Orang Papua Harus Mengerti dan Sadar: Kunci Papua Merdeka ada "di Tanah Papua!" dan "di Tangan Orang Papua!"
Ya, betul, "di Tanah Papua!" artinya di pulau New Guinea, dari Sorong
sampai Samarai, bukan di London, bukan di New York, bukan di Canberra,
bukan di Port Vila, bukan di Suva, bukan, dan bukan, dan bukan. Kuncinya
ada di Port Numbay dan Port Moresby. Kuncinya ada di Manokwari dan Raja
Ampat, kuncinya ada di Biak dan Serui, Mbadlima dan Maroke, Kaimana dan
Numbay Raya, di dalam, di atas Tanah Papua.
Jaringan
Damai Papua mendesak Jakarta, Canberra dan Wellington perlu terlibat
mencari "win-win solution". Makanya mereka "insist", dialogue damai
ialah satu-satunya jalan bagi penyelesaian masalah Papua. Aliran
pendapat ini sangat mainstream, didukung oleh semua organisasi dan
lembaga keagamaan, sebagian besar tokoh agama dan LSM penegak HAM di
Tanah Papua juga mendukung agenda dialgoue. Demikian juga sejumlah
organisasi dan pemerhati HAM di Indonesia.
- Pertanyaan
saya ialah, "Urus masalah apa? Kasus apa? Perkara apa?" Lebih tepat
lagi, "Apa ada masalah antara NKRI dan West Papua?" Kalau ada, mana
masalahnya? Pepera yang tidak demokratis? Pelanggaran HAM selama Orde
Lama dan Orde Baru? Perlakuan tidak adil dalam pembangunan NKRI selama
ini? Keberpihakan yang kurang saat ini? Siapa yang tidak tahu semua ini?
Siapa yang menyangkal semua ini?
- Bukanlah semua
orang mengaku bahwa Pepera 1969 di West Irian tidak demokratis, tetapi
telah disahkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan oleh karena itu sah
demi hukum?
- Bukanlah pelanggaran HAM di Tanah Papua oleh Orla
dan Orba ialah sebuah pelanggaran dan oleh karena itu pemerintahan
reformasi sekarang tidak akan melakukan demikian lagi, dan sebagai bukti
komitmen telah diberlakukan Otsus I, II dan III, dan masih
diperjuangkan Otsus Plus?
- Bukankah keberpihakan terhadap orang Papua di era otsus sudah nampak?
Berpagai organisasi perjuangan Papua Merdeka selalu mengagung-agungkan
Perserikatan Bangsa-Bangsa, katanya Sidang PBB sudah mengagendakan
masalah Papua Barat dan akan segera dibahas di Sidang Umum PBB. Bendera
PBB dipajang ke mana-mana.
Ada yang menghambakan diri dengan
Amerika Serikat, karena mereka melihat urutan pertama ada Tuhan di atas,
setelah itu Amerika Serikat. Apa yang diputuskan Amerika Serikat sama
dengan keputusan Allah, karena akan diterima Australia dan Selandia
Baru, Inggris dan Belanda, dan lainnya.
Ada lagi yang secara
murni percaya, "Yesus akan turun mendirikan Kerajaan Allah di Tanah
Papua, jadi orang Papua tidak perlu buat apa-apa." Kata mereka orang
Papua hanya perlu berdoa, berpuasa. Menurut mereka pula, begitu orang
Papua membunuh orang Indonesia, maka kemerdekaan Papua tertunda 10
tahun, jadi satu nyawa orang Indonesia sama dengan 10 tahun perjuangan.
Pertanyaan buat mereka, berapa harga nyawa orang Papua, 10 tahun atau
tidak ada nilaninya? HItung kematian orang Papua di tangan NKRI, berapa
lama lagi harus kita tunggu?
Kalau saya mau terus terang, saya
harus katakan bahwa cara berpikir "melihat keluar" ialah pertama utama
dan petunjuk pertama bahwa bangsa ini tidak punya jatidiri, tidak
bermartabat, dan karena itu tidak percaya diri. Karena tidak percaya
diri, maka harus mendasarkan kepercayaannya kepada orang lain, bangsa
lain, organiassi lain, negara lain.
Tidak salah lagi Dr. Benny Giay selalu katakan, "
Orang Papua memenuhi syarat untuk dijajah"
karena mentalitas budak masih sangat kental. Para budak tidak percaya
diri, bimbang, ragu, dan bergantung sepenuhya kepada apa dikata tuannya.
Yang mau merdeka bukan Australia, bukan Amerika Serikat, bukan
Allah. Bukan dan bukan. Yang mau merdeka ialah orang Papua, yaitu orang
di pulau New Guinea.
Masalah sekarang orang New Guinea sendiri
yang harus jelas, "Apakah mau merdeka atau mau Otsus Plus?", "Mau
berjuang serius dengan kemajuan yang jelas atau berjuang berputar-putar
seperti lemon nipis dan yosim pancar?", "Percaya diri bahwa dia sendiri
yang mau merdeka dan karena itu dia sendiri yang harus mengakhirinya
atau berharap, berdoa dan berpuasa, agar bangsa lain, makhluk dan oknum
lain, organisasi lain, negara lain turun tangan?" "Sampai kapan bangsa
ini cengeng, minta dialogue, minta dukungan, minta ini dan minta itu?
Perjuangan
ini ada di Tanah Papua, di Tangan Orang Papua. Tetapi kenapa orang
Papua sendiri tidak percaya dirinya, tidak percaya solusi ada di pulau
ini, tidak percaya bangsa bahwa sanggup merampungkan perjuangan ini?
Saya
tahu, bukan dari mimpi, tetapi dari realitas, bahwa Powes Parkop dan
Peter O'Neil akan setuju dengan saya. Selama ini orang Papua di Papua
Barat justru menjagokan, mengharapkan, berdoa kepada pihak lain untuk
terlibat menyelesaikan masalah Papua, tanpa melihat kemampuan dirinya
sendiri, -di sebelah barat sebagai bangsa terjajah, dan pada saat yang
sama di sebelah timur sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.