photo fgr_zpsa263fa65.gif

Headlines News :

 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
Marilah Berjuang Dengan Sunguh-Sunguh Dan Serius, Setia, Jujur, Bijaksana, Aktif Serta Kontinuitas. Diberdayakan oleh Blogger.
     photo aktifmenulis_zps397205a9.jpg

    ★★★Berita Duka ★★★

     photo Banner2_zps5035c662.jpg

    ★★★Radar Malang★★★

    Tampilkan postingan dengan label Ras Melanesia. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Ras Melanesia. Tampilkan semua postingan

    Perdana Menteri PNG Ingin Berbuat Lebih Banyak untuk Orang Melanesia di Papua Barat

     Perdana Menteri PNG Ingin Berbuat Lebih Banyak untuk Orang Melanesia di Papua Barat
    Perdana Menteri PNG Ingin Berbuat Lebih Banyak untuk Orang Melanesia di Papua Barat
    Perdana Menteri PNG berbicara di Forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (Foto: Ist).
     
    PAPUA NUGINI, SUARAPAPUA.com --- Wartawan ABC Australia, Mark Colvin melaporkan, Perdana Menteri Papua Nugini, Peter O'Neill, telah berjanji berbuat lebih banyak untuk berbicara atas nama orang Melanesia di Papua Barat, Indonesia.

    Peter O'neil menyadari, di masa lalu, Port Moresby telah terjebak pada pandangan yang mengatakan Papua Barat merupakan bagian integral dari Indonesia, karenanya tidak ikut membicarakan pelanggaran hak asasi manusia.

    Dalam pidatonya, O'neil mengatakan, sudah waktunya pemerintah PNG berbicara tentang penindasan saudara-saudara di Papua Barat. (Baca: Mewakili Bangsa Papua Barat ULMWP Resmi Ajukan Aplikasi Keanggotaan ke Sekretariat MSG).

    “Kadang-kadang kita lupa keluarga kita sendiri, terutama di Papua Barat. Saya pikir, sebagai negara, sudah saatnya bagi kita untuk berbicara tentang penindasan rakyat kita disana,” kata O’neil.

    Menurut O’neil, gambar kebrutalan orang-orang Melanesia di Papua Barat muncul setiap hari di media sosial, namun PNG selama ini mengabaikan hal itu. (Baca: Rakyat Papua Barat di Jayapura Gelar Doa Dukung Pengajuan Aplikasi ke Sekretariat MSG)

    “Kami memiliki kewajiban moral untuk berbicara bagi mereka yang tidak diizinkan untuk berbicara. Kita harus menjadi mata bagi mereka yang ditutup matanya. Sekali lagi, Papua Nugini adalah pemimpin regional.”

    “Kita harus memimpin dalam berdiskusi dengan negara-negara Melanesia, dengan cara yang lebih padat dan menarik,” tegas O’neil. (Baca: Ini Hasil Simposium di Vanuatu; Tiga Faksi Besar Bersatu di Badan Nasional ULMWP).

    Editor: B.M.K.Tabuni

    the Solomon Islands, Kanaky, Fiji and especially Vanuatu, people will tell you that “Melanesia is not free until West Papua is free

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta SPM Group Online

    Papua New Guinea takes regional lead in supporting free West Papua campaign

    The free West Papua concert in Port Moresby marking Benny Wenda's global tour. Image: Masalai blog
    The free West Papua concert in Port Moresby marking Benny Wenda’s global tour. Image: Masalai blog
    Pacific Scoop:
    Commentary – By Airi Ingram and Jason MacLeod in Port Moresby

    Melanesian support for a free West Papua has always been high. Travel throughout Papua New Guinea and you will often hear people say that West Papua and Papua New Guinea is ‘wanpela graun’ – one land – and that West Papuans on the other side of the border are family and kin.
    In the Solomon Islands, Kanaky, Fiji and especially Vanuatu, people will tell you that “Melanesia is not free until West Papua is free”. This was the promise that the late Father Walter Lini, Vanuatu’s first prime minister made.

    Ordinary people in this part of the Pacific are painfully aware that the West Papuan people continue to live under the gun. It is the politicians in Melanesia who have been slow to take up the cause.
    But that may be changing. Earlier this month, Powes Parkop, Governor of the Papua New Guinea’s National Capital District, nailed his colours firmly to the mast.

    In front of a crowd of 3000 people, Governor Parkop insisted that “there is no historical, legal, religious, or moral justification for Indonesia’s occupation of West Papua”. Turning to welcome West Papuan independence leader Benny Wenda, who was in Papua New Guinea as part of a global tour, the governor told Wenda that while he was in Papua New Guinea “no one will arrest you, no one will stop you, and you can feel free to say what you want to say”. These are basic rights denied to West Papuans who continue to be arrested, tortured and killed simply because of the colour of their skin.

    Governor Parkop, who is a member of the International Parliamentarians for West Papua, which now has representatives in 56 countries, then went on to formerly launch the free West Papua campaign.
    He promised to open an office, fly the Morning Star flag from City Hall and pledged his support for a Melanesian tour of musicians for a free West Papua.
    Powes Parkop and Benny Wenda
    National Capital District Governor Powes Parkop (left), long a staunch supporter of the West Papuan cause, and Benny Wenda. Image: Jason MacLeod
    Governor Parkop is no longer a lone voice in Melanesia calling for change.
    Last year, Papua New Guinea’s Prime Minister Peter O’Neill broke with tradition and publicly admonished the Indonesian government’s response to ongoing state violence, human rights violations and failure of governance in West Papua.

    Moved by 4000 women from the Lutheran Church. O’Neill said he would raise human rights concerns in the troubled territory with the Indonesian government.
    Now Governor Parkop wants to accompany the Prime Minister on his visits to Indonesia “to present his idea to Indonesia on how to solve West Papuan conflict once and for all.”
    Well known PNG commentator Emmanuel Narakobi remarked on his blog that Parkop’s multi-pronged proposal for how to mobilise public opinion in PNG around West Papua “is perhaps the first time I’ve heard an actual plan on how to tackle this issue (of West Papua)”.

    On talk back radio, Governor Parkop accused Australian Foreign Minister Bob Carr of not taking the issue of West Papua seriously, of “sweeping it under the carpet.”
    In Vanuatu, opposition parties, the Malvatumari National Council of Chiefs and the Anglican bishop of Vanuatu, Rev James Ligo are all urging the current Vanuatu government to change their position on West Papua.

    Rev Ligo was at the recent Pacific Council of Churches in Honiara, Solomon Islands, which passed a resolution urging the World Council of Churches to pressure the United Nations to send a monitoring team to Indonesia’s Papua region.

    “We know that Vanuatu has taken a side-step on that (the West Papua issue) and we know that our government supported Indonesia’s observer status on the MSG, we know that.
    “But again, we also believe that as churches we have the right to advocate and continue to remind our countries and our leaders to be concerned about our West Papuan brothers and sisters who are suffering every day.”
    In Kanaky (New Caledonia) and the Solomon Islands, West Papua solidarity groups have been set up. Some local parliamentarians have joined the ranks of International Parliamentarians for West Papua.
    In Fiji, church leaders and NGO activists are quietly placing their support behind the cause even while Frank Bainimarama and Fiji’s military government open their arms to closer ties with the Indonesian military. This internationalisation of the West Papua issue is Indonesia’s worst nightmare; it follows the same trajectory as East Timor.

    The West Papuans themselves are also organising, not just inside the country where moral outrage against ongoing Indonesian state violence continues to boil, but regionally as well.
    Prior to Benny Wenda’s visit to Papua New Guinea, Vanuatu-based representatives from the West Papua National Coalition for Independence formerly applied for observer status at this year’s Melanesian Spearhead Group meeting due to be held in Noumea, New Caledonia in June, home to another long running Melanesian self-determination struggle.

    While in Vanuatu Benny Wenda added his support to that move, calling on Papuans from different resistance organisations to back a “shared agenda for freedom”. A decision about whether West Papua will be granted observer status at this year’s MSG meeting will be made soon.

    In Australia, Bob Carr may be trying to pour cold water on growing public support for a free West Papua but in Melanesia the tide is moving in the opposite direction.

    Jason MacLeod teaches and researches at the University of Queensland in Brisbane. Airi Ingram is a Papuan musician and activist.
    Masalai blog on the free West Papua concert
    Benny Wenda visits the Pacific Media Centre

    Dukungan Melanesia untuk Papua Barat bebas selalu tinggi

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta SPM Group Online

    NEGARA-NEGARA MELANESIA GALANG DUKUNGAN UNTUK KEMBALIKAN KEBEBASAN PAPUA BARAT

    Penulis :
    -Wandikbonak


    Powes Parkop dan Benny Wenda (AK Rockefeller)

    Oleh : Airileke Ingram dan Jason MacLeod
    Jayapura, 18/3 (Jubi-NewMatilda)-Pemimpin Papua Nugini dan negara Melanesia lainnya menunjukkan dukungan mereka untuk pembebasan Papua Barat. Bob Carr bergerak melawan arus regional, tulis Airileke Ingram dan Jason MacLeod

    Dukungan Melanesia untuk Pembebasan Papua Barat selalu tinggi. Berjalan di seluruh Papua Nugini Anda akan sering mendengar orang berkata bahwa Papua Barat dan Papua Nugini adalah “Wanpela Graun” – satu tanah – dan bahwa Papua Barat di sisi lain perbatasan adalah keluarga dan kerabat.
    Di Kepulauan Solomon, Kanaky, Vanuatu dan Fiji orang akan memberitahu Anda bahwa “Melanesia belum bebas sampai Papua Barat bebas”. Masyarakat di bagian Pasifik ini sangat menyadari bahwa orang Papua Barat terus hidup di bawah ancaman senjata.

    Kemungkinan Perubahan.

    Rabu terakhir 6 Maret 2013, Powes Parkop, Gubernur Distrik Ibu Kota Nasional, Papua Nugini menancapkan “warna” nya tegas ke “tiang”. Di depan kerumunan 3000 orang Gubernur Parkop menegaskan bahwa “tidak ada pembenaran, sejarah hukum, agama, atau moral bagi pendudukan Indonesia di Papua Barat”.

    Menyambut pemimpin Papua, Benny Wenda, yang berada di Papua New Guinea sebagai bagian dari tur global, Gubernur mengatakan bahwa saat Wenda berada di Papua New Guinea, “tidak ada yang akan menangkapnya, tidak ada yang akan menghentikannya, dan ia dapat merasa bebas untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan. ” Ini merupakan hak dasar yang ditolak di Papua Barat, yang terus menerus ditangkap, disiksa dan dibunuh hanya karena warna kulit mereka.

    Gubernur Parkop, yang merupakan anggota dari Parlemen Internasional untuk Papua Barat, yang kini memiliki perwakilan di 56 negara, melanjutkan kegiatannya dengan meluncurkan kampanye Pembebasan Papua Barat. Dia berjanji untuk membuka kantor, mengibarkan bendera Bintang Kejora dari City Hall dan menjanjikan dukungannya untuk tur musisi Melanesia untuk Pembebasan Papua Barat.

    Gubernur Parkop Tak Lagi Sendirian di Melanesia Menyerukan Perubahan.

    Tahun lalu Perdana Menteri Papua Nugini, Peter O’Neil “merusak” tradisi hubungan dengan Indonesia setelah mengingatkan publik dengan memberikan respon terhadap Pemerintah Indonesia atas kekerasan negara yang sedang berlangsung, pelanggaran hak asasi manusia dan kegagalan pemerintahan. Tergerak oleh 4000 perempuan dari Gereja Lutheran, O’Neill mengatakan kekhawatirannya tentang HAM terhadap pemerintah Indonesia.

    Sekarang Gubernur Parkop ingin menemani Perdana Menteri dalam kunjungan ke Indonesia untuk mempresentasikan gagasannya kepada Indonesia tentang cara memecahkan konflik Papua Barat sekali dan untuk semua.

    Komentator terkenal PNG, Emmanuel Narakobi berkomentar di blog-nya tentang usulan pendekatan multi-cabang dari Parkop, bagaimana memobilisasi opini publik di PNG tentang Papua Barat. “Mungkin adalah pertama kalinya saya mendengar rencana yang sebenarnya tentang bagaimana mengatasi masalah ini (Papua Barat)”. Melalui radio Gubernur Parkop menuduh Menteri Luar Negeri Australia Bob Carr tidak serius menangani isu Papua Barat, melainkan “membersihkannya di bawah karpet.”

    Di Vanuatu, partai-partai oposisi, Malvatumari Nasional Dewan Chiefs dan uskup Anglikan dari Vanuatu serta Pendeta James Ligo mendesak pemerintah Vanuatu untuk mengubah posisi mereka terhadap isu Papua Barat. Ligo baru-baru ini berada di Sidang Dewan Gereja Pasifik di Honiara, Kepulauan Solomon, yang mengeluarkan sebuah resolusi mendesak Dewan Gereja Dunia untuk menekan PBB untuk mengirim tim pemantau ke wilayah Papua Indonesia.

    “Kita tahu bahwa Vanuatu telah mengambil sisi-langkah itu (masalah Papua Barat) dan kita tahu bahwa pemerintah kita mendukung status pengamat di Indonesia pada MSG (Melanesian Spearhead Group), kita tahu itu. Tapi sekali lagi, kami juga percaya bahwa sebagai gereja kami memiliki hak untuk mengadvokasi dan terus mengingatkan negara-negara dan para pemimpin kita untuk khawatir tentang saudara-saudara Papua Barat kami yang menderita setiap hari.” kata Ligo.

    Masyarakat Papua Barat juga mengorganisir diri mereka, bukan hanya di dalam negeri di mana kemarahan moral terhadap kekerasan negara Indonesia yang sedang berlangsung, tetapi juga di regional. Sebelum kunjungan Benny Wenda ke Papua Nugini, perwakilan Koalisi Nasional Papua Barat untuk Kemerdekaan yang berbasis di Vanuatu resmi diajukan untuk mendapatkan status pengamat di MSG dalam pertemuan MSG tahun ini yang dijadwalkan akan digelar di New Kaledonia pada bulan Juni. New Caledonia, tentu saja, adalah rumah lain dari perjalanan panjang perjuangan penentuan nasib sendiri bangsa-bangsa Melanesia. Di Vanuatu Benny Wenda menambahkan dukungan untuk langkah tersebut, dengan menyerukan pada organisasi perlawanan Papua yang berbeda untuk mendukung “agenda bersama untuk kebebasan”. Sebuah keputusan tentang apakah Papua Barat akan diberikan status pengamat pada pertemuan MSG tahun ini akan dilakukan secepatnya.

    Di Australia Bob Carr mungkin mencoba untuk meredam semakin besarnya dukungan publik untuk Pembebasan Papua Barat tapi di Melanesia arus bergerak ke arah yang berlawanan.*

    Disconnect RI-Vanuatu relations, Prime Minister of Vanuatu Push West Papua at MSG

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta SPM Group Online

    Disconnect RI-Vanuatu relations, Prime Minister of Vanuatu Push West Papua at MSG

    Moana Kalosil
    Vanuatu - Vanuatu's new Prime Minister, Moana carcasses Kalosil said he would be smothered and encourage West Papua to be registered as a permanent member in the Melanesian Spearhead Groups (MSG). Told Radio New Zealand international today (5/4), Moana also said that the increased support for the right of self-determination for West Papua will be announced nationally in the statement of work plan of 100 days in office.

    "It's time to recognize the struggle of West Papua, someone should do something about it. We can not just close my eyes and refused, saying that nothing is going on there, because there are many human rights issues going on there. We want West Papua became a full member of the Melanesian Spearhead Group - this is something that we will lobby ", said radio Koloran RNZI.

    Moana carcasses Kalosil who is also a member of the International Parliamentarians for West Papua (IPWP) said the Government was going to end or terminate the agreements made between the previous government and Indonesia where Vanuatu receive assistance from the police and the Indonesian military. Not only that, Morris also said that it would establish a special unit at the Ministry of Foreign Affairs which focuses on the problem of West Papua. (Wd)


    Moana Kalosil together Benny Wenda and Melinda ILWP Jankie current Chairman IPWP Launch in London


    Moana Kalosil, Andy Ayamiseba, Otto Ondowame & Paula Makabory

    Fijians raise the flag for West Papua

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta SPM Group Online

    Fijians raise the flag for West Papua

    Although the fight for freedom for West Papua is far from our own shores, a group of local supporters have shown their solidarity towards the West Papua cause.
    A vigil with special flag raising ceremony was held this morning by local supporters.

    The West Papua struggle is a cause this group believes needs support locally and in the region.

    “Well today is part of the global action of raising the morning star, the symbol of west Papua. In West Papua, to raise this flag, would almost mean a death sentence and has done for many people. And its just a way of those of us in Fiji, showing our solidarity
    with those in West Papua,” Rev James Baghwan, Movement Supporter.

    Baghwan says the movement small as it seems, have the support of the Fiji Council of Churches, Pacific Conference of Churches and the Methodist Church which sympathise with the cause.

    “This is something, I think that people should start to acept in this current situation. Its very important that we understand of course that the issue with West Papua is a very wide, broad spectrum issue, it is about self determination in the fuller sense in terms of political independence, but also economic, education, health care and the struggle of the people of West Papua.”

    Baghwan says the struggle now have a future voice all because of these youths

    “And we are very happy to support our young people of Fiji; who are aware of the situation and are willing to raise morw awareness by doing this event, so we are happy to be part of the peace vigil and be with them as they raise this flag.”

    Ten years ago in 2004, the UK based Free West Papua Campaign was set up by exiled West Papua leader Benny Wenda to encourage the UN to hold an Independence Referendum in West Papua.
    Sumber : http://fijione.tv 

    Tok Pisin to Indonesia : Negara Harus Bebas, "Kemerdekaan adalah hak segala bangsa"

    Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta SPM Group Online

    Menimbang bahwa pengakuan atas martabat alamiah dan hak-hak yang sama dan mutlak dari semua anggota keluarga manusia adalah dasar kemerdekaan , keadilan dan perdamaian di dunia ,

    Long luksave olsem olgeta manmeri mas igat respek , na olgeta manmeri long dispela graun igat wankain raits long bihainim laik bilong ol , long gat lo na oda na gat gutpela sindaun .


    sebagai satu standar umum keberhasilan untuk semua bangsa dan semua negara , dengan tujuan agar setiap orang dan setiap badan dalam masyarakat dengan senantiasa mengingat Pernyataan ini , akan berusaha dengan jalan mengajar dan mendidik untuk menggalakkan penghargaan terhadap hak-hak dan kebebasan-kebebasan tersebut , dan dengan jalan tindakan-tindakan progresif yang bersifat nasional maupun internasional , menjamin pengakuan dan penghormatannya secara universal dan efektif , baik oleh bangsa-bangsa dari Negara-Negara Anggota sendiri maupun oleh bangsa-bangsa dari daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan hukum mereka .

    Tokaut long dispela toksave long raits bilong manmeri long olgeta hap bilong dispela giraun . Long kamapim wanpela wei bilong olgeta manmeri na olgeta kantri , na olgeta wanwan manmeri , na olgeta samting I save mekim kamap komuniti , tingim dispela toksave , ol I mas skulim ol man meri bilong strongim , insait long wanwan kantri na tu long ol narapela kantri .


     Dalam menjalankan hak-hak dan kebebasan-kebebasannya , setiap orang harus tunduk hanya pada pembatasan-pembatasan yang ditetapkan oleh undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan yang layak terhadap hak-hak dan kebebasan-kebebasan orang lain , dan untuk memenuhi syarat-syarat yang adil dalam hal kesusilaan , ketertiban dan kesejahteraan umum dalam suatu masyarakat yang demokratis .

    Ol raits i mas igat lo i stap long lukautim raits bilong ol narapela , raits bilong yu no inap daunim raits bilong narapela .


     Setiap orang berhak atas pengakuan di depan hukum sebagai pribadi di mana saja ia berada .

    Olgeta manmeri long olgeta hap igat rait long luksave blong lo .

    Mengapa ada ras kulit hitam di benua asia???

    Mengapa ada ras kulit hitam di benua asia???
    contoh kasus disini adalah orang papua,, pertanyaannya adalah, hampir seluruh orang asia adalah mempunyai kulit kuning sampai coklat, akan tetapi di pulau papua terdapat orang-orang berkulit hitam, mirip dengan ras negroid di afrika sana.
     ya benar, mereka berasal dari benua afrika sana,,
    lho?? ngapain mereka pada berbondong2 pindah dari afrika ke papua?? jauuuuuuhhhhhh tau, lagian jaman dulu mana ada pesawat!!! apa iya mereka berenang???
    mereka memang berpindah, akan tetapi mereka tidak menyadarinya, karena yang berpindah bukan manusianya, akan tetapi PULAU mereka yang berpindah!
    woooowwwww,, ngapusi koe ndessss!!! (artinya : kamu bohong ah!!!)
    inilah yang disebut dengan teori tektonik lempeng.. :)
    dalam istilah geologi, “lempeng” adalah bagian bumi berupa “batuan yang sangat luas”, sementara “tektonik” berasal dari bahasa latin yang berarti “membangun”,, jika kedua kata tersebut digabungkan, maka “tektonik lempeng” berarti permukaan bumi yang tersusun atas beberapa lempeng yang saling bergerak.
    Data  yang mendukung teori Lempeng Tektonik:
    1.  Tepi benua amerika Selatan dan Afrika Barat yang nyaris sama
    2.  Litologi (jenis batuan), fosil dan struktur batuan yang sama di Amerika, Afrika dan lainnya sebelum jaman Mezosoikum ( sekitar 200 juta tahun yang lalu)
    3.  “Pemekaran dasar laut”  (sea-floor spreading) dan orientasi magnit pada batuan (polar wander)
    4. Pergerakan benua dan laut, yang  tetap terjadi hingga kini.
    Tepi benua Afrika dan Amerika yang hampir sama
    naaaahh,, sekarang coba lihat gambar dibawah ini…
    Tektonik indonesia
    dari gambar diatas (tektonik indonesia), kita bisa lihat bahwa papua termasuk kedalam warna merah,, warna merah tersebut adalah lempeng indo-australia,, jadi, kita sepakat bahwa pulau papua merupakan bagian dari lempeng indo-australia (warna merah) dan bukan bagian dari lempeng eurasia (warna hijau).
    naah,, sekarang kita terbaaang lagi semakin tinggi, sehingga bisa melihat bumi kita secara utuh, dan juga cerita perjalanan bumi dari masa ke masa… lihat gambar dibawah ini
    sejarah perkembangan bumi (klik gambar untuk memperbesar)
    dari gambar diatas bisa kita lihat bahwa pada 200 juta tahun yang lalu, bumi hanya terdiri dari 1 benua saja, yaitu PANGEA. akibat dari revolusi dan rotasi bumi yang selalu berputar, bagian dalam dari perut bumi yang cair berguncang dan membentuk arus konveksi yang memisahkan benua pangea tersebut. sehingga pada 135 juta tahun yang lau, PANGEA pecah menjadi 2 lempeng raksasa, yaitu LAURASIA dibagian utara dan GONDWANA dibagian selatan.
    naaah,, pada perkembangannya nanti, lempeng laurasia ini akan berkembang menjadi lempeng EURASIA, dan lempeng gondwana akan berkembang menjadi lempeng afrika, amerika selatan, dan INDO-AUSTRALIA (induk dari pulau papua).
    kembali ke gambar sejarah perkembangan bumi diatas, pada 65 juta tahun yang lalu, lempeng GONDWANA pecah menjadi 5 lempeng besar, yaitu lempeng amerika selatan, afrika, india, australia, dan antartika. dari gambar bisa kita lihat bahwa benua australia mulai nakal, dan berlayar jauh ke arah timur laut dan meninggalkan teman-temannya di antartika. dan akhirnya lempeng indo-australia ini bertabrakan dengan lempeng eurasia dan pulau kecilnya yang bernama PAPUA terlepas dan bertabrakan dengan lempeng pasipik dan eurasia,,,
    Dunia telah memberikan batas negara, dan telah mengakui bahwa pulau PAPUA merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang notabene adalah negara di benua ASIA. sehingga walaupun nenek moyang mereka berasa dari afrika, akan tetapi tektonik lempeng telah memisahkan mereka dan sekarang mereka telah menjadi warga benua ASIA.
    Naaah,, jadi yg pindah itu bukan orangnya, tapi pulaunya, pindah secara perlahan-lahan, selama ratuan juta tahun sehingga orang yang ada di pulau itu pun tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya telah terpisah dari nenek moyang mereka.. :)

     *notes : statement ini hanya asumsi penulis yang bersifat sangat spekluatif, tanpa melakukan penelitian apapun, hanya ide yang muncul di kamar mandi aja gan, hehe.. Penelitian yang sudah dilakukan untuk menunjang teori tektonik ini adalah penemuan hewan di papua yang identik dengan hewan di australia. Lalu, manusia di papua sendiri jg mirip kok sama suku aboringin nya australia, jadi????
    By : Demi Nawipa (Geo.07 UNIPA)

    Free West Papua Campaign PNG Coordinator gives speech on Melanesian Festival of Arts and Culture

    INFO PAPUA : West Papua News



    Free West Papua Campaign PNG Coordinator gives speech on Melanesian Festival of Arts and Culture 
    By West Papua News
    Jul 23, 2014, 10:00

    Email this article
     Printer friendly page
    Free West Papua Campaign-PNG Coordinator, Mr Fred Mambrasar


    Port Moresby - Free West Papua Campaign-PNG Coordinator, Mr Fred Mambrasar rallies Melanesian solidarity for West Papua as he gives an impassioned speech to the thousands of people gathered at the Melanesian Festival of Arts & Culture in Port Moresby, Papua New Guinea this month.

    For the first time, West Papuans were allowed to participate in this festival but under the watch of Indonesian officials and under the flag of Indonesia. 

    Papuan students told the PNG media of how the West Papuans participating in the festival were made to wear Asian and Western clothes and makeup to cover their true Melanesian identity. 

    We made sure to be present at the festival and as well as meeting with Melanesian Leaders including Heads of State; the Free West Papua Campaign also visited and gathered support from the different areas of the festival representing the different Melanesian countries.

    Support for a Free West Papua from PNG and the rest of Melanesia has never been so strong. I believe that, without your support we never free. The in fact that, West Papua is part of the Melanesian as well asWest Papua issues is a Melanesian issues, therefore only our own brothers and sisters would be more understood our cries for freedom.

    We need united voices to against Indonesia brutality over West Papua for 51 years who is living under Indonesia illegal occupation. We need your help.

    For more information about how you can join this global campaign to Free West Papua please visit our website at www.freewestpapua.org and www.bennywenda.org.

    © Copyright by w@tchPAPUA 

    Janganlah jadikan wajahmu berpoteng dibalik ras Melanesia

    Janganlah jadikan wajahmu berpoteng dibalik ras Melanesia

    Penulis, Donatus Bidaipouga Mote.
    MALANG. TIMIPOTU NEWS. Kalau kita melihat dengan hati yang murni dan mata yang jernih dari pandangan Agama, sesungguhnya kita orang Papua yang ber-ras Melanesia ini telah diciptakan oleh ALLAH dan telah di tempat di atas tanah Papua. Allah tidak hanya menciptakan dan menempatkan kita manusia Papua di atas bumi Papua hanya begitu saja tetapi Allah telah membentukkan diri dan karakter manusia Papua sesuai dengan bentuk alam yang ada di Papua seperti “gurung-gunung telah melambangkan bahwa orang Papua mempunyai keinginan yang tinggi untuk hidup bebas, lembah-lembah menunjukan bahwa orang Papua mempunyai kesabaran yang tinggi sekalipun orang Papua dikejar-kejar, dipenjarahkan, dirabek-rabek dan dibunuh sementara sungai-sungai melambangkan bahwa orang Papua mempunyai rasa kasih sayang yang tak terbatas antara sesama manusia dan manusia dengan alam Papua.

    Kalau kita melihat dengan hati yang murni dan mata yang jernih dari pandangan budaya Papua, alam Papua dan manusia Papua tidak muncul begitu saja namun kita yakini bahwa ada orang yang menciptakan manusia “kita” dan alam Papua. Saya percaya bahwa, kalau kita berbicara menyankut siapa yang menciptakan manusia dan alam beserta isinya dari sudut pandang budaya Papua maka kita kembali melihat cerita-cerita leluhur yang telah diwariskan oleh leluhur kita. 
    Dalam setiap suku yang ada di Papua terbentuknya alam dan manusia tidak terlepas dari mitos-mitos yang ada dalam setiap suku. Kita percaya bahwa, leluhur kita tidak pernah mengajarkan kita bahwa alam adalah milik ras Melayu atau ras-ras lain yang ada di dunia. Namun, yang pernah diajarkan oleh leluhur Papua adalah alam Papua adalah milik manusia Papua yang ber-ras Melanesia. Kita tidak pernah diajarkan bahwa manusia Papua itu berasal dari KERA yang kini diistilahkan dengan  pithecanthropus dari Soloensis namun kita telah diajarkan sesuai dengan cerita-cerita yang ada dalam suku-suku yang ada di bumi Papua. Maka, itu untuk melihat siap diri manusia Papua yang sesungguh itu perlu melihat kembali dalam cerita-cerita para leluhur dari setiap suku di Papua.

    Kini kita telah disadarkan bahwa, sesungguhnya manusia Papua adalah ciptaan Allah yang unik walaupun suku bangsa dan Negara lain menjelek jelekan kita dengan berbagai macam kata-kata yang tidak manusiawi.
    Berangkat dari itu, sebagai generasi muda Papua tentu sudah melihat, menyaksikan dan mendegar  bahwa, sekian banyak orang-orang tua kita dari Papua telah dikejar, ditangkap, dipenjarahkan, disiksa, dan telah dibunuh habis di atas tanah Papua. Kita pun pasti bertanya siapa yang membunuh orang tua kita di atas tanah kita Papua? sebagai generasi muda Papua perlu menyetahui dan sadar bahwa yang dibunuh orang tua kita adalah penjajahan yang kini kita kenal dengan Negara Republik Indonesia. Pasti saja kita bertanya; kenapa orang tua kita telah dibunuh habis-habisan? Orang tua kita dibunuh saat tanah Papua dianeksasi dalam Negara penjajahan “NKRI”.  
    Dan pertanyaan besar yang selalu muncul dalam pikiran kita adalah; kenapa orang tua kita yang tidak tahu membaca dan menulis itu bisa dibunuh oleh penjajahan? Orang tua kita telah dibunuh demi mempertahankan tanah Papua sebagai tanah milik orang Papua ras Melanesia. Orang tua relah berkorban demi mempertahankan tanah Papua sebagai milik orang Papua karena mereka merasa berdosa apabila tanah Papua ini diserahkan kedalam Negara lain yang ber-ras yang berbedah dengan ras Melanesia.

    Namun demikian, pada dunia belakangan ini kita telah melihat dan mendengar bahwa, diatas korbanya orang tua Papua itu, masih banyak anak-anak bangsa Papua yang wajahnya bertopeng dengan wajah penjajahan. Masih banyak anak-anak bangsa Papua yang menari-nari dengan wajah bertopeng dan Masih banyak anak-anak bangsa Papua yang bernyanyi-nyanyi dengan memakai topeng penjajahan.

    Mari kita lihat, saksikan, dan kembali bertanya;
    Apakah benar anak bangsa Papua telah memakai topeng penjajahan? Jawabannya cukup jelas dan mudah sekali kita dapat karena memang hal itu telah terjadi di depan mata manusia dan depan mata alam Papua serta terjadi depan mata tulang-belulang yang ada di bumi Papua. 
    Apakah di kalangan birokrat, orang Papua telah memakai topeng penjajahan? Jawabannya, kita lihat saja bahwa ternyata banyak orang Papua tanpa memikirkan pengorbanan orang tua yang relah mengorbankan nyawa mereka di tangan para serdadu-sedadu itu dan mulia menari-nari dengan bertopeng penjajahan untuk menindas ras Melanesia itu sendiri. Yang menjadi pertanyaan besar adalah, apakah saudara pernah merasa berdosa sejak saudara mengambil dan memakai topeng penjajahan itu untuk menindas rakyat yang sama ras dengan dirimu? Dalam hal ini saya tidak membutuhkan jawaban namun saya hanya mengharapkan agar bisa sadar bahwa orang tua kita telah dibunuh oleh topeng  yang anda pakai saat ini.

    Apakah di kalangan pelajar dan mahasiswa Papua telah memakai topeng penjajahan? Jawabannya kita tidak perlu cari jauh-jauh. Ternyata mahasiswa yang biasa disebut agen perubahan itu saja masih memakai topeng penjajahan untuk menindas teman-teman seperjuangan lain dan menindas rakyatnya sendiri. Yang menjadi pertanyaan besar bagi manusia Papua dan alam Papua adalah? Apakah saudara pernah berpikir bahwa topeng yang saudara pakai atau menggunakan ini tetap akan tercatat dalam agenda Papua dan agenda di surga bahwa “berdosa”?. Apakah saudara pernah bersedih hati atas dibunuhnya orang tua Papua oleh topeng yang anda pakai saat ini? Apakah saudara pernah bersedih hati atas kandungan alam yang dikuras habis oleh topeng yang anda pakai saat ini?. 
    Pertanyaan-pertanyaan diatas ini saya tidak juga membutuhkan jawaban namun saya hanya mengharapkan kesadaran akan diri, kesadaran akan sukunya, kesadaran akan tanah Papua, kesadaran akan bangsa Papua, dan kesadaran akan ras Melanesia. Dengan demikian, sebagai pendidikan politik dan pendidikan kesadaran, saya hanya mau menuliskan sebuh tulisan keprihatinan dan karena adanya rasa nasionalis terhadap rakyat Papua dan alam Papua.
    Tugas pokok pelajar dan mahasiswa Papua adalah, kita sekolah/kuliah bukan untuk menjadi buruh di ladangnya penjajahan, bukan untuk berkarya di ladangnya penjajahan, bukan juga untuk menjadi alat negara dari penjajahan tetapi, ingat pelajar dan mahasiswa Papua sekolah untuk menjadi motoris dalam membawah manusia Papua, alam Papua, dan tulang belulang dari penjajahan. Pelajar dan mahasiswa Papua menjadi agen perubahan dalam menjawab kerinduan alam Papua yang ingin keluar dari penjajahan, untuk menjawab kerinduan dari tulang belulang untuk merayakan sebagai hari pahlawan Negara, dan pelajar dan mahasiswa Papua hadir untuk menjawab kerinduan orang tua “manusia Papua” untuk membawah keluar dari segala penindasan. Bukan untuk memakai topeng penjajahan
    Kawan-kawan pelajar dan mahasiswa Papua perlu ingat bahwa orang tua kita telah dibunuh, alam kita sedang dikuras habis dan kita pun masih dikejar-kejar oleh kaum penjajahan. Apabila ada pelajar dan mahasiswa Papua yang telah menjadi bagian dari penjajahn berarti segera bertobat kembali karena Alam Papua sedang melihat dirimu, tulang-belulang telah menyaksikanmu, dan kerinduan manusia Papua sedang mengejar-ngejar dirimu. Kalau tidak mau kembali untuk merasakan apa yang dirasakan oleh manusia Papua dan alam Papua berarti selamat menanggung dosa umat manusia Papua.
    Kawan-kawan ingat bahwa, kalau kita (pelajar dan mahasiswa) tidak menjadi agen perubahan bagi alam dan manusia Papua berarti kita siap memikul dosa. Kenapa? Karena, apabila generasi kita juga masih saja hidup dalam tekanan, penindasan, dan penjajahan berarti kita telah gagal atau belum mampu mewujudkan Firman Allah yang mengatakan “manusia harus hidup bebas di atas bumi”.  Maka itu. sebagai generasi muda Papua janganlah memakai topeng penjajahan, jangalah menjadi kaki tangan dari penjajahan karena alam Papua masih menyaksikan dirimu, manusia Papua masih melihat dirimu, tulang belulang Papua masih melihat dirimu, dan mata hari  serta bulan dan bintang juga masih menyaksikan dirimu.

    Revolusi ada di tangan pelajar dan mahasiswa maka, jangalah mengambil dan memakai topeng penjajahan yang sedang ditawarkan dengan tingginya nilai mata uang. Stop bertopeng dan mari bersatu mengusir penjajahan di atas bumi Papua sebab bumi Papua itu diciptakan oleh ALLAH untuk manusia Papua bisa hidup dengan besas. Dalam kebebasan itulah manusia Papua bisa berekspresikan hidupnya dan bisa berkarya demi kemulian nama ALLAH Sendiri.


    REPORTER OF TIMIPOTU NEWS
     
     photo bendera-bintang-kejora-dan-cewek-bule-jpg1_zps4a30c64f.jpg
     photo SALAMPEMBEBASANDANREVOLUSI_zpsbdffla8q.gif