photo fgr_zpsa263fa65.gif

Headlines News :

 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
Marilah Berjuang Dengan Sunguh-Sunguh Dan Serius, Setia, Jujur, Bijaksana, Aktif Serta Kontinuitas. Diberdayakan oleh Blogger.
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    ★★★Berita Duka ★★★

     photo Banner2_zps5035c662.jpg

    ★★★Radar Malang★★★

    Tampilkan postingan dengan label west papua independence. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label west papua independence. Tampilkan semua postingan

    OPM ada atas dasar; Harga Diri, Hak, Budaya, Latar belakang sejarah, Realitas sekarang, dan Dampak kedepannya. BUKAN merupakan Gerakan Separatis. Melainkan, jiwa kemanusiaan.

    OPM ada atas dasar; Harga Diri, Hak, Budaya, Latar belakang sejarah, Realitas sekarang, dan Dampak kedepannya. BUKAN merupakan Gerakan Separatis. Melainkan, jiwa kemanusiaan.

    Operasi Trikora konflik selama 2 tahun yang dilancarkan Indonesia untuk menggabungkan wilayah Papua Barat. Pada tanggal 19 Desember 1961, Soekarno (Presiden Indonesia) mengumumkan pelaksanaan Trikora di Alun-alun Utara Yogyakarta.

    Soekarno juga membentuk Komando Mandala. Mayor Jenderal Soeharto diangkat sebagai panglima. Tugas komando ini adalah merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua Barat ke Indonesia.

    Saat Operasi Trikora berjalan, di saat itu lah ada perlawanan. Dan sampai saat ini masih ada sikap Perlawanan dari rakyat Papua Barat secara umum. Stigma yang dibangun oleh rezim Republik Indonesia adalah OPM itu Separatis. Apakah betul? TIDAK. 

    Sikap Perlawanan inilah yang dikatakan Separatis.
    Mengapa Masih Ada Sikap Perlawanan?

    Indonesia dan Papua Barat sama-sama merupakan bagian penjajahan Belanda dan Jepang, kedua bangsa ini sungguh tidak memiliki garis paralel maupun hubungan politik sepanjang perkembangan sejarah. Analisanya adalah sebagai berikut: 

    Pertama; Sebelum adanya penjajahan asing, setiap suku, yang telah mendiami Papua Barat sejak lebih dari 50.000 tahun silam, dipimpin oleh kepala-kepala suku (tribal leaders). Untuk beberapa daerah, setiap kepala suku dipilih secara demokratis sedangkan di beberapa daerah lainnya kepala suku diangkat secara turun-temurun.

    Hingga kini masih terdapat tatanan pemerintahan tradisional di beberapa daerah, di mana, sebagai contoh, seorang Ondofolo masih memiliki kekuasaan tertentu di daerah Sentani dan Ondoafi masih disegani oleh masyarakat sekitar Yotefa di Numbai.

    Dari dalam tingkat pemerintahan tradisional di Papua Barat tidak terdapat garis politik vertikal dengan kerajaan-kerajaan kuno di Indonesia ketika itu.

    Kedua; Rakyat Papua Barat memiliki sejarah yang berbeda dengan Indonesia dalam menentang penjajahan Belanda dan Jepang. 

    Misalnya, gerakan Koreri di Biak dan sekitarnya, yang pada awal tahun 1940-an aktif menentang kekuasaan Jepang dan Belanda, tidak memiliki garis komando dengan gerakan kemerdekaan di Indonesia ketika itu.

    Gerakan Koreri, di bawah pimpinan Stefanus Simopiaref dan Angganita Manufandu, lahir berdasarkan kesadaran pribadi bangsa Melanesia untuk memerdekakan diri di luar penjajahan asing.

    Ketiga; Lamanya penjajahan Belanda di Indonesia tidak sama dengan lamanya penjajahan Belanda di Papua Barat.

    Indonesia dijajah oleh Belanda selama sekitar 350 tahun dan berakhir ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949. Papua Barat, secara politik praktis, dijajah oleh Belanda selama 64 tahun (1898-1962). 

    Keempat; Batas negara Indonesia menurut proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 adalah dari »Aceh sampai Ambon«, bukan dari »Sabang sampai Merauke«.

    Mohammed Hatta (almarhum), wakil presiden pertama RI dan lain-lainnya justru menentang dimasukkannya Papua Barat ke dalam Indonesia (lihat Karkara lampiran I, pokok Hindia Belanda oleh Ottis Simopiaref). 

    Kelima; Pada Konferensi Meja Bundar (24 Agustus - 2 November 1949) di kota Den Haag (Belanda) telah dimufakati bersama oleh pemerintah Belanda dan Indonesia bahwa Papua Barat tidak merupakan bagian dari negara Republik Indonesia Serikat (RIS).

    Status Nieuw-Guinea akan ditetapkan oleh kedua pihak setahun kemudian. (Lihat lampiran II pada Karkara oleh Ottis Simopiaref). 

    Keenam; Papua Barat pernah mengalami proses dekolonisasi di bawah pemerintahan Belanda. Papua Barat telah memiliki bendera national »Kejora«, »Hai Tanahku Papua« sebagai lagu kebangsaan dan nama negara »Papua Barat«. Simbol-simbol kenegaraan ini ditetapkan oleh New Guinea Raad / NGR (Dewan New Guinea).

    NGR didirikan pada tanggal 5 April 1961 secara demokratis oleh rakyat Papua Barat bekerjasama dengan pemerintah Belanda. Nama negara, lagu kebangsaan serta bendera telah diakui oleh seluruh rakyat Papua Barat dan pemerintah Belanda.

    Ketujuh; Dari 1 Oktober 1962 hingga 1 Mei 1963, Papua Barat merupakan daerah perwalian PBB di bawah United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA) dan dari tahun 1963 hingga 1969, Papua Barat merupakan daerah perselisihan internasional (international dispute region).

    Kedua aspek ini menggaris-bawahi sejarah Papua Barat di dunia politik internasional dan sekaligus menunjukkan perbedaannya dengan perkembangan sejarah Indonesia bahwa kedua bangsa ini tidak saling memiliki hubungan sejarah.

    Kedelapan; Pernah diadakan plebisit (Pepera) pada tahun 1969 di Papua Barat yang hasilnya diperdebatkan di dalam Majelis Umum PBB. Beberapa negara anggota PBB tidak setuju dengan hasil Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) karena hanya merupakan hasil rekayasa pemerintah Indonesia (P.J. Drooglever, 2005). 

    Adanya masalah Papua Barat di atas agenda Majelis Umum PBB menggaris-bawahi nilai sejarah Papua Barat di dunia politik internasional.

    Ketidaksetujuan beberapa anggota PBB dan kesalahan PBB dalam menerima hasil Pepera merupakan motivasi untuk menuntut agar PBB kembali memperbaiki sejarah yang salah. Kesalahan itu sungguh melanggar prinsip-prinsip PBB sendiri. (Silahkan lihat lebih lanjut pokok tentang Pepera dalam Karkara oleh Ottis Simopiaref).

    Kesembilan; Rakyat Papua Barat, melalui pemimpin-pemimpin mereka, sejak awal telah menyampaikan berbagai pernyataan politik untuk menolak menjadi bagian dari RI. Frans Kaisiepo (almarhum), bekas gubernur Irian Barat, pada konferensi Malino 1946 di Sulawesi Selatan, menyatakan dengan jelas bahwa rakyatnya tidak ingin dihubungkan dengan sebuah negara RI (Plunder in Paradise oleh Anti-Slavery Society).

    Johan Ariks (alm.), tokoh populer rakyat Papua Barat pada tahun 1960-an, menyampaikan secara tegas perlawanannya terhadap masuknya Papua Barat ke dalam Indonesia (Plunder in Paradise oleh Anti-Slavery Society).


    Kesepuluh; Pada bulan Desember 1950, PBB memutuskan bahwa Papua bagian barat memiliki hak merdeka sesuai dengan pasal 73e Piagam PBB. Karena Indonesia mengklaim Papua bagian barat sebagai daerahnya, Belanda mengundang Indonesia ke Mahkamah Internasional untuk menyelesaikan masalah ini, namun Indonesia menolak.

    HAK MENENTUKAN NASIB SENDIRI ADALAH SOLUSI DEMOKRASI BANGSA PAPUA BARAT MELALUI MEKANISME "REFERENDUM"

    Publisher By Media dan Propaganda AMP KK Malang - Surabaya
    Situs ini adalah situs online aktivis suara papua merdeka yang dikembangkan oleh Biro Media dan Propaganda Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Malang-Surabaya. Anda diperkenankan untuk BERBAGI (menyalin dan menyebarluaskan kembali materi ini dalam bentuk atau format apapun) dan ADAPTASI (menggubah, mengubah, dan membuat turunan dari materi ini untuk kepentingan apapun, termasuk kepentingan komersial). Informasi dalam situs ini masih harus dikonfirmasi kepada pengelola situs di melanesiapost@gmail.com (Activis Independence of Papua/Pengembang Situs)

    Tentara Revolusi West Papua Menyambut Gembira atas Keputusan MSG

    Tentara Revolusi West Papua Menyambut Gembira atas Keputusan MSG

    "HORMAT & SALUT"

    Kepada seluruh pemimpin negara-negara Melanesia yang telah mengambil langkah-langkah konkrit seagai tanggapan dan tindak-lanjut dari laparan West Papua Natinal Coalition for Liberation (WPNCL) untuk menadi anggota MSG mewakili bangsa Papua.

    Persoalan kita orang Melanesia saa ini ialah pendudukan NKRI di Tanah Papua. Untuk itu para pemimpin negara-negara Melanesia telah mengambil langkah berani dan bersejarah dalam menanggapi isu West Papua secara resmi di forum MSG. Para pemimpin negara-negara Melanesia telah mengambil langkah berani mengagendakan dan membicarakan, selanjutnya menindak-lanjuti keputusan MSG untuk datang ke Tanah Papua dan melihat langsung kondisi dan realitas kehidupan orang Melanesia di atas tanah leluhurnya, di mana di bagian Timur orang Papua hidup bebas, merdeka dan damai, sementara di bagian barat pulau dan bangsa yang sama hidup dalam pendudukan, penjajahan, intimidasi dan teror dan nasib jaminan keselamatan hidup yang tidak pasti.

    Kalian telah saksikan dan ambil kesimpulan sendiri mengapa semua Menteri Luar Negeri Melanesia diterbangkan ke Tanah Papua pada malam-malam hari dan tiba pagi-pagi buta, diperlakukan selayaknya penjahat perang atau teroris. Kalian paham mengapa orang Papua asli dan masyarakat di pasar atau jalanan pun kalian sulit temui. Itu orang-orang kalian sendiri, tetapi kalian dilarang untuk saling sapa dan tegur. Kalian tinggalkan pulau New Guinea ratusn-ribu tahun lalu dan baru pertama-kali mendapatkan kesempatan datang lihat tanah-leluhur kalian sendiri, tetapi diperlakukan seperti orang pencuri, diangkut seperti penjahat, dijaga seperti kami yang pencuri dan meraka yang tuan rumah di sini.

    Tetapi itu semua kalian telan mentah-mentah. Kami tahu, walaupun kalian dongkol dan jiwa kalian berteriak merontak, kalian bertahan, menahan emosi dan air mata. Itu pasti dan jelas.

    Kami salut, kami bangga, kalian politisi yang dapat kami andalkan untuk memainkan peran di wilayah kami dalam menyelesaikan berbagai persoalan di kawasan ini.

    Komunike yang kalian keluarkan sama-sekali tidak menunjukkan suasana hati, suara bathin kalian yang sesungguhnya, akan tetapi kami maklum dan akui semuanya bernuansa dalam rangka menyelamatkan saudara-saudara kalian, kami orang Melanesia yang ada di baigan barat Pulau New Guinea ini.

    Walaupun kami telah lama berdoa dan mengharapkan langkah drastis diambil oleh para pemimpin Melanesia sekalian, tetapi terbukti sekarang bahwa hal itu secara real-politik merupakan harapan muluk-muluk yang tidak sesuai kondisi lapangan hati dan batin para pempimpin sekalian.
    Telah tepat dikatakan oleh Perdana Menteri PNG menjelang kunjungan para Menlu Melanesia ke Tanah Papua dan setelah bertemu dengan Presiden kolonial Indoensia di Jakarta, bahwa politik Melanesia sekarang ini haruslah diawali dengan "politics of engagement". Dan politik itu kami dari rimbaraya New Guinea mendukung sepenuhnya, walaupun kami sendiri tidak terlibat dalam "engagement" dimaksud.
    Organisasi sayap politik perjuangan Papua Medeka, yaitu Organisasi Papua Merdeka (OPM) akan terlibat langsung memonitor dan menindak-lanjuti keputusan-keputusan yang telah diambil, sebagai "Keputusan orang Melanesia menyikapi pendudukan Melayu-nesia di atas Tanah Papua" Dalam semboyan "Melanesian-hood" dan Melanesian Solidarity, kami memandang keputusan para pemimpin negara-negara Melanesia yang sudah merdeka ialah keputusan kami juga, karena kani sebagai satu ras dan satu umat manusia di dunia ini mengalami pengalaman penjajahan dan penderitaan yang sama bersama kami di Tanah Papua.

    Penjajahan yang terjadi atas Tanah dan Bangsa Papua ialah penajajah oleh orang Melayu terhadap orang Melanesia, bukan sebatas orang Papua saja. Ini wujud kolonialisme yang nyata dan harus dihapuskan dari peta politik Bumi. Untuk itu langkah-langkah yang telah disepakati lewat Komunike bersama yang telah dikeluarkan menyangkut West Papua kami sambut gembira dengan dengan ucapan terimakasih kepada Tuhan Pencipta dan Pelindung Kami, Yesus Kristus sebagai Panglima Tertinggi Revolusi Melanesia yang dipimpin General TRWP Mathias Wenda di Markas Pusat Pertanahan Tentara Revolusi West Papua.

    Kami menyampaikan Selamat dan Sukses kepada Teman-Teman kami dari Kanaky, di mana sebagian besar kemenangan telah diraih  dan kini tinggal tunggu tanggal jajak pendapat untuk menentukan nasib sendiri. Teman-teman kalian di Tanah Papua bagian Barat juga sedang berjuang dengan segala kekurangan dan kelemahan. Kami tetap berjuang mengikuti ketukan palu dengan dirigen paduan suara yang kini dipimpin Papua New Gunea, saudara sekandung, seibu-sebapak, sepulau, setanah, setanah air kami. Kami percaya sejelek apapun saudara, engkau tetap saudara, kami tetap saudara, dan ke-Papua-an itu tidak akan punah dari planet Bumi hanya karena penjajahan NKRI, hanya karena pendudukan kekuasaan imperialis asing. Kami percaya kekuatan itu pula akan membebaskan kita semua orang Papua di pulau New Guinea dan orang Melanesia sekaligus dari pengaruh imperialisme dan kolonialisme.

    Pada saat kekuatan imperialisme dan kolonialisme keluar dari Tanah Papua, maka pada waktu itulah "Melanesia" yang sebenarnya akan nampak, Melanesia yang utuh akan kelihatan, Melanesia yang sejati akan bersuara di pentas politik regional dan global. Sebelum itu, mari kita bekerja keras mengusir penjajahan NKRI dari tanah air dan tanah leluhur kita.

    Dalam nama nenek-moyang dan leluhur bangsa Papua ras Melanesia, atas nama para pahlawan perjaungan Papua Merdeka yang telah gugur di medan pertemuran dan perjuangan, atas nama orang tua dan anak-anak, lelaki dan perempuan Papua, atas nama tumbuhan dan hewan, benda alam di atas udara, tanah dan air, sekaligus anak-cucu yang akan lahir dair Sorong sampai Samarai, dari Dili Timor Leste sampai Nadi, Fiji, yaitu atas nama Tuhan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Tokor Revolusionar semesta alam sepanjang masa.

    Dikeluarkan di: Markas Pusat Pertahanan
    Pada tanggal: 28 Juni 2018
    ===================================
    Seretary-General,
    Amunggut Tabi, Lt. Gen. TRWP

    Source:papuapost.com
    Situs ini milik Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komute Kota Surabaya-Malang, copyright@SPM News Group Online Services dan dikelolah oleh Biro Pendidikan dan Propaganda.

    Mahasiswa Papua Harus Mengakhiri Sejarah Penderitaan Ini

    Mahasiswa Papua Harus Mengakhiri Sejarah Penderitaan Ini, Bukan Memperjuangkan Sejarah Kolonial NKRI (Indonesia Merdeka).

    Mencari...... Mengejar.... Dan menuntut ilmu dari ujung timur ke ujung barat Menyebrangi lautan dan samudra Melintasi daratan dan pegunugan Meninggalkan negeri tercinta dan sanak saudara.... Hanya demi mengejar impian Impian bukan kenyataan Kenyataan bukan lagi harapan Berjuang demi mencapai impian Tidak semudah apa yang di bayangkan demi meraih impian itu butuh tenaga, pikiran, waktu dan moril langkah demi-langkah tahap-demi tahap Rasa pahit.... Rasa sedih.... Rasa duka..... Tangisan dan air mata selalu menghiasi jiwa ku Namun ku sadari bahwa hidup adalah perjuangan. 

    Tidak semudah yang ku bayangkan Rasa pahit, sedih, duka, tangisan air mata bukanlah menjadi penghalang bagi diriku untuk melangkah Namun… Ku tetap maju langkah demi langkah, Tahap demi tahap hingga impian ku terwujud mejadi kenyataan Karena hidup ku di negeri orang jauh dari keluarga dan sanak saudara tiada seorang pun yang menemani,dan menghibur ku Doalah yang menjadi senjata dan musiklah yang menjadi penghibur dalam perjuangan ku .

    Salam juang kepada kawan-kawan seperjuangan revolusioner sejati yang telah berjuang dan telah gugur mendahului kami, yang sedang berjuan dan akan berjuang (Next Generation) untuk tetap teguh setia dalam setiap langkah perjuangan bersama " KEBENARAN SEJARAH SANG BINTANG KEJORA" untuk tetap berteriak, aktif menulis menari-nari dengan pena dan katakan pada dunia bahwa :


                           ::::::: Saalam Pembasan dan Salam Revolusi::::::::


    Foto Belinus Michael Kilungga.Foto Belinus Michael Kilungga.
    Situs ini adalah situs online aktivis suara papua merdeka yang dikembangkan oleh Biro Media dan Propaganda Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Malang. Anda diperkenankan untuk BERBAGI (menyalin dan menyebarluaskan kembali materi ini dalam bentuk atau format apapun) dan ADAPTASI (menggubah, mengubah, dan membuat turunan dari materi ini untuk kepentingan apapun, termasuk kepentingan komersial). Informasi dalam situs ini masih harus dikonfirmasi kepada pengelola situs di melanesiapost@gmail.com (Activis Independence of Papua/Pengembang Situs)

    Kasus orang Papua atau pejuang Merdeka, atau tokoh Papua menyerahkan diri kepada NKRI ialah keputusan individu, pilihan oknum masing-masing orang Papua, tidak dipaksakan, tidak ada larangan

    Kasus orang Papua atau pejuang Merdeka, atau tokoh Papua menyerahkan diri kepada NKRI ialah keputusan individu, pilihan oknum masing-masing orang Papua, tidak dipaksakan, tidak ada larangan.

    Keputusan untuk menyerahkan diri, atau menyerah kepada NKRI atau pihak manapun oleh orang Papua, bukanlah cerita baru, dan bukan juga hasil kerja keras NKRI dalam meng-indonesia-kan orang Papua. Oleh karena itu, semua organisasi, tokoh dan aktivis Papua Merdeka tidak perlu merasa kecolongan, apalagi merasa dikalahkan oleh kaum penjajah yang berdiri di pihak Ibilis sebagai Kepala Penipu sedunia dan sepanjang masa;

    Kasus orang Papua atau pejuang Merdeka, atau tokoh Papua menyerahkan diri kepada NKRI ialah keputusan individu, pilihan oknum masing-masing orang Papua, tidak dipaksakan, tidak ada larangan. Sebagaimana kita semua memulai perjuangan ini tanpa dipaksa, tanpa didesak, dan tanpa dijanjikan apapun oleh siapapun, demikian pula, ketika siapa saja mengakhiri bergabung dengan perjuangan ini dan menyerahkan diri kepada kaum penjajah, maka semua organisasi, tokoh dan aktivis Papua Merdeka tidak perlu menyalahkan, menyudutkan, mengecam, bahkan mengutuk tindakan sedemikian. Sudah banyak tokoh Papua Merdeka telah menyelesaikan tugas-tugas negara dan kini menjadi bagian dari masyarakat Papua di kota dan kampung di Tanah air, dan itu merupakan sebuah keputusan yang bijak dalam rangka melanjutkan kehidupan masing-masing.

    Oleh karena itu, siapapun tahu bahwa penyerahan diri oknum tokoh, aktivis Papua merdeka ialah tindakan individu, yang patut kita hargai karena diputuskan dengan pertimbangan-pertimbangan matang dan dalam keadaan sadar. Kita ptut mengucapkan terimakasih sedalam-dalamnya atas perjuangan yang telah membesarkan nama OPM dan pasukan gerilyawan di Rimba Raya New Guinea. Tidak-lah berarti Organisasi Papua Merdeka dan Tentara Revolusi West Papua bubar, atau menghentikan atau mengendorkan perjuangan Papua Merdeka. Dengan berdirinya ULMWP, maka kegiatan-kegiatan gerilya memang harus di-pending selama beberapa waktu, untuk memberikan peluang kepada para diplomat dan politisi Papua Merdeka mengerjakan tugas-tugas diplomasi dan politik mereka, terutama di kawasan Melanesia.

    NKRI mau menunjukkan kepada bangsa Papua dan masyarakat Melanesia bahwa perjuangan Papua Merdeka menjadi macet karena penyerahan diri Jend. Tabuni, akan tetapi hitungan itu salah besar, karena langkah politik Papua Merdeka sudah beberapa tahun lebih duluan daripada cara penjajah NKRI. Mereka salah langkah, karena kepemimpinan perjuangan Papua Merdeka sekarang bukan lagi di Rimba dan di Gerilya Rimba, tetapi sudah ada di meja politik dan diplomasi. Biarpun ribuan gerilyawan TPN dan OPM menyerah, Activis Independence Papua tidak akan menyerah
    Situs ini adalah situs online aktivis suara papua merdeka yang dikembangkan oleh Biro Media dan Propaganda Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Malang. Anda diperkenankan untuk BERBAGI (menyalin dan menyebarluaskan kembali materi ini dalam bentuk atau format apapun) dan ADAPTASI (menggubah, mengubah, dan membuat turunan dari materi ini untuk kepentingan apapun, termasuk kepentingan komersial). Informasi dalam situs ini masih harus dikonfirmasi kepada pengelola situs di melanesiapost@gmail.com (Activis Independence of Papua/Pengembang Situs)

    Mahasiswa Papua Wisuda Untuk Papua Merdeka, Bukan Untuk Kolonial NKRI

    Ucapan Selamat Untuk Sahabat Seperjuangan Yang Telah Wisuda :
                                                 
       Jekson Huby, S.Kom.MM 

    “Menari dalam kegelapan malam menghalangi tajamnya mata yang bersinar, namun dalam gelapnya itu masih kurasakan adanya seorang sahabat yang berdiri menjagaku dalam kegelapan, terimak kasih atas semua kenangan yang selalu terpendam dalam ingatan. Congratulation for your Graduation, semoga ilmunya lebih bermanfaat lagi”

    “Setelahnya kita berjalan bersama, berlari bersama dan terkadang berhenti bersama dalam pahitnya kehidupan, kini kita telah berdiri menghadapi awalnya dari perjuangan. Selamat atas wisudanya sahabat, meskipun kita akan berpisah namun tetap harus dalam satu tujuan”

    “Semangat dalam berjuang adalah faktor utama dalam mencapai sebuah tujuan. Selamat untuk wisudanya dan selamat menempuh perjuangan baru sahabat”

    “Setelah beberapa lama kita menjalani hari-hari bersama, kini waktunya kita berpisah dalam sebuah perjuangan yang tak boleh pernah kita hentikan. Happy Graduation my best friend”

    TETAP PADA POSISI PROGRESIF-MILITAN-PATRIOTIIK FOR FREE WEST PAPUA INDEPENDENCE UNITED NATION

    By : Anak Jalanan Negeri West Papua
    For You My Best Friend Jack H Jeck (Bob)
    Mantan Ketua Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Malang
    Periode 2011-2013
     
     
    Tugasmu OAP: Berjuang Hingga Papua Merdeka!

    Setelah 50 tahun lebih berjuang untuk kemerdekaan Papua Barat, tersisalah kita yang tak lebih dari 2 juta orang asli Papua (OAP) ini pada puing-puing kehancuran bangsa. Akibat-akibat penjajahan sudah semakin jelas terlihat. Kita minoritas di atas tanah air sendiri. Alam Papua milik kita dieksploitasi dan mereka biarkan kita miskin. Pembunuhan di mana-mana.
    Bangsa kita disiapkan untuk digelindingkan di jurang kematian dan kemusnahan bangsa. Bangsa kita ingin dibuat tinggal nama.

    Ironis, memang. Bangsa besar dengan lebih dari 250 suku bangsa mampunya merayap, tak mampu lagi bangkit. Dalam 50 tahun masa berjuang, bangsa kita masih terus meratap. Kita kini di bibir kehancuran. Kapan berhenti meratap? Kapan deklarasi masa jaya berjuang?

    Dunia saat ini bertanya pada tangis rakyat kita, "Rakyat Papua, dimana pemuda Papua yang kau lahirkan? Kemana sarjana Papua yang kau susui? Kemana doktor dan magister, putera-puteri terbaik  tanah Papua yang terjarah yang kau besarkan? Kapankah mereka kan berjuang membebaskanmu?"

    Memang miris nasib bangsa kita. Kita putera Papua seperti memilih terus diperhamba Indonesia dengan terus jadi kaki tangan mereka, PNS. Dengan menghambakan tenaga, daya upaya, dan pikiran kita demi gaji dan jabatan yang malah membuat derita rakyat kita semakin berat.

    Generasi kita benar-benar telah menjadi generasi durhaka! Generasi kita saat ini lari dari tanggungjawab kita menciptakan hidup bangsa kita jadi bebas dan merdeka. Maka ini saatnya kita tunduk merenung jalan panjang hidup kita dalam irama perjuangan bangsa ini.

    Siapa diriku, engkau, kita? Mari pikir dan tanyai dirimu masing-masing saat ini. Saya adalah anak bangsa Papua Barat. Saya adalah anak bangsa terjajah. Dapatkah kita berpikir demikian?

    Bagaimana realitas hidupku saat ini? Aku hidup dalam penjajahan. Siapa yang menjajahku? Negara Indonesia. Kapitalisme dan wujud jelmaannya, imperialisme. Militer Indonesia adalah anjing penjaga mereka. Koalisi mereka menjajahku.

    Apa yang harus kubuat? Dengar dengan telinga hatimu, orang-orang tua bangsa kita saat ini meratap di gubuk-gubuk derita di pinggir-pinggir tebing. Di belantara dan pinggiran tepian pantailah jeritan pilu mereka terdengar. Mereka berteriak menangis, "Anakku, anakku, kemanakah dikau? Lihatlah, mereka merampok semua hartaku. Mereka mempermalukan aku dan membuatku tak punya apa-apa di atas timbunan hartaku. Dimana kau, anakku...?"

    Aku merasa menjadi anak Papua durhaka! Aku malu kepada dunia. Generasi kita harus malu kepada waktu yang mencatat setiap sikap ego, cengeng, takut dan sikap menjilat penjajah yang kita tontonkan tiap waktu. Tak malukah kita?

    Kita generasi ini ada dalam dunia gemar pendidikan. Saya menempuh pendidikan. Melalui pendidikan, Aku tahu kondisi bangsaku. Dapatkah kita sadar, kita dijajah?

    Inilah yang mesti jadi tujuan pokok generasi kita dari Bangsa Papua dalam menempuh pendidikan, dari PAUD hingga Perguruan Tinggi. Kau dan aku belajar bukan untuk Ijazah. Kau dan aku belajar sekali-kali bukan untuk jabatan. Kita anak bangsa Papua Belajar untuk Papua Merdeka!.

    Tujuan belajar kita tidak sama dengan tujuan belajar orang Jawa, orang Makassar, orang Sumatera, dan orang-orang lain di dunia. Kita generasi muda Papua belajar untuk mengasah hati, otak, otot, berusaha memampukan diri untuk dapat berkontribusi penuh demi cepat tercapainya kemerdekaan Bangsa Papua.

    Ingat ini: pikiran yang melebihi binatang melata paling menjijikkan di dunia adalah pikiran milik setiap generasi muda orang Papua yang pikir, ia belajar untuk hidup baik, dapat jabatan dan gaji, bahagiakan orang tua, menikah dengan istri cantik asal Melayu, punya anak, tanpa mematok visi hidup bahwa dirinya belajar untuk wujudkan kemerdekaan Papua. Terkutuklah kau yang bermimpi hidup enak dan bahagia saat ini!

    Ketahuilah ini dan simpan dalam relung hatimu yang paling dalam. Kita generasi penggenap kemerdekaan. Kita generasi penanggung derita di jalan panjang perjuangan. Kebahagiaan adalah milik cucu-cicit kita. Tugas kita adalah menghadirkan kemerdekaan Bangsa Papua.

    Langkah pertama, selaraskan tujuan hidupmu saat ini: hidup dan berdaya-upayalah untuk Papua Merdeka. Patok target, agar generasi penerus tak harus menderita dan diperhamba Indonesia dan antek-anteknya seperti kita saat ini.

    Apa pun jabatan anda, hai orang asli Papua: bupati, gubernur, DPR, MRP, DPD, menteri, kepala distrik, pendulang emas, pekerja borongan, tukang listrik, pekerja bengkel, pengemudi, tukang becak, sopir taksi, pemain sepakbola, petinju, nelayan, petani, guru, PNS, sadar bahwa tujuan kita bersama sebangsa adalah Papua Merdeka. Maka kita bekerja saling mendukung mewujudkannya.

    Secara konsisten, dukunglah gerakan perjuangan Papua Merdeka. Semampumu. Sekuat tenaga dan daya yang kau miliki. Sisakan sekerat ubi dan sagu sepotong dan sumbangkan untuk laskar gerilya di belantara Papua. Bahkan hingga darah dan nyawa sekalipun, mari korbankan.

    Kau sipir penjara, jadilah penghubung para Tapol Papua dengan organisasi di luar. Kau Polisi, tugasmu mencari tahu dan memberi tahu setiap rencana iblis penjajah mematikan gerakan suci kita menuju kemerdekaan Papua.

    Kau tentara Indonesia yang asli Papua, siap sedialah! Ada saatnya kau dibutuhkan untuk membunuh setiap penghisap tanah air Papua Barat.

    Kau dosen dan pengajar, ini tugasmu: beri pendidikan kesadaran kepada siswa dan mahasiswa asli Papua. Beritahu dengan tegas dan lantang bahwa sesungguhnya Papua telah merdeka 1 Desember 1961. Beritahu tanpa takut akan hal ini, bahwa Indonesia, Kapitalisme dan Imperialisme global adalah penjajah tanah air Papua.

    Umumkan dan kobarkan semangat pada anak bangsa Papua: tugas sucinya adalah berjuang hingga Papua Merdeka. Tanamkan di hati insan muda Papua, bahwa mati demi tanah air Papua adalah lebih mulia daripada mati dalam seteru jabatan, wanita, uang dan kekayaan.

    Sematkan tangisan harapan akan kemerdekaan di setiap nurani anak bangsa Papua! Itu tugas muliamu, guru-guru Papua.

    Kau sarjana muda teknik mesin, elektro, listrik dan mekanik, jangan biarkan penjajah menculik kau dengan jadi PNS. Ingat, kau adalah sarjana teknik milik tanah Papua, bukan milik Indonesia.

    Keahlianmu terlalu murah untuk sekedar dihargai dengan gaji dan bonus. Persembahkan keahlianmu dengan tulus bagi tegaknya kemerdekaan bangsa kita Papua Barat. Itu lebih mulia daripada menjadi perpanjangan tangan penjajah. Inilah tugasmu: Tugasmu; merakit senjata, membuat radio penghubung antar kantong-kantong pertanahan laskar Papua, dan masih banyak hal yang dapat kau kerjakan.

    Kau yang sarjana kimia, rakitlah bom. Hancurkan setiap perusahaan penjajah. Bebaskan bumi Papua yang semakin kerempeng karena dihisap kaum kapitalis. Keahlianmu jangan kau jual murah kepada penjajah dengan imbalan gaji yang tak berarti apa-apa daripada menyumbangkan sesuatu bagi bangunan negara Papua Barat ini.

    Kau sarjana perkapalan, penerbangan, kedokteran, insinyur pertambangan, sarjana geologi, tugasmu bukan untuk menjilat pantat penjajah dengan kerja jadi PNS! Dengar, kau jangan bodoh dengan merendahkan martabatmu diperingah, bekerja di bawah perintah penjajah. Dengar, tanah Papua dengan mata berlinang memanggilmu! Segera penuhi panggilan tanah air, bebaskan tanah air Papua. Itulah tugasmu sesungguhnya; yang membuat keahlianmu dikenang seumur hidup bangun negara kita.

    Kau yang dokter, jadilah penyembuh korban pertempuran. Tugasmu bukan di rumah sakit dengan bangku dan fasilitas empuk, tetapi di markas Tentara Pembebasan Papua, mengobati mereka yang luka. Itu lebih dibutuhkan pada zaman pergerakan ini daripada di rumah sakit. Jangan beri ruang penjajah menipumu dengan gaji murahan di bawah kendali mereka agar kualitas otakmu mati sia-sia dan tak berguna bagi perjuangan.

    Kau sarjana ekonomi, tugasmu adalah mengatur uang rakyat untuk membiayai perang kemerdekaan menuju Papua merdeka! Tugasmu adalah mengumpulkan uang rakyat. Mengelolanya untuk biaya diplomasi, biaya perang, biaya makan minum pejuang dan laskar rakyat!

    Kau sopir-sopir taksi, kondektur, buruh kasar dan buruh tani. Juga nelayan di pantai-pantai Papua, Sampai kapan kau ingin menderita? Ini saatmu bersaksi dengan lantang melalui tindakan. Sisi logistik dan akomodasi adalah tanggungjawabmu.

    Kau anak bangsa yang saat ini jadi Barisan Merah Putih, intel, mata-mata, terus bekerja. Kami tahu, nuranimu kadang berteriak Papua Merdeka. Sabarlah! Akan ada saatnya sangkur dan pistolmu yang menghamburkan lendir putih cairan otak setiap penjajah yang berpikir layaknya iblis. Jelmakan dan buktikan, bahwa kau masih merupakan anak bangsa yang muak pada penjajahan!

    Wahai laskar rakyat, alas jasadmu dan biarkan mayat kita membusuk, menyatu dengan tanah air kita tercinta. Darah dan tulang belulang kita akan jadi dasar kokoh gerakan perjuangan kemerdekaan Papua. Keseriusan dan keikutsertaanmu akan membuat barisan perlawanan kuat.

    Tugasmu adalah berjuang agar anakmu tak lagi jadi sepertimu. Bukankah lebih terhormat bagimu, bila anakmu dengan bangga bercerita kelak, ia menikmati hidup baik yang kau pupuk dengan darah dan keringatmu hari ini?

    Kau mahasiswa, jangan pikiranmu kerdil. Lihatlah penjajah laknat ini. Ia gunakan beragam cara mendekatimu untuk menghancurkan pikiran, mental dan emosimu. Mengapa? Karena kau berpotensi besar mengusir penjajah. Sadarlah, hanya kau yang kami harap.

    Penjajah takut kau berpendidikan. Mereka stigma mahasiswa Papua bodoh, kacangan, gadungan, tukang mabuk. Benarkah itu? Tidak. Mereka takut padamu. Mereka iri statusmu: mahasiswa!

    Kau mahasiswa Papua adalah nadi gerakan rakyat Papua menuju pembebasan. Dengar tangis pilu tanah air yang memanggilmu memanggul senjata, menjadi pimpinan-pimpinan kerumunan buruh, memimpin gerombolan milisi kota, menjadi orator ulung di jalan-jalan di penjuru tanah air.

    Jadilah kau otak-otak pengatur strategi dan taktik di setiap pelosok. Gunakan otakmu untuk pelawan penjajah, dan bukan untuk balik membuat kuat penjajah dengan menghambakan diri jadi PNS.

    Maka, syaratnya bagimu mahasiswa Papua adalah menjadi lebih pintar setingkat di atas yang pintar di tanah Melayu. Kau harus lebih licik dari mahasiswa setingkatmu yang licik. Kau harus cerdik dari kerabat Melayumu yang cerdik. Ini karena kau akan jadi pemimpin perjuangan di tanah air Papua. Teruslah belajar dan mengasah otak, hati dan otot. Jadilah bibit unggul, dan buat bibit-bibit di Papua unggul dengan transfer ilmu praktismu.

    Mahasiswa Papua, jangan sekali-kali kau lengah! Tolak tawaran tolol penjajah jadi kaki tangannya. Tampeleng dan usir jauh-jauh wajah kenikmatan yang ditawarkan dunia dan penjajah. Kau bukan generasi penikmat.  Anak dan cucumu kelak yang akan menikmati kemerdekaan. Kau adalah generasi penegak puing-puing kemerdekaan bangsa Papua yang telah hancur ini.

    Maka, marilah bersatu dalam satu barisan panjang pergerakan orang Papua menuju kebebasan. Usir setiap manusia berhati jahat, yang ingin menguasai. Negara Indonesia adalah penjajah. Maka, setiap bentuk pemberian dan hadiah dari penjajah adalah kesia-siaan saja bagi pencapaian tujuan mulia kita.

    Kuperingatkan kau sekali lagi, anak bangsa Papua, Jangan terkecoh. Penjajah itu iblis. Dan ketahuilah, mereka punya seribu satu cara untuk membuat kita berketuk lutut dan menyerah dijajah. Tetap fokus pada perjuangan pembebasan tanah air Papua!

    Marilah kita bernyanyi bersama nyanyian pembebasan kita: Hai Tanahku Papua. Jangan gentar. Jangan mundur. Buang rasa takutmu. Tanggalkan ragumu. Kau tidak sendiri. Semua orang asli Papua yang jumlahnya tak lebih dari 2 juta orang itu bersatu padu jadi satu kekuatan. Ingat, kita satu bangsa!

    Sekarang saatnya. Bila esok, kita terlambat. Ambil posisi anda masing-masing. Ingat! Serasikan tujuan hidup masing-masing individu untuk mendorong dan mempercepat pencapaian tujuan bersama orang Papua untuk Papua Barat merdeka.

    Ibu, walau gurita kapitalis imperialis menjepitmu kuat. Walau penjajah laknat yang namanya Indonesia itu menggerogoti tubuhmu dengan bibir penuh nafsu. Bersabarlah. Ada aku anakmu! Aku akan jadi gerilyawan. Diplomat. Dokter. Doktor. Paramedis. Orator. Agitator. Ahli strategi. Pemimpin pembebasan. Penggerak rakyat.

    Kita akan usir penjajah Indonesia dari Papua. Mari kita alas jalan panjang bangsa Papua ini dengan tetesan keringat, darah dan tulang belulang kita. Tak ada yang gratis. Mari berkorban dan berjuang, untuk bahagianya penerus kita.

    Kelak, puluhan tahun nanti, cucu-cicit kita dengan bangga akan mengumumkan kepada dunia tentang  kehebatan kita mengusir Indonesia dari bumi Papua. Cerita penegakan tiang kemerdekaan bangsa kita dari sisa-sisa kehancuran dengan keringat dan darah akan jadi alasan mutlak bangsa-bangsa di dunia menghormati negara kita.

    Kita generasi penentu. Kita harus mengakhiri jalan panjang derita akibat penjajahan ini!

    *aktivis independence Papua.

    Perjuangan Papua Merdeka Bukan Dongeng dan Bukan Mimpi

    Perjuangan Papua Merdeka Bukan Dongeng dan Bukan Mimpi

    Situs ini adalah situs online aktivis suara papua merdeka yang dikembangkan oleh Biro Media dan Propaganda Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Malang. Anda diperkenankan untuk BERBAGI (menyalin dan menyebarluaskan kembali materi ini dalam bentuk atau format apapun) dan ADAPTASI (menggubah, mengubah, dan membuat turunan dari materi ini untuk kepentingan apapun, termasuk kepentingan komersial). Informasi dalam situs ini masih harus dikonfirmasi kepada pengelola situs di melanesiapost@gmail.com (Activis Independence of Papua/Pengembang Situs)


    Dialog Versi Presiden Bukan Tujuan Referendum

     photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg

    Dialog Versi Presiden Bukan Tujuan Referendum

    by Papua Post
    JAYAPURA – Akademisi Universitas Cenderawasih, Panus Jingga menyatakan, seluruh rakyat di Papua mau dialog, namun dialog versi rakyat ini kadang diartikan sebagai buntut dari segala sesuatu yang tidak tercapai, sehingga kesan yang dimunculkan disebagian orang adalah dialog sama dengan referendum atau dialog merupakan satu kata kunci menuju referendum. Dikatakan, Presiden ke-7 RI Joko Widodo dalam…
    Situs ini milik Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komute Kota Surabaya-Malang, copyright@SPM News Group Online Services dan dikelolah oleh Biro Pendidikan dan Propaganda.
     
     photo bendera-bintang-kejora-dan-cewek-bule-jpg1_zps4a30c64f.jpg
     photo SALAMPEMBEBASANDANREVOLUSI_zpsbdffla8q.gif