengan berbagai cara  merebut kemerdekaan adalah upaya orang Papua memenuhi hak, sebagai bangsa West Papua.


    Kita bisa melihat kembali masa sejarah singkat mengenai Papua di dalam pangkuan NKRI. Orang Papua ditindas, dibunuh, dianeksasi dan dilecehkan kedaulatannya, dan dicaci maki orang Papuanya oleh NKRI melalui aparat pemerintah, terutama militernya di atas tanah Papua.


    Kami (AMP) tidak bisa jelaskan pelanggarannya satu per satu, karena itu semua sudah jelas dan pastinya semua sudah tahu kalau Papua sedang terjadi seperti demikian. Sejarah yang membuktikan bahwa sejarah perjuangan Bangsa Papua lebih lama dan lebih panjang dibandingkan sejarah bangsa indonesia. Sekarang yang terjadi adalah negara indonesia tidak mau mengakui kalau Bangsa Papua ingin menentukan nasib sendiri. 
    Apa maunya Indonesia? Dan sampai sekarang, mengapa Bangsa Papua masih di dalam bingkai NKRI, padahal, sebagai sebuah bangsa, West Papua berhak menentukan nasibnya sendiri?


    Kita bisa lihat dan sangat jelas pada awal Bangsa Papua dijajah negara Indonesia pada tahun 1963 sampai sampai saat ini. Selama puluhan tahun penjajahan bangsa Indonesia, ada banyak sekali negara-negara luar yang sudah merdeka. Dan itu sudah lebih dari puluhan negara yang sudah menentukan nasibnya sendiri. Padahal penjajahan bangsa Indonesia terhadap Papua sudah sangat lama. Indonesia telah buat orang Papua menderita dan menderita karena setiap hari dibunuh, diperkosa, disiksa.  Paling sangat di sayangkan sekali. Apa yang membuat bangsa indonesia sangat cinta kepada Bangsa West Papua? Tidak lain kalau itu karena kepentingan ekonomi dan politik bangsa indonesia.


    Bukankah di dalam Pancasila sudah tercantum di dalam sila ke-5 yang berbunyi, Keadilan sosial bagi seluru rakyat Indonesia." Bukankah juga di dalam UUD 1945 sudah ditegaskan kepada bangsa indonesia pada Alinea I (pertama) yang berbunyi, Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan peri keadilan. Mana buktinya?


    Manusia memiliki akal budi yang sudah diciptakan Tuhan. Manusia yang sempurna memiliki akal budi dan bisa berfikir secara sehat. Mana yang baik dan mana yang tidak baik. tetapi apa yang dilakukan pemerintah indonesia, UU ko yang dibuat sendiri tetapi yang dilanggar juga sendiri.


    Dari dahulu, pembunuhnan demi pembunuhan terjadi. Penyiksaan. Pemerkosaan, sudah banyak kasus.  Semua itu jadi bukti kata-kata jenderal TNI, Ali Murtopo yang mengatakan: Bila orang Papua ingin merdeka, surati Amerika Serikat agar bangsa Papua diantar ke bulan untuk merdeka di bulan. Atau mencari pulau lain di fasisfik untuk merdeka di sana. Artinya, Ali Murtopo mengatakan bahwa Indonesia tidak butuh orang Papuanya, hanya butuh tanah Papua yang kaya raya. Terbukti dengan eksploitasi besar besaran,dimulai dengan PT. Freeport, tanpa meningkatkan kesejahteraan orang Papua.


    Tetapi ingat bangsa Indonesia, selama Bangsa Papua masih berdiri di atas tanah Bangsa Papua, selama Bangsa Papua masih banyak pelajar-pelajar muda, pejuang mahasiswa, aktivis, dan pejuang-pejuang bangsa Papua, kami akan terus berusaha menegakkan kebenaran sejarah, dan menunjukkan pada dunia, rekayasa yang kau buat, demi tanah Papua, bukan manusia Papua.
    Walau politik kelas wahid dan kasta tinggi bagaimana pun yang kau gunakan, masalah Papua tidak akan pernah selesai hingga bumi ini kiamat. Kami tahu kami berada pada jalur kebenaran, dan kami akan berjuang untuk membuatmu masuk surga, setidaknya dengan berjuang agar kau (RI)  mengakui dosa-dosa politikmu di masa silam  terhadap  Bangsa West Papua.


    Karena kami tahu, kebenaran dapat disalahkan, seperti keberhasilanmu memanipulasi sejarah kedaulatan bangsa kami demi ekonomimu, tetapi kebenaran tidak dapat dikalahkan. Artinya, kami tahu, di ujung sana, ada kemerdekaan sebagai penegakan kebenaran sejarah bangsa kami, buat bangsa  kami, West Papua menanti kami: Papua Merdeka!

    Creaed By     : Michael Kudiai, Aliansi mahasiswa Papua (AMP) 
    Publisher By : Admin AMP


    TPNPB-OPM Ask International Community Stop Military Aid To Indonesia

    TPNPB-OPM Ask International Community Stop Military Aid To Indonesia

    Commander of TPNPB-OPM La Pago regionOkiman Purom Wenda (left) with guard (Photo: Ist)
    PAPUAN--- Commander Jayapura West Papua National Liberation Army (TPN-PB)-La Pago regionEnden Wanimboasking the international community to halt military aid to the Indonesian governmentbecause it had committed serious human rights violations in Lanny JayaPapua .


    "What we knowthe TNI / police are reduced by 5000 - 7000 personnelIt was too muchand so many in numberwe can say that the war in that country Lanny Jaya down full force"said Endenwhen contacted suarapapua.comvia cell phonefrom Lanny JayaFriday (23/08/2014).

    Enden saidthe international communityespecially the United Statesthe NetherlandsAustralia and the UK are not worth giving military equipment to Indonesiabecause it has been used to perform gross human rights violations(Read: Kelly Tabuni"Brimob in Lanny Jaya Give Us Bullet For Halau Brimob From Beyond").

    "With the military equipment provided by outside countriesIndonesia has killed and slaughtered millions of people of Papuawe ask immediately stop the military aid," he said.

    Enden also said that although Indonesia lowered the power of large scale militarybut none of his men who are victimsand it was regarded by him as a commander in the region eat it Jaya.

    "Nature and God of Papua is on our sideso that no victimIf the victim in the stronghold of army / police is actually a lotbut they are so shy lids of the news media"he said. (Read: Commander of TPN / OPM Denies There Members Who Killed Shot).

    When asked if he and his men had done the burning of houses and honai-honai community property such as police statementEnden flatly denied that information.

    "It is not our fuelthe military / the fuelLanny Jaya community is our communityand we've known each other a long timewe might not want to burn them had honai"said Enden.

    Enden would ask journalists to ask questions directly to the public Lanny Jayabecause the more people know who the real culprits.

    "Instead of us Hankeya better question to the community or church leaders, they will tell who the perpetrators of the burning of hundreds of community-owned honai-honai Lanny Jaya since last July 28, 2014," he said.

    The police claimed it no more troops in Lanny JayaPapua Police Mobile Brigade reasonsand military of the Military Command XVII / Cenderawasih are assigned to the region.


    Oktovianus POGAU

    ACTIVIS INDEPENDENCE PAPUA MENOLAK PRABOWO SUBIANTO MEMASUKI TANAH PAPUA

    ACTIVIS INDEPENDENCE PAPUA MENOLAK PRABOWO SUBIANTO MEMASUKI TANAH PAPUA
    Activis Independence Papua Barat 2007-2014
    Activis Independence Papua Barat 2007-2014
    AIP - Atas nama bangsa Papua Barat, Activist Independence Papua menolak tegas Rencana menghadirkan PRABOWO SUBIANTO di Tanah Papua untuk kampanye PILRES. Kami Activis Independence Papua menolak tegas permintaan DPRP, dimana saudara Yunus Wonda menyatakan bahwa meminta Prabowo Subianto datang ke Papua untuk kampanye. Pernyataan Yunus Wonda ini telah dipublished pada media harian sore “SUARAPEMBARUAN” edisi Kamis 19 Juni 2014, dengan judul “Prabowo Diminta Kampanye di Papua,” Prabowo Diminta Kampanye di Papua,”


    Hal ini kami menilai bahwa sangat memendingkan diri sendiri, oleh karena itu dengan tegas menolak Prabowo Subianto yang merupakan pelaku pembunuhan dan pengahur harta milik orang Papua. Kami menghimbau kepada orang Papua Barat yang sedang mencari makan di Pemerintah NKRI, dan sekarang menjadi pejabat Pemerintah colonial NKRI agar tidak menyakiti hati Rakyat Papua Barat. 


    Kami mempunyai laporan tentang kejahatan Prabowo, dimana dalam Operasi Militer saat pembebasan sandera di Mapenduma. Orang tua kami dari Mapenduma telah laporkan bahwa sewaktu operasi itu Prabowo dan anggotanya pernah menembak masyarakat, dan juga membakar rumah-rumah penduduk, kebun-kebun dan ternak Babi milik penduduk setempat telah dibumihanguska. 


    Kami Activist Independence Papua bersama Rakyat tetap menolak PILRES, karena kami yang berjuang Papua Merdeka tidak pernah kompromi politik dengan Jakarta. Kami tetap berjuang sampai Papua Merdeka penuh dari tangan pelenggu Colonial NKRI. Apa lagi CAPRES-CAPRES ini adalah pembunuh Rakyat Papua. Untuk lebih lengkapnya silakan click di sini, Operasi Militer Paska Pembebasan Sandera di Mapenduma Papua 1996.  Ekspedisi Lorentz 95, Penyelamatan Mapenduma salah satu pencapaian Prabowo saat menjadi pimpinan Kopassus adalah Operasi Pembebasan Sandera Mapenduma. Saat itu, 12 peneliti disekap oleh Organisasi Papua Merdeka. Pada gambar ini, Prabowo menyalami salah satu peneliti yang berhasil dibebaskan.


    Pada tahun 1996, Komandan Kopassus Prabowo Subianto memimpin operasi pembebasan sandera Mapenduma. Operasi ini berhasil menyelamatkan nyawa 10 dari 12 peneliti Ekspedisi Lorentz ’95 yang disekap oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM). Lima orang yang disandera adalah peneliti biologi asal Indonesia, sedangkan 7 sandera lainnya adalah peneliti dari Inggris, Belanda dan Jerman.[12] Namun, operasi ini dikritik karena menggunakan lambang Palang Merah pada helikopter putih untuk menipu anggota OPM.[4][13]


    Kejahatan Pabowo Subianto boleh ikuti link video dan article yang kami cantumkan dibawah ini.Silakan click masing-masing dari delapan bagian dibawah kemudian bisa nonton videonya online atau anda boleh downloda dulu.
    Notes:
    Prabowo Subianto adalah Pelaku Genocide di Papua Bara,
    maka harus segera ditangkap dan di adili di Pengadilan Criminal Internasional
     
    By Sebby Sambom
    An Independence Activist of West Papua
    Former West Papuan Political Prisoner
    ——————————————
    Admin

    Mantan Gerilyawan GAM Asal Papua

    Mantan Gerilyawan GAM Asal Papua

    Abdul Halim alias Ayah Papua

    KONFLIK Aceh telah 7 tahun berakhir. Namun masih banyak kisah haru, heroik, dan sisi-sisi kemanusiaan yang belum terungkap. Salah satunya adalah tentang sosok Abdul Halim (52) alias Bang Yan alias Ayah Papua. Mungkin ia menjadi satu-satunya putra Papua yang berjuang di hutan Aceh.

    Kini, saat Aceh mulai damai, ia memendam hasrat untuk memberi contoh kepada keluarga dan teman-temannya di tanah Papua, tentang bagaimana berjuang mengangkat harkat dan martabat rakyat Papua, tanpa harus lagi mengorbankan nyawa manusia.

    Terlahir dari Keluarga Pendiri OPM

    GAYA bicaranya blak-blakan, logat bahasa Indonesianya masih seperti orang Papua. Jika bukan dari gaya bicaranya, orang tidak menyangka kalau pria berperawakan kecil ini adalah orang Papua asli. Apalagi, rambut kriwil khas Papua, tertutup oleh topi pet berbahan campuran kain dan karet di kepalanya.

    "Saya lahir di Manokwari, tanggal 21 Juli 1950, dari keluarga pejuang OPM (Organisasi Papua Merdeka). Ayah saya, Pieter Bonsapia adalah salah satu pendiri OPM," ujar Abdul Halim alias Ayah Papua, dalam bincang-bincang dengan Serambi di sebuah warung kopi, di Uleekareng, Banda Aceh, Sabtu (21/1).

    Ia menyeruput kopi dalam-dalam. Rokok kretek merek Dunhill nyaris tidak pernah lepas dari celah dua bibirnya. Padahal, asbak di depan kami nyaris sudah penuh dengan puntung rokok miliknya.

    Baru setengah jam duduk, dia sudah minta tambah satu gelas kopi lagi kepada pelayan warung. "Kami di Papua biasanya minum kopi dalam gelas besar," kata dia sambil memeragakan ukuran gelas dengan tangannya.

    "Bukan 'kopi' dalam botol?" goda temannya yang juga mantan aktivis GAM. "Kadang-kadang juga," sahut Ayah Papua sambil cengar cengir.

    Ayah Papua memang sosok yang enak diajak bicara. Meski baru kenal, dia langsung bisa akrab dan bercerita panjang lebar tentang kisah hidupnya. Mulai dari saat SMA di Sorong, hingga kisah-kisah heroik saat harus bergerilya di Aceh masa konflik dulu.

    Sebagai putra pejuang, Ayah Papua sudah biasa ditinggal pergi oleh ayahnya. "Pada tahun 1974, ayah saya hijrah ke Vanuatu, dan mulai saat itu beliau kerap keluar masuk Papua-Vanuatu melalui jalur ilegal," ungkapnya.

    Meski kerap ditinggal pergi ayahnya, tak membuat Abdul Halim tertinggal dari segi pendidikan. Selepas SMA di Sorong (kini Papua Barat), Abdul Halim melanjutkan pendidikannya ke Akademi Ilmu Pelayaran Surabaya. Namun, Halim hanya bertahan selama dua tahun. Ia kemudian memutuskan pindah ke Institut Ilmu Pemerintah (IIP) di Jakarta. Namun, lagi-lagi Halim hanya sanggup bertahan selama dua tahun. "Saya baru mendapat sarjana setelah ambil persamaan di Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang," ujarnya.

    Ijazah S-1 dari Politeknik Semarang itu tidak disia-siakannya. Dengan dasar tersebut, Halim melanjutkan kuliah untuk mengambil spesialisasi bidang Well Control di University Austin Texas, Amerika Serikat.

    Selepas dari Texas, Abdul Halim alias Ayah Papua, mulai bekerja di Continental Oil Company (Conoco), sebagai tenaga bidang pengeboran minyak lepas pantai. Pekerjaan ini lah yang mengantarnya bersentuhan dengan Aceh. "Tahun 1979, saya menikah dengan gadis Aceh Rosdiana Juned, di Tapanuli Selatan. Kami kenal di sana (Tapsel)," ujarnya.

    Setahun di Tapsel, Abdul Halim dikontrak oleh perusahaan pengeboran minyak Mobil Oil untuk ditugaskan di wilayah Aceh Timur. Di sinilah dia mulai bersentuhan dengan para aktivis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). "Saat itu saya mulai tertarik dengan perjuangan mereka (GAM), tapi saya belum terlibat aktif," ujarnya.

    Bergerilya di Rimba Aceh

    Baru pada tahun 1986, dia mulai mencoba-coba aktif di GAM dengan tugas pertama sebagai petugas di bidang komunikasi (radio). Meski mulai aktif di GAM, Abdul Halim tetap menjalani tugas rutinnya yang pada tahun 1987 menjadi staf pengeboran di perusahaan Medco, subkontrak Mobil Oil di bidang pengeboran.

    "Keterlibatan saya di GAM bukan serta merta, melainkan melalui sebuah pemikiran cukup panjang. Akhirnya saya ambil kesimpulan bergabung karena menurut saya ini adalah perjuangan mulia, untuk mengembalikan harkat dan martabat rakyat Aceh," ujarnya.

    Keputusan Ayah Papua bergabung dengan GAM bukan tanpa konsekwensi, saat pemberlakuan status Daerah Operasi Militer (DOM) pada tahun 1989, Ayah Papua harus meninggalkan pekerjaan yang baru satu tahun digelutinya di Medco.

    "Pada tahun 1989 saya hijrah ke Malaysia, dan baru kembali menjelang satu tahun pencabutan status DOM (1998). Setelah status DOM dicabut, kami kembali aktif membangun kekuatan dengan di bawah komando Analfiah Julok.

    Sejak itu, berbagai kisah heroik dialaminya. Sebagai pejuang Ayah Papua, jarang berkumpul dengan keluarganya. Kondisi Ayah Papua Cs semakin terjepit saat pemerintah RI menetapkan status Darurat Militer pada tahun 2003.

    "Saat itu kami kerap keluar masuk Aceh. Kebanyakan dari kami membuat basis di Kerinci, Jambi. Banyak dari teman-teman kami meninggal di medan perang. Alhamdulillah, saya masih dilindungi, hingga bisa menikmati perdamaian saat ini," ujarnya mengenang.

    Dua dari tujuh anaknya (2 perempuan 5 laki-laki), juga aktif di GAM. "Satu orang TNA (tentara GAM) dan satu lainnya sipil," terang dia.

    Panggilan Ayah Papua

    Saat tsunami menerjang Aceh 26 Desember 2004, Ayah Papua menjadi salah satu orang pertama yang paling terpukul. Tanpa memedulikan statusnya sebagai buronan aparat keamanan, Ayah Papua bekerja keras untuk mengevakuasi mayat-mayat yang berserakan di seputar Banda Aceh dan Aceh Besar.

    "Saat itu, banyak relawan datang dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka lebih suka memanggil saya Ayah Papua. Padahal nama saya Abdul Halim, sementara saat konflik dulu, saya dikenal dengan nama Sofyan atau Bang Yan," ujarnya.

    Aceh dan Papua Kerangka Indonesia

    SEJAK menetap di Aceh pada tahun 1980, Abdul Halim alias Ayah Pupua telah melewati berbagai pengalaman hidup yang akan diceritakan kepada anak cucunya kelak. Tentang bagaimana ia meninggalkan pekerjaannya di perusahaan minyak, untuk kemudian keluar masuk hutan dengan memanggul senjata. Juga tentang bagaimana ia memunguti mayat para korban konflik dan korban bencana tsunami terdahsyat di abad ini.

    Meski usianya sudah berkepala lima, bukan berarti Ayah Papua tidak lagi punya cita-cita. "Saya memendam hasrat untuk membagikan ilmu tentang perdamaian di Aceh ini kepada teman-teman di Papua. Bahwa berjuang itu tidak mutlak dengan senjata. Sudah cukup mereka berjuang puluhan tahun dengan senjata, kini saatnya mereka harus berjuang melalui jalur politik, seperti yang dilakukan teman-teman saya di Aceh," ujarnya.


    Ia berpendapat, perdamaian Aceh yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, bukan saja telah menyelamatkan nyawa ribuan rakyat Aceh dan Indonesia. Tapi, perdamaian yang melahirkan butir-butir kesepahaman (MoU) Helsinki dan Undang-undang Pemerintah Aceh (UUPA), juga telah mengangkat harkat dan martabat rakyat Aceh.

    "Orang-orang Aceh yang dulu terpinggirkan dan tinggal di desa-desa, kini telah bisa menjadi pemimpin formal yang diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia. Hasil perjuangan ini juga melahirkan para pemuda kritis dan pintar. Ini merupakan aset bagi Aceh untuk bisa berbicara lebih banyak lagi di tingkat nasional," ujarnya.

    "Saat delegasi masyarakat adat Papua dan DPR Papua berkunjung ke Aceh beberapa waktu lalu, saya menyerahkan dokumen MoU Helsinki dan UUPA. Saya bilang, generasi Papua harus banyak belajar ke Aceh, harus banyak orang Papua datang melihat Sabang. Jangan hanya melihat Mereuke saja. Mereka harus sadar bahwa Aceh dan Papua adalah kerangka berdirinya Indonesia," tambah dia.

    Pendapat bahwa Aceh dan Papua adalah kerangka Indonesia, kata Ayah Papua, didasarkan pada lirik lagu "Dari Sabang Sampai Mereuke" ciptaan R. Surarjo. Lirik yang dimaksudnya;

    "Dari Sabang sampai Merauke, Berjajar pulau-pulau,...
    "Sambung-menyambung menjadi satu Itulah Indonesia...."

    "Dari lagu itu jelas bahwa pemilik Indonesia sesungguhnya adalah Aceh dan Papua, yang lainnya numpang. Makanya, saya selalu bilang, kalau mau memperbaiki Indonesia, maka perhatikan dulu Aceh dan Papua. Selama ini pemerintah hanya membangun wilayah tengah saja. Sedangkan kerangkanya (Aceh dan Papua) diabaikan. Apa tidak hancur bangsa ini," ujarnya penuh semangat.

    Atas dasar itu pula, saat ini Ayah Papua sedang mencoba menjajaki memfasilitasi perdamaian di Papua melalui Interpeace, lembaga yang hingga kini masih mengawal perdamaian di Aceh. Dia akan mengajak para pemuda Aceh untuk menurunkan ilmunya kepada masyarakat di Papua.

    "Mereka (warga Papua) harus meningkatkan harkat dan martabat bangsa Papua, tidak hanya sekedar berani mati. Kalau modal nekat, sudah dimiliki pejuang di Papua. Sekarang tinggal dikombinasikan dengan ilmu politik yang mumpuni," katanya.

    Lalu apakah kondisi Aceh saat ini sudah cukup ideal?

    "Belum, masih butuh perjuangan panjang. Tapi saya pikir, Aceh sudah lebih baik daripada Papua. Saya pikir, yang perlu dilakukan di Aceh setelah proses reintegrasi selesai, adalah regenerasi. Secara perlahan, para pemimpin Aceh harus menyerahkan tongkat kepemimpinan di beberapa bidang kepada para pemuda. Sehingga suatu hari nanti, mereka benar-benar telah siap memimpin dan mewujudkan kesejahteraan, serta mengangkat harkat dan martabat rakyat Aceh," ujarnya.

    Ayah Papua yang kini aktif di Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Aceh ini juga punya saran kepada pemerintah pusat untuk tidak mengabaikan aspirasi dari para mantan kombatan GAM.

    "Perjuangan hari ini adalah perjuangan dengan konsentrasi dan penuh perdamaian. Jadi bangsa ini tolong hargai aspirasi mereka. Sebab kalau tidak dihargai, kita akan membuka ruang bagi terjadinya upaya penghancuran kerangka Republik ini," tukas Ayah Papua.

    Mengomentari tentang aksi penembakan yang marak terjadi di Aceh beberapa waktu lalu, Ayah Papua mengaku tidak yakin kalau aksi itu dilakukan oleh para mantan kombatan. Apalagi sampai dikait-kaitkan dengan sentimen anti-Jawa di Aceh.

    "Saya sudah merasakan saat bergabung dengan GAM, tidak ada perbedaan ras dan warna kulit. Semua penduduk ber- KTP Aceh punya kesempatan yang sama untuk berkiprah di partai Aceh. Jadi kami para mantan kombatan, tidak pernah anti dengan pendatang. Bahkan banyak kombatan berasal dari suku Jawa," tukas Ayah Papua.[]

    (*/Laporan Wartawan Serambi Indonesia Zainal Arifin M. Nur)

    By: @atjehcyber — http://www.atjehcyber.net/2012/01/kisah-mantan-gerilyawan-gam-asal-papua.html#ixzz36NJd1ThV
     
     photo bendera-bintang-kejora-dan-cewek-bule-jpg1_zps4a30c64f.jpg
     photo SALAMPEMBEBASANDANREVOLUSI_zpsbdffla8q.gif